by

Mengapa guru (spiritual) perempuan sangat sedikit jumlahnya?

-Kabar Puan-50 views

Oleh Gayatri Muthari

 

Pertanyaan senada, kerap saya dengar dalam suatu ceramah guru spiritual lelaki terkenal (dari berbagai tradisi agama sampradaya). Seingat saya, biasanya diajukan hadirin perempuan. Tadi, saya juga mendapat pertanyaan senada dari seorang perempuan yang menceritakan suatu kasus pelecehan seksual yang dialaminya.

***

Saya teringat percakapan bertahun-tahun lalu, ketika saya baru saja menerima ijazah, bahwa saya telah layak menjadi mursyid atau syekhah, seorang sahabat berkata, “Menurut saya, seperti yang saya rasakan dari pendapat calon suami saya, Mbak Chen akan lebih terkenal, banyak murid dan banyak pengikut, jika Mbak Chen ini lelaki.”

Ketika saya pertama kali mendambakan pelatihan dan bimbingan spiritual, sekitar tahun 2009, tidak ada satu pun guru lelaki yang membuat saya merasa nyaman untuk belajar dengan mereka: menjadi muhib mereka, atau merasa akan menjadi murid mereka. Yang mula-mula saya lihat apakah dari mereka ada guru perempuan, dan apakah berkeyakinan bahwa tidak ada nabi dan rasul perempuan. Apakah pernah ada kasus pelecehan seksual, atau penyalahgunaan kekuasaan terhadap perempuan di dalam tarekat mereka? Apakah muhib-muhib dan murid-murid perempuan duduk bersama tanpa segregasi dengan para muhib dan murid lelaki? Dan, seterusnya.

Saat mengikuti kuliah Mistisisme Islam, salah satu tokoh Sufi yang bukunya dan karya muridnya saya baca berulang-ulang adalah Irina Tweedie. Dari situ, saya mulai mempelajari Carl Jung dan psikologi. Setelah saya mengalami SLE, saya mulai mempelajari Victor Frankl. Menurut saya, spiritualitas seperti Sufisme, Kabbalah, mistisisme Kristen, Sanata Darma, Zen, dll adalah psikologi kuno, dan saya selalu senang untuk menekuninya. Teologi atau ilmu tentang ketuhanan, sebenarnya tidak begitu menarik buat saya.

Pada suatu malam, tidak berapa lama setelah saya menjadi akrab dengan Syekh Ali Haidar, saya bermimpi ke suatu sungai yang indah, dan mencelupkan kaki saya ke dalamnya dengan perasaan bahagia dan rasa sejuk pada kaki saya. Saya merasa seperti dibaptis di sungai dengan suasana musim semi itu.  Saya rasa, sungai itu, dengan desain jembatannya, dan batu-batunya, ada di Mediterania. Umur saya baru 30 tahun saat itu.

 

Menjadi Seorang Darwis

Dari situlah, saya kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada Syekh Ali Haidar, apakah saya boleh menjadi muridnya? Sejujurnya, saya tidak begitu peduli pada konsep teologinya, kebangsaannya maupun berapa banyak murid dan muhibnya. Saya percaya kepada silsilah sampradaya-nya, dan saya juga merasa semua doktrinnya mengenai kesetaraan manusia, masuk akal. Sebelum berangkat ke Italia pada usia 32 tahun untuk kuliah singkat di dua kampus kepausan di Roma, saya telah memutuskan untuk menjadi seorang darwis — bukan hanya sebagai murid.

Empat tahun kemudian, Syekh Ali Haidar bermimpi duduk di sofa, bersama seekor anjing Chihuahua, yang di dalam mimpi itu adalah anjing peliharaannya. (Dia pernah punya anjing peliharaan Chihuahua). Anjing itu berbicara bahasa Melayu kepadanya, lalu memakan lembaran-lembaran kitab Alquran yang ada pada pangkuannya. Menurut Syekhah Fatimah, anjing itu pasti saya! Kami tertawa. Sejak itu, saya senang saja direpresentasikan sebagai anjing. Terutama anjing Dalmatian karena kulit saya banyak bekas bulla dan blister. Lagipula, dalam tradisi Daudiyah, seorang darwis biasanya menggambarkan dirinya sebagai seekor asu bagi tuannya. Guk! Guk!

Karena mimpi itu, Syekh Ali Haidar, Syekh Lamekh, dan Syekhah Fatimah, konon semakin sependapat bahwa saya telah layak untuk menjadi guru yang mentransmisikan tradisi sampradaya Daudiyah… Umur saya, 36 tahun, dan saya telah kehilangan begitu banyak hal dalam dunia sekular mulai dari kehidupan normal untuk makan dan bekerja karena kesehatan saya, sampai kehilangan banyak sahabat dan teman karena iman dan keyakinan saya.

Para muhib dan murid serta jemaat dari berbagai agama besar dan padepokan atau perguruan terkenal atau dengan jumlah pengikut lebih banyak daripada Daudiyah, selalu menawarkan terapi, pengobatan, doktrin dan ajaran dari guru-guru mereka ke lapak media sosial dan jaringan pribadi saya, entah agar saya sembuh, sehat, atau bersetuju mengikuti keyakinan mereka. Sebagian besar dari mereka adalah lelaki.

Saya sudah sering mengalami perisakan, pelecehan, penolakan (cinta), dan kekerasan dari lelaki. Untuk memulihkan trauma, saya selalu mengambil jalan untuk menghadapi lelaki, dan bukan menghindari mereka.  Tetapi, ada masa selama setahun setelah dimimpikan sebagai anjing nakal yang memakan kitab suci, saya mencoba menjadi mujaradah selama setahun, yaitu berkaul selibat. Pada suatu akhir Maret 2020, lagi-lagi saya patah hati, jadi itu bukan hal yang pertama kalinya dalam hidup saya.

Baca Juga : Kiat Menumbuhkan Empati terhadap Perempuan Korban Kekerasan

Tetapi, mungkin karena saya sudah biasa mengalaminya, saya kemudian justru mendalaminya, sehingga saya pun teringat pada suatu pengalaman pada akhir tahun 2018 ketika saya juga patah hati. Dan, saya patah hati karena orang yang sama. Pada waktu itu, selain menulis sebagai katarsis, saya menghabiskan banyak bacaan mengenai Elia (Nabi Ilyas). Tiba-tiba, saya memiliki suatu pemikiran, dan saya sampaikan kepada Syekh Ali Haidar, bahwa jika saya sanggup menjadi mujaradah, saya tidak ingin menjadi Pengantin Yesus, tetapi Pengantin Elia.

Dengan bergurau, saya berkata, “Yesus sudah memiliki banyak pengantin (saya tidak mau bersaing dengan para suster, biarawati dan perawan berkaul). Enokh terlalu tua untuk saya. Dan, Al-Mahdi adalah kakek moyang saya sendiri!”

 

“Perempuanlah yang Harus Melamar”

Maka, pada tahun 2020 itu, saya kembali menyampaikan perasaan saya itu kepada Syekh Ali, “Tetapi, saya merasa, di antara Empat Mursyid Yang Hidup [the Living Masters], dia adalah yang paling pendiam, dan saya merasa tidak akrab dengannya.” Saya rasa Syekh Ali tertawa meledek saat berkata, “Dalam Islam, perempuanlah yang melamar lelaki.” Saat ia berkata begitu saya tertawa karena merasa ia bertelepati mengatakan, “Kami menunggu kalian melamar kami.” Lalu, saya berkata, “Apa mungkin dia yang tampan, hebat, dan keren itu menerima saya?”

“Dia menerimamu,” katanya. Ha? Saya terkejut. Kata-katanya bukan, “Dia pasti menerimamu.”

Setelah itu, saya merasa yakin… Tetapi, masalahnya, saya tidak tahu bagaimana mengekspresikan atau mengungkapkan tradisi mujaradah ini kepada dunia di luar kami. Karena selalu ditindas dan sering harus berhijrah karena persekusi dan diskriminasi, tidak semua tradisi atau praktek dicatat atau didokumentasikan.

Memang ada suatu doktrin penting, yaitu organisasi haruslah sesederhana mungkin, tidak boleh lebih dari 40 peserta semah (jika lebih akan dibagi dua), dan tidak boleh ada pelembagaan ritus maupun praktek, fatwa dan fikih.

“Tapi, tunggu…!” Katanya lagi. Ya? “Tapi, dia sudah mempunyai istri-istri lain…”

Saya senyap sejenak, tapi akhirnya berkata, “Tidak sebanyak Yesus kan?” (Hahaha!)

Jadi, itu tanggal 20 April 2021 lalu, bersamaan dengan Hari Hidirellez (Idul Khidirliyas) menurut kalender Julian di Eropa (Timur). Dan, saya memilih Amsal 31 sebagai dasar kaul saya sebagai Pengantin Elia. Saya selalu suka Amsal ini: ini Amsal favorit saya. Bertentangan dengan banyak mufassir Alkitab, terutama dari kalangan “Protestan Liberal”, saya merasa Amsal 31 ini adalah mengenai superioritas  perempuan.

Saya melihat pola yang menarik mengenai para guru lelaki dalam Daudiyah. Seperti dalam Alkitab dan Alquran, saya teringat pada Musa yang menjadi mursyid setelah menjadi menantu Shuaib atau Yethro; seperti datuknya Yakub menjadi menantu Laban; Yusuf di Heliopolis  di negeri istrinya Asnath; Daud di bawah asuhan dua istrinya (Abijail dan Batsheba) dalam kerajaan yang diperoleh dari mertuanya Saul (ayah Mikhal); Yesus di rumah ibunya; Muhammad dibimbing Khadijah; dan Ali di rumah istrinya Fatimah.

***

 

Sulit Terbayangkan

Saya jadi berpikir, apa karena itu banyak lelaki dan perempuan patriarkis tidak cocok dalam tradisi Daudiyah? Bagi sebagian perempuan, menjadi superior, dengan kemerdekaan, kemandirian dan kedaulatan penuh, mungkin sulit terbayangkan. Karena merasa harus segala pandangannya ditanyakan kepada lelaki: untuk mendapat persetujuan ayah, abang atau suami, atau kaum lelaki lainnya. Ini baru dalam soal pemikiran dan pandangan, belum soal-soal lain yang lebih asasi seperti hamil dan seks

Mosok disebut setara ketika menikah masih wajib berwali ayah? Seperti kata Rita Maria, sebagian perempuan merasa perlu menggunakan pemikiran dan berlindung di bawah kekuasaan lelaki dalam hal agama, politik dan ekonomi.

Jika memiliki sudut pandang baru banyak hal menarik saya temukan: Enokh dan istrinya Edna adalah arketipe pasangan monogamis yang berupaya memperoleh keturunan – kita menemukannya pada Zakaria dengan Elisabeth, maupun Efraim (Imran) dengan Hannah.  Itu artinya, justru seorang pria harus mengupayakan bersama istri pertamanya untuk memperoleh anak, sedangkan meragukannya akan tergelincir sebagaimana Ibrahim dan Sarah.

Untuk menjadi raja yang hebat dan bijaksana, Sulaiman harus memiliki 1000 garwo (700 padmi, 300 ampil), berarti dia harus diasuh dan dilayani 1000 perempuan, sedangkan Ratu Sheba tidak perlu seorang lelaki untuk menjadi raja hebat dan bijaksana. Meski ditinggal di gurun sendirian, Hajar dapat membangun konfederasi kabilah yang akhirnya menguasai Nabatea, sedangkan Nuh perlu membawa istrinya dan tiga menantu perempuannya untuk menyintas. Untuk menyintas: bangsa Israil membutuhkan Miriam, Deborah, Yudith, Yael, dan akhirnya Ester (Hadassah).

Murid pertama yang ditemui Yesus untuk mengabarkan kebangkitannya (sebagai sang zakur) adalah istrinya sendiri, yang selama ini merawat, menyimak dan mendampinginya, sebab para murid lelaki pasti akan meragukannya dengan aspek logika mereka yang skeptis. Ketika dipersekusi dan diburu Ahab dan Yezebel, Allah malah memerintahkan Elia untuk memohon belas kasih, serta belajar dan melayani seorang janda, bukan seorang raja atau lelaki untuk memperoleh perlindungan dan makanan.

Dan, siapa yang menyelamatkan serta melindungi Al-Mahdi? Ibu, istri-istri dan anak-anak perempuan serta keturunan perempuannya. Bagaimana jika ia seorang perempuan? Apakah para ayah, suami, anak lelaki dan keturunan lelaki akan melindungi dan memelihara istri/ibu/nenek mereka? Dalam kasus Yusuf, petikan kecapi Shirah yang menerima pesan ilahi, telah menguatkan Yakub bahwa Yusuf masih hidup.

Kisah Ruth mengajarkan, Daud secara spiritual berasal dari matriarkat, dan begitu juga Musa, Yakub, Ismail, maupun Ali. Angka empat adalah simbol arah, panduan, bimbingan dan pintu (rohaniah). Empat matriark selalu ada di mana-mana dalam Kearifan Sinai: empat istri Yakub, empat matriark Israil dan empat perempuan penghulu surga.

***

 

Membungkam Matriarkat

Saya ingin menjawab kepada teman saya itu, “Pertama, mungkin karena sebagian lelaki takut. Pengecut. Mengetahui sejatinya perempuan itu superior. Karena superioritas selalu sangat mengerikan jika disalahgunakan. Seperti Delilah, atau Yezebel, atau yang paling ‘regenerasional’ adalah ‘ibu Moab’ dan ‘ibu Amori’, serta Tamar ibu Farez dan Zerah. Jadi, karena itulah yang dicontohkan dalam Alquran adalah fabel mengenai Bilqis (piligesh, yang berarti selir: hubungan sementara dengan suami), dan penguasa-penguasa yang zalim adalah para patriark seperti Si Firaun dan Namrud. Dan, karena itu pula mereka selama 2000 tahun mereka menafsirkan untuk mencegah superioritas itu, membungkam matriarkat yang dipraktekkan generasi Adam dan Hawa seperti jelas terlihat dalam Kejadian 1-3.”

Dan, karena itu, jika ada orang-orang (terutama sekali LELAKI) yang berupaya menggurui saya, merisak saya, menghina saya, atau membungkam saya, karena cara pandang saya yang “beyond the box” dalam hal filsafat, agama, sains, logika, dst, sehingga non-mainstream, tidak populis dan dianggap rumit, dsb: maka saya akan melihat kemarahan, keirian, ketidakberdayaan, dan kelemahan mereka di hadapan superioritas perempuan dalam wujud seorang Gayatri Wedotami alias Hefzibah. Guk! Guk!

Apa hal yang kedua? “Kedua, bicara tentang tuhan versus tidak ada tuhan, dan delusi versus realitas itu sudah terlalu mainstream. Bicara agama dan tidak beragama karena imajinasi dan tidak logis itu juga sudah itu terlalu ngepop. Teisme versus ateisme, itu sudah terlalu kuno. Saya pikir, saat ini saya adalah seorang transteis. Transteisme itu sudah terbukti dengan diciptakannya sel, embrio, air, cahaya, panas, dingin, serta fiksi fantasi dan imajinasi menjadi kenyataan, di tangan manusia.”

“Begitu juga menjadi guru spiritualitas dan manusia sakti: mungkin memang jumlah guru spiritual lelaki harus lebih banyak  karena banyak lelaki lebih goblok dan dungu, dan patriarki harus menang dalam dunia saat ini karena banyak lelaki lebih jahat dan lebih zalim. Justru karena perempuan superior, maka maqam bagi perempuan sudah bukan lagi menjadi guru spiritual. Tetapi, menjadi dewi, atau tuhan. Menjadi tuhan kan tidak selalu kasat mata dan terindra?”

Itu sebabnya, kejahatan dan kezaliman di dunia masih ada, selama masih banyak lelaki tidak mau melayani, mengabdi, mengasihi, berbakti dan mencintai KAMI – para tuhan yang indah ini.

Jika dulu Parwati menciptakan Ganesha sebagai anaknya dari tanah liat (Ibu Bumi menciptakan Pengetahuan dari tanah berwujud separuh manusia, seperuh hewan untuk melindungi-Nya), kemudian Mary Shelley menciptakan Frankenstein yang hidup abadi (dan sekarang manusia semakin terobsesi dengan keabadian dan kecerdasan rekayasa), maka 100 tahun dari sekarang (24 April 2021) seluruh manusia Bumi akan melihat sebagian imajinasi, delusi, halusinasi dan fantasi yang saya tuangkan sebagai doa, puisi, status FB, blog, fiksi, dan dalam buku akan menjadi realitas di Bumi.

 

Merdeka! Mandiri! Berdaulat!

Siddhamastu,

Syekhah Hefzibah ~ RA Gayatri WM.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed