by

Menengok Toleransi di Medan, Masjid dan Gereja Berdampingan

Kabar Damai I Minggu, 04 Juli 2021

Medan I Kabardamai.id I Kerukunan menjadi unsur penting dalam kehidupan manusia. Tidak hanya kerukunan dalam aspek sosial kemasyarakatan namun juga kerukunan antar umat beragama. Hal ini harus dirawat dan dipertahankan agar potensi konflik tidak terjadi di kemudian hari.

Isu agama menjadi hal yang sensitif sehingga potensi konfliknya sangat tinggi. Terlebih, karena berhubungan dengan kepercayaan tentu membuat tingkat simpatisan juga tentu menjadi besar tentunya. Isu-isu tentang perpecahan harus diredam, caranya dengan memupuk kesadaran dan dilakukan oleh semua elemen masyarakat tanpa terkecuali melalui toleransi.

Bentuk toleransi antar umat beragama dapat disaksikan di Pematangsiantar, disana dapat ditemui dua bangunan peribadahan yaitu masjid dan gereja yang dibangun berdampingan. Berdirinya dua bangunan rumah ibadah ini sudah ada sejak lama dan menjadi bukti kerukunan antar umat beragama disana.

Baca Juga: Potret Kampung Toleransi di Bandung, Vihara, Masjid dan Gereja Berdiri bersebelahan

Adapun rumah ibadah tersebut ia;ah Masjid Bakti dan Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI). Letaknya berada d Simpang Pertamina, Kilometer 6 Jalan Medan-Siantar, Pondok Sayur, Kecamatan Martatoba

Saling Mendukung Kegiatan Keagamaan

Memiliki letak bangunan yang sangatlah dekat tentu menjadi tantangan tersendiri bagi dua rumah ibadah dalam menjalankan peribadahan. Terlebih, pada masa-masa tertentu terdapat jadwal ibadah yang pelaksanaannya bersamaan. Walaupun demikian, melalui dialog dan kesadaran bersama mereka bersama-sama mencari jalan dari permasalahan tersebut.

Bentuk saling dukung dalam hal peribadahan ditunjukkan dengan yang dilakukan oleh pengurus gereja melalui merubah jadwal ibadah atau yang dilakukan oleh pengurus masjid dengan tidak menggunakan pengeras suara saat beribadah.

Begitu pula saat terjadi musibah kematian, masing-masing masyarakat akan melakukan takziah tanpa memandang agama yang dianut. Selain melayat, mereka juga saling memberikan bantuan sesuai yang dapat diberikan.

Liputan6.com menuliskan bahwa memelihara kerukunan tidak hanya dilakukan oleh orang tua, melainkan juga anak-anak muda.

Beberapa tahun terakhir, Pematangsiantar mengalami kemunduran dalam penilaian indeks kota toleran. Oleh karenanya, Zulham, masyarakat disana berharap agar kemudian nantinya kotanya dapat menjadi kota paling toleran.

“Kita berharap Pematangsiantar kembali menjadi peringkat pertama dengan toleransi yang tinggi,” tuturnya.

Sumber: Liputan6.com I medan.tribunnews.com

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed