by

Mengapa Pela Gandong Tak Mampu Cegah Konflik Maluku 1999?

Kabar Damai | Rabu, 25 Mei 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Maluku sudah sejak lama memiliki tradisi kearifan lokal pela gandong yang senantiasai mengedepankan relasi persaudaraan lintas desa dapat dua atau lebih yang tahu asal usulnya. Hal ini diungkapkan oleh Pdt Jacky Manuputty dalam kanal Suara Setara.

Pdt Jacky Manuputty, ia adalah seorang pendeta yang juga pegiat perdamaian. Dalam upaya menyemai perdamaian, ia mendirikan dan menginisiasi gerakan peace provocator dan juga mendirikan berbagai model pemajuan perdamaian seperti model manajemen dialog lintas agama dan manajemen dialog lintas komunitas.

Model-model ini juga direplikasi diberbagai daerah di Indonesia dan bahkan negara lainnya. Ia juga mendapatkan perdamaian yaitu Ma’arif Award untuk dedikasi dibidang pembangunan perdamaian dan hubungan antar iman pada tahun 2007, juga peacemaker in action award di Newyork dan lainnya.

“Pela gandong adalah dua model rajutan sosial berbasis tradisi adat istiadat pada masa lampau,” ujarnya.

Pela gandong, kata dia, merupakan sesuatu yang eksklusif untuk keluar, namun inklusif kedalam. Hal ini berhubungan dengan tradisi masa lalu khususnya bagi masyarakat Maluku.

Baca Juga:

Mengenal Tradisi Pela Gandong sebagai Bingkai Persatuan

Lebih jauh, seharusnya tradisi pela gandong adalah simbol persatuan dan bukan menjadi sarana dalam mendorong terjadinya konflik. Namun nyatanya pada tahun 1999, konflik besar terjadi pula di Maluku.

Menanggapi hal tersebut, Pdt Jacky mengungkapkan bahwa karena sekian dekade, tradisi ini mengalami pelapukan dan hidup sebagai tradisi yang namun belum menjadi suatu etika sosial serta terjadinya perubahan tatanan aturan yang membuat berubahnya struktur aturan desa.

Sementara, pela gandong bukan seperti konsep adat yang semuanya terintegrasi dalam semua komponen sehingga dapat kendor. Padahal, sebelum mengalami kekendoran ini pela gandong sempat menjadi pola pengaman dalam banyak hal termasuk agama misalnya.

Dari ikatan yang longgar, ketika ada konflik dan provokasi didorong pada sebuah agama kemudian tidak ada pengaman. Relasi Islam dan Kristen di Maluku yang dikatakan harmonis dapat dilihat seperti relasi yang hanya seolah-olah. Ini karena ada persoalan poskolonial yang hidup dalam narasi-narasi lokal.

Menurutnya pula, segresasi di Maluku juga sedah terjadi sejak masa pendudukan Belanda. Walaupun ada ketegangan pada masa kolonial namun tak begitu kentara. Belanda melakukan segregasi di Maluku, melalui upaya tersebut dahulu Belanda melakukan kontrol selang seling agar mudah melakukan kontrol terhadap wilayah yang didudukinya. Sehingga, potensi terjadinya konflik besar seperti yang terjadi pada tahun 1999 walaupun sudah memiliki tradisi pela gandong.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed