by

Menengok Desa Pancasila di Lamongan

Kabar Damai I Rabu, 23 Juni 2021

Lamongan I kabardamai.id I Desa Balun yang berada di Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan dikenal sebagai salah satu ikon Lamongan yang sudah sampai ke tingkat nasional dan mendunia. Desa Balun juga mendapat julukan Desa Pancasila. Pasalnya, meski warganya majemuk, desa ini memiliki nilai toleransi agama yang tinggi.

Di desa tersebut, dilansir dari beritajatim.com,  terdapat tiga penganut agama sekaligus yang hidup dengan damai dan rukun, yakni Islam, Kristen, dan Hindu. Pesona keharmonisan yang terpancar dari para penganut agama ini menarik perhatian publik. Wajar jika desa ini dinobatkan sebagai desa wisata religi pada 2019 lalu.

Selain itu, tak jarang pula setiap keluarga di kawasan ini ada yang memiliki keyakinan berbeda. Namun, perbedaan itu tidak membuat mereka memutuskan tali silaturahmi. Tak hanya itu, tempat-tempat ibadah di desa ini pun saling berdekatan satu sama lain.

Sementara itu, pada momentum di bulan Pancasila tahun 2021 ini, desa yang memiliki julukan Desa Pancasila ini justru tak semarak memperingatinya. Bahkan, peringatan hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia itu tampak sangat sepi. Terlihat hanya sedikit warga yang riuh memasang bendera merah putih di halaman depan rumah.

Hasil pantauan dari teman-teman wartawan saat mengunjungi Balai Desa Balun, beberapa warga malah tak mengetahui jika tiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila.

Baca Juga: Potret Kampung Toleransi di Bandung, Vihara, Masjid dan Gereja Berdiri bersebelahan

“Wah saya kurang ngerti, sekarang juga kan tanggal merah, Balai Desa sepi libur semua, Pak Kades juga istirahat di rumah,” ungkap salah satu warga di Balai Desa Balun yang enggan disebutkan namanya, Selasa, 1 Juni 2021 lalu.

Selanjutnya, saat Kepala Desa Balun, Kusyairi dikunjungi di rumahnya dan hendak dikonfirmasi tentang hari penting dalam tonggak sejarah berdirinya bangsa Indonesia ini, pihaknya tidak bisa ditemui dengan dalih sedang beristirahat.

Kendati demikian, desa yang dibelah oleh sebuah sungai yang bermuara di Bengawan Solo tersebut selalu menjadi kebanggaan Kabupaten Lamongan, beragam fakta mengenai kerukunan dan kemajemukan di tengah warganya tak bisa dilepaskan begitu saja. Bagaimanapun juga, Desa Pancasila merupakan aset bangsa yang penting untuk dijaga keberadaannya.

Hingga kini, desa tersebut menjadi salah satu percontohan dalam menjaga toleransi antar umat beragama di Indonesia, bahkan dunia. Di desa ini kerap diadakan agenda tahunan semacam pawai Ogoh-ogoh, kesenian Karawitan, dan budaya lainnya yang banyak digali dan dikunjungi oleh masyarakat dari Lamongan maupun luar Lamongan.

Perkuat Kerukunan

Untuk menjaga kerukunan di Lamongan, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Bakesbangpol bekerjasama untuk mewujudkannya. Hal ini terlihat saat  Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Lamongan, Hari Agus Santa Pramono didampingi Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Lamongan, KH. Masnur Arief mengunjungi tempat ibadah umat Kristiani Gereja Cangkring di Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan.

Dilansir dari jatimpos, Kunjungan tersebut dilaksanakan dalam rangka Penguatan Kerukunan dan Toleransi Antar umat Beragama di wilayah Kabupaten Lamongan.

Menurut KH. Masnur Arief bangsa Indonesia terlahir dari Kemajemukan, untuk itu sangat penting menjalin kerukunan antar umat beragama.

“Bangsa Indonesia memiliki latar belakang yang majemuk, Bhinneka Tunggal Ika dimana persatuan adalah harga mati, Persatuan dapat dibangun dengan kuat melalui persaudaraan saling cinta dan menyayangi antar sesama,” ujar KH. Masnur Arief. Rabu, 29 April 2021 lalu.

Masnur Arief menambahkan bahwa kehidupan yang aman dan damai kuncinya adalah melalui kerukunan.

“Kerukunan adalah Hidup dalam situasi iklim yang damai akan melahirkan hidup yang aman, dapat berdampingan dengan harmonis, saling tolong menolong tanpa memperhatikan latar belakang Agama, Ras dan Suku,” ujar KH. Masnur Arief.

Sementara itu, Kepala Bakesbangpol Lamongan Hari Agus menambahkan kunjungan tersebut juga di maksudkan untuk sosialisasi tentang penegakan Protokol Kesehatan Covid-19 di tempat-tempat ibadah.

“Pandemi Covid-19 ini jangan sampai mengakibatkan penurunan kerukunan di masyarakat namun jadikanlah wabah ini sebagai motivasi semangat menjalin kerukunan antar sesama,” ujar Hari Agus.

Kabupaten Lamongan sudah keluar dari Zona PPKM (Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) berkat dukungan dari masyarakat yang selalu disiplin menerapkan Protokol Kesehatan Covid-19 juga menggalakkan Gerakan 3M (Memakai Masker, Mencuci Tangan dan Menjaga Jarak).

“Untuk itu kami perlu meninjau langsung bagaimana penerapannya di rumah rumah ibadah,” tandas Hari Agus. [beritajatim/jatimpos]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed