by

Mengeksplorasi Kehidupan dan Belajar Memaknainya

Kabar Damai I Selasa, 28 Desember 2021

Jakarta I kabardamai.id I Seorang guru musik, Joe Gardner (Jamie Fox) mendapatkan kesempatan yang paling diimpikannya selama hidup. Di hari yang sama ia pun mendapatkan kepastiaan pekerjaan: menjadi guru tetap di sekolah dengan jaminan kesehatan, asuransi dan pensiun. Jelas sekali, Ibunya meminta dengan keras untuk memilih profesi guru.

Saat yang paling dinantikannya itu, menampilkan Jazz bersama Kuartet Dorothea Williams, Joe harus bernegosiasi dengan kematian. Ia harus menghadapi 22 (Tina Fey), sebuah jiwa yang dalam kurun waktu berabad belum pernah mendapatkan “api” untuk hidup. Joe dan 22 bekerja sama, sampai akhirnya mereka mengerti; bagaimana menjalani hidup bagi Joe, bagaimana siap menjalani hidup bagi 22.

Baca Juga: Dandhy Laksono: Sampah Plastik Penyebab Utama Lautan Terkontaminasi

Film animasi garapan Pixar ini bisa di-streaming melalui layanan aplikasi Video on Demand (VoD) Disney+ Hotstar. Film ini seperti senada dengan salah satu video yang saya tonton di kanal YouTube beberapa waktu lalu tentang mindfulness. Joe menganggap tujuan hidupnya adalah menjadi musisi Jazz. Ia semakin kekeh soal ini saat menjadi mentor di The Great Before (Dunia Sebelum).

Oiya, Joe sangat panik saat menyadari dirinya sudah berada di The Great After, jembatan penyeberangan menuju kematian. Ia berusaha berlari dari itu. Seakan menggambarkan bagaimana kita tidak bisa lari dari kematian. Jatuh ke jurang dan berhasil sampai di Dunia Sebelum, Joe akhirnya belajar bagaimana jiwa-jiwa manusia dipersiapkan sebelum siap dilepaskan ke bumi. Jiwa-jiwa itu diberikan kepribadian-kepribadian dan “Api”.

Sebagai muslim, saya menerima teori ini. Kita memahami bahwa ruh manusia ditiupkan ke dalam janin saat sudah berusia empat bulan. Dan sebelum itu, ruh diajarkan tentang siapa tuhan dan diberi tahu bagaimana hidupnya. Di Dunia Sebelum dapat diibaratkan ketika ruh belum ditiupkan ke dalam janin. Jiwa-jiwa ini diberikan kepribadian dan api untuk hidup. Setelah lencananya penuh, ia siap diterjunkan ke bumi. Api ini menjadi pertanyaan besar bagi Joe, 22 bahkan saya sendiri.

22 adalah sebuah jiwa yang sudah berabad belum menemukan apinya. Ia bahkan sudah dibimbing oleh mentor seperti Mahatman Gandhi, Abraham Lincoln, Bunda Teresa dan tokoh-tokoh besar dunia lainnya, namun semuanya gagal. Joe dan 22 sama-sama keliru mengenai makna api. Mereka memaknainya sebagai tujuan hidup. Saat seseorang memenuhi lencana terkahirnya dengan bermain gitar misalkan, bukan berarti tujuan hidupnya adalah menjadi gitaris.

Mungkin kita pun berpikir demikian akan hidup. Apa sebenarnya tujuan hidup? Apa yang harus diraih? Kedua pertanyaan inilah yang luput dan keliru bagi Joe dan 22. Bahkan bagi manusia yang kini jiwanya telah berada di bumi.

“Api” bukanlah tujuan hidup. Melainkan kesiapan menjalani kehidupan. Dan yang harus diraih dalam hidup adalah menjadi hidup itu sendiri. Kedua hal ini diajarkan melalui interaksi Joe dan 22. Bahwa bagaimana hidup dapat dinikmati setiap detiknya. Bahkan sebuah tarikan nafas, semilir angin yang menggerakkan daun dan daun kering yang layu dan jatuh ke bumi harus disadari. Bagaimana kita menikmati dan menjalani hidup dengan penuh kesadaran setiap detiknya. Agaknya demikian.

Mungkin ada beberapa pelajaran hidup lain dari film animasi satu ini. Tentang bagaimana berinteraksi, memilih topik obrolan, mengejar mimpi dan sebagainya. Film ini layak sekali untuk ditonton, karena selain menghibur, film ini memberikan pelajaran tentang hidup secara bersamaan. Film ini pun layak untuk ditonton oleh semua umur. Oke, selamat menonton!

 

Nama Film      : Soul

Pengisi Suara   : Jamie Fox, Tina Fey

Sutradara         : Pete Docter

Produser          : Pete Docter, Dana Leigh Murray

Produksi          : Pixar Animation Studios dan Walt Disnep Animation Studios

Tanggal Rilis   : 25 Desember 2020

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed