by

Menerima Keragaman di Tengah Majunya Zaman

Penulis: Syafa Rizfika Danti Putri

Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) mengacu pada pengelolaan dan penyampaian informasi pada sarana atau media. Pada zaman modern ini, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sangatlah pesat. Namun bagaimana jika teknologi informasi dan komunikasi menjadi sarana untuk pemersatu, mencegah intoleransi dan menerima keberagaman?

Teknologi informasi menggambarkan perkembangan peradaban manusia dan perkembangan cara penyampaian informasi. Di masa lalu, manusia purba menyampaikan informasi melalui lukisan dinding gua. Sekarang kita dapat dengan mudah mengakses arus informasi melalui Internet.

Awal perkembangan teknologi informasi adalah saat tahun 3000 SM. Saat itu tulisan pertama kali ditemukan oleh bangsa Sumeria. Pada tahun 1910-1920, perkembangan TIK ditandai dengan transmisi suara tanpa kabel melalui siaran radio AM yang pertama. Komunikasi suara nirkabel juga berkembang pesat. Ini diikuti  oleh transmisi audiovisual nirkabel, yang berbentuk siaran televisi pada tahun 1940-an.

Di era modern ini, perkembangan terknologi informasi dimulai dengan adanya koran hingga internet. Sehingga mudah bagi manusia untuk mengetahui informasi dari seluruh dunia. Teknologi informasi dan komunikasi dapat digunakan untuk keperluan pribadi, perusahaan, bahkan dalam pengambilan keputusan pada pemerintahan.

Penggunaan teknologi informasi pada aktivitas sehari-hari sangat penting bagi manusia untuk kehidupan yang jauh lebih baik. Semakin banyak data informasi yang kita miliki, semakin tinggi pula pengetahuan kita. Oleh karena itu, teknologi informasi juga berpengaruh sebagai sarana pemersatu bangsa. Majunya teknologi informasi dan komunikasi suatu bangsa, akan membuat bangsa tersebut semakin maju pula.

Sesuai dengan kodratnya, manusia secara naluriah selalu ingin mengetahui sesuatu yang belum diketahui, baik karena hal itu masih asing baginya maupun dianggap baru. Ragam model komunikasi dan interaksi manusia, khususnya untuk kalangan anak muda pada saat ini tidak lagi dibatasi oleh jarak dan waktu. Teknologi informasi internet telah memudahkan manusia untuk berkomunikasi dengan cepat di alam maya (virtual).

Arus informasi di dunia maya menimbulkan disinformasi yang membelah masyarakat menjadi kutub-kutub homogenitas, sehingga masyarakat tidak terbiasa dengan perbedaan dan tidak terlatih untuk melihat permasalahan dari berbagai sisi. Proses tranformasi berlangsung dengan model komunikasi multilayer telah menghasilkan manusia yang lebih individualisme yang mengarah pada perilaku intoleran dan antisosial.

Kesadaran akan perilaku antisosial generasi milenial harus diwaspadai. Seperti banyak kejadian pada generasi milenial yang meninggal akibat kecanduan berselancar di dunia maya, salah satunya ialah kecanduan game online. Pengertian toleran-intoleran merupakan sebuah tindakan, bukan pemikiran, apalagi aturan.

Baca Juga: Dampak Negatif Perkembangan TIK Serta Cara Mencegahnya

Cohen memaparkan bahwa toleran adalah tindakan yang disengaja oleh seseorang dengan prinsip menahan diri dalam campur tangan atau menentang keragaman, sekalipun orang itu percaya bahwa ia memiliki kekuatan untuk mengganggu. Indonesia mengalami beberapa kasus intoleransi di tahun 2019, setidaknya ada 31 kasus yang sebagian besar berkaitan dengan larangan beribadah.

Dalam konteks mengantisipasi dampak perkembangan TIK yang menghasilkan perilaku intoleransi dan antisosial pada masyarakat, tentu harus terdapat peran agama yang sangat penting. Begitu juga dengan penguatan nilai-niai kebangsaaan seperti penguatan terhadap idoelogi pancasila dan konstitusi. Kemudian kesadaran dari masyarakat sendiri sangat diperlukan, seperti selalu menaati peraturan dan azas hukum yang berlaku.

Seiring berkembangnya Teknologi Informasi Komunikasi dan berkembangnya masyarakat yang semakin kompleks dan mengglobal, akan semakin sulit memisahkan kehidupan modern dari telekomunikasi dan media massa. Oleh karena itu, fungsi komunikasi pun tidak lagi hanya untuk memenuhi kebutuhan informasi dan hiburan, melainkan sebagai sarana pemersatu, pencegah intoleransi dan menerima keberagaman.

Budaya dan komunikasi tidak bisa terpisahkan karena budaya tidak hanya menentukan seseorang berbicara dengan siapa, tentang apa, dan bagaimana cara orang tersebut menyampaikan pesan. Pengembangan perilaku manusia sangat bergantung pada budaya khususnya pada lingkungan dimana manusia itu dibesarkan. Maka dari itu, budaya berperan sebagai landasan komunikasi. Budaya yang beraneka ragam akan berpengaruh pada praktik-praktik komunikasi yang juga beragam.

Berdasarkan artikel diatas, dapat disimpulkan bahwa semakin meluasnya arus informasi ke seluruh dunia dapat menciptakan keseragaman. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi ialah sesuatu yang tidak dapat ditolak peradaban. Adanya perilaku-perilaku intoleransi dan antisosial akan menjadi tantangan bagi generasi mendatang.

Khususnya pada generasi milenial yang harus memiliki bekal penguatan nilai-nilai agama dan kebangsaan agar tidak mudah terjerat kasus-kasus yang berbentuk seperti degradasi moral. Banyaknya kasus intoleransi di Indonesia menjadi catatan penting bagi berbagai pihak seperti pemerintah dan aparat penegak hukum. Upaya tersebut diharapkan dapat membuat Indonesia menjadi negeri yang damai, aman, dan semakin maju.

Menghindari terjadinya ketimpangan antara softskill dan hardskill generasi muda Indonesia, diharapkan pada model pembelajaran untuk generasi muda tersebut selaras antara pengembangan Ilmu Pengetahuan Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan Pendidikan Agama yang dianut. Hal itu memiliki tujuan untuk membangun daya saing SDM Indonesia agar unggul dalam keilmuan, karya-karya ilmiah, dan prestasi lainnya.

 

Penulis: Syafa Rizfika Danti Putri, Siswi SMAN 1 Pontianak

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed