by

Mengenal Agama Baha’i Sahabat Bagi Para Penganut Semua Agama (Bagian I)

Agama Baha’i adalah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte dari agama lain. Pembawa Wahyu agama Baha’i adalah Baha’u’Ilah (Kemuliaan Tuhan), yang kedatanganNya didahului oleh Bentara-Nya yang bergelar Sang Bab (Gerbang).

“Tujuan dasar yang menjiwai Keyakinan dan Agama Tuhan ialah untuk melindungi kepentingan-kepentingan umat manusia dan memajukan kesatuan umat manusia, serta untuk memupuk semangat cinta kasih dan persahabatan di antara manusia” — Baha’u’llah

Baha’u’lIlah mengumumkan bahwa tujuan agama-Nya adalah untuk mewujudkan transformasi rohani dalam kehidupan manusia dan memperbarui lembaga-lembaga masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip keesaan Tuhan, bahwa dasar semua agama berasal dari satu sumber surgawi, dan persatuan seluruh umat manusia. Umat Baha’i berkeyakinan bahwa agama harus menjadi sumber perdamaian dan keselarasan, baik dalam keluarga, masyarakat, bangsa maupun dunia. Umat Baha’i telah dikenal sebagai sahabat bagi para penganut semua agama.

Ajaran-ajaran agama Baha’i antara lain adalah keyakinan pada keesaan Tuhan, menyelidiki kebenaran secara mandiri, penghapusan prasangka, menjalani kehidupan yang murni dan suci, persatuan umat manusia, kesatuan dalam keragaman, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, pendidikan wajib bagi semua orang, kesetiaan kepada pemerintah, tidak terlibat dalam politik partisan, musyawarah sebagai sarana untuk membuat keputusan, dan pemecahan masalah ekonomi secara rohani. Ajaran-ajaran tersebut ditujukan untuk kesatuan umat manusia demi terciptanya perdamaian dunia.

Sejarah Agama Baha’i

Pada tahun 1863, Baha’u’llah mengumumkan misi-Nya tentang kesatuan umat manusia serta mewujudkan keselarasan di antara agama-agama. Selama 40 tahun, Baha’u’llah banyak menulis wahyu yang diterima-Nya dan menjelaskan secara luas tentang keesaan Tuhan, kesatuan agama, serta kesatuan umat manusia, dalam kurang lebih 100 buku.

Baca Juga: Majelis Rohani Bahai Indonesia Kembali Gelar Doa Bersama untuk Keselamatan Bangsa

Walaupun Baha’u’llah dijatuhi hukuman karena Ajaran agama-Nya, sebagaimana juga dialami oleh para Utusan Tuhan yang lainnya, namun Baha’u’llah terus mengumumkan bahwa umat manusia kini berada pada ambang pintu zaman baru, zaman kedewasaan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, sekarang terbuka kemungkinan bagi setiap orang untuk melihat seluruh bumi dengan semua bangsanya yang beranekaragam, dalam satu perspektif.

Baha’u’llah mengajarkan bahwa semua agama berasal dari satu Tuhan Yang Maha Esa. Semua Utusan Tuhan mengajarkan keesaan Tuhan dan mewujudkan cinta Tuhan dalam kalbu-kalbu para hamba-Nya. Mereka telah mendidik umat manusia secara berkesinambungan ke tingkattingkat yang lebih tinggi dalam perkembangan jasmani dan rohani. Baha’u’llah bersabda bahwa kini saatnya telah tiba bagi setiap bangsa di dunia untuk menjadi anggota dari satu keluarga besar umat manusia dan mendirikan suatu masyarakat sedunia.

Dalam Surat wasiat-Nya, Baha’u’llah menunjuk putra sulung-Nya, “Abdu’l-Baha, sebagai Suri Teladan Agama Baha’i, Penafsir yang sah atas Tulisan Suci-Nya, serta Pemimpin Agama Baha’i setelah Beliau wafat pada tahun 1892 di Bahji yang berada di Tanah Suci. Sejak tahun 2008, makam-makam suci Baha’i telah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.

‘Abdu’l-Baha, Hamba Kemuliaan, pada tahun 1911-1913 melakukan perjalanan ke Mesir, Eropa, Amerika Utara, untuk mengumumkan misi Baha’u’llah mengenai perdamaian dan keadilan sosial kepada umat semua agama, berbagai organisasi pendukung perdamaian, para pengajar di universitas-universitas, para wartawan, pejabat pemerintah, serta khalayak umum lainnya. ‘Abdu’l-Baha, yang wafat pada tahun 1921, dalam surat wasiatnya menunjuk cucu tertuanya, Shoghi Effendi Rabbani, sebagai Wali Agama Baha’i dan Penafsir ajaran agama ini.

Hingga wafatnya pada tahun 1957, Shoghi Effendi menerjemahkan banyak Tulisan Suci Baha’u’llah dan ‘Abdu’l-Baha ke dalam Bahasa Inggris dan menjelaskan makna dari Tulisantulisan suci. Dia juga membantu didirikannya lembaga-lembaga masyarakat Baha’i yang berdasarkan pada ajaran Baha’i di seluruh penjuru dunia.

‘Abdu’I-Baha dan Shoghi Effendi dengan setia telah menuntun Agama Baha’i sesuai dengan ajaran-ajaran Baha’u’llah dan memelihara kesatuan umat Baha’i sehingga tidak akan ada sekte ataupun aliran di dalam Agama Baha’i. Setelah Shoghi Effendi, sesuai dengan amanat dari Baha’u’llah, umat Baha’i dibimbing oleh lembaga internasional yang bernama Balai Keadilan Sedunia. Agama Baha’i pertama kali tiba di wilayah Indonesia pada tahun 1885.

Tulisan Suci Baha’i

Salah satu keunikan Wahyu Agama Baha’i ialah semua Tulisan Suci masih tersimpan dengan baik dalam bentuk asli yang disahkan oleh Baha’u’llah sendiri, sehingga tidak ada keraguan atas keasliannya. Dalam Ayat-ayat Suci-Nya yang diwahyukan antara tahun 1853-1892, Baha’u’llah mengulas berbagai hal, seperti keesaan Tuhan dan fungsi Wahyu Ilahi, tujuan hidup: ciri-ciri dan sifat roh manusia, kehidupan sesudah mati, hukum-hukum dan prinsip-prinsip Agama, ajaranajaran akhlak, perkembangan kondisi dunia serta masa depan umat manusia. Selain dituntun oleh

Tulisan Suci Baha’u’llah, kehidupan masyarakat Baha’i juga dibimbing melalui buku-buku dan  surat-surat yang ditulis oleh ‘Abdu’l-Baha dan Shoghi Effendi. Buku-buku Baha’i kini dapat  dibaca dalam lebih dari 800 bahasa.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Sumber: Buku Agama Baha’i diterbitkan oleh  Majelis Rohani Nasional Baha’i Indonesia, Oktober 2015

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed