Menelusuri Desa Majemuk Lereng Ungaran

Opini1049 Views

Oleh : Ainul Yaqin

Udara yang begitu sejuk khas dataran tinggi menyapa reporter kami sesampai di Desa Candi Garon. Hijaunya ladang perkebunan di kanan-kiri jalan menjadi pemandangan tersendiri bagi kami. Tampak pula dari kejauhan para petani berbondong-bondong menggendong tas anyaman bambu di punggung mereka, menandakan musim panen telah tiba. Di tambah kicauan burung kutilang dan suara kera-kera liar mengisyaratkan bahwa daerah ini belum terjamah oleh industri.

Baru kami menginjakkan kaki, hujan gerimis mengguyur. Kabut pun mengaburkan jarak pandangan mata. Seolah-olah pagi itu awan hitam pekat menyulap Desa Candi Garon Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang menjadi senja. Kami pun mampir ke rumah Mugiyo salah satu warga (penganut) Sapta Dharma untuk bersilaturrahmi sekaligus sekedar selonjoran kaki menghilangkan kesemutan karena perjalanan jauh. Tak lama berselang Titarno dan Yoko yang juga warga (penganut) Sapta Dharma turut menjumpai kami.

Ucapan selamat datang mereka sematkan dengan menyuguhkan beberapa hidangan. “Kami senang sekali ada orang yang berkunjung kesini. Disini masyarakatnya beragam agamanya mas. Ya ada Islam, Budha, Kristen, Katolik bahkan kepercayaan Sapta Dharma seperti saya ini”, ucap Titarno di sela-sela menyeduh tehnya.

Cara warga Desa memandang kami pun sangat ramah, seolah-olah kami sudah menjadi penduduk asli daerah ini. “Orang-orang disini baik-baik mas. Apalagi kalau ada tamu yang berkunjung. Kami sangat memuliakannya. Karena dalam setiap ajaran mengajarkan bahwa ketika kita memuliakan tamu, maka kita telah mengamalkan salah satu ajaran agama kita”, imbuh Titarno.

Cara Mengekspresikan Agama


Tri Utami merupakan salah seorang warga yang bisa dibilang teguh ajaran agamanya. Selain itu, sosok Tri adalah satu dari sekian warga Desa Candi Garon yang mempunyai cara tersendiri dalam mengekspresikan agamanya. Ibu berambut pendek ini pada tanggal 26 April lalu bagi-bagi uang (sedekah) ke tujuh rumah ibadah yang berbeda agama dan kepercayaan di Desa ini.

Tri sengaja membagi-bagikan uang ini sebelum melangsungkan akad nikah anaknya bernama Ida Khoirunnisa yang akan melangsungkan pernikahannya dengan Otnial Purniawan. Ia meyakini bahwa ketika berbuat baik dengan bersedekah, maka akan dibalas dengan balasan berlipat ganda. “Kalau saya hanya mendatangkan tontonan Orkes, mungkin ketika maeninggal Orkesnya saja yang dikenang masyarakat. Tapi kalau saya bersedekah ke tempat-tempat ibadah, meskipun saya sudah meninggal tapi masyarakat akan selalu mengenang amal budi saya. Toh, kita juga harus nabung mulai dari sekrang untuk akhirat nanti”, tuturnya.

Alasan Tri untuk bersedekah di rumah–rumah ibadah juga sangat menarik. Menurutnya, semua agama itu baik, yang tidak baik adalah orangnya. Agama apapun akan menunjukkan sebuah kebenaran bagi pemeluknya. “Jadi tujuan saya bersedekah ke rumah-rumah ibadah itu untuk semangat kerukunan antar umat beragama mas”, pungkasnya.

Miniatur Indonesia Kecil


Warga Desa Candi Garon memang sangat beragam. “Di Desa Candi ini penduduknya beragam. Ada yang memeluk Islam, Kristen, Budha, Katolik dan Kepercayaan Sapta Dharma. Termasuk di Dusun Candi”, Tutur Kepala Dusun Candi, Eko Sugianto saat ditemui di peternakan ayamnya.

Dusun Candi sendiri terdapat 230 Kepala Keluarga (KK) dengan penduduk sekitar berjumlah sekitar 350 orang.  Warga yang beragama Islam sekitar 100 KK lebih, penganut agama Budha sebanyak 60 KK, penganut Kepercayaan Sapta Dharma sebanyak 35 KK, dan penganut agama Kristen sebanyak 20 KK. Dalam Dusun Candi sendiri terdapat 4 Vhihara, 2 Gereja, 1 Masjid, dan 1 Sanggar.

Baca Juga: Menengok Desa Pancasila di Lamongan

Hal ini sangat mencerminkan bahwa betapa beragamnya masyarakat Desa Candi Garon. “Agama disini santai-santai saja, namun tidak mudah mewujudkan kerukunan di masyrakat yang berbeda-beda latar agama dan kepercayaannya itu” imbuhnya. Baik dari golongan tua ataupun muda, sangat terlihat jelas jalinan kekeluargaannya meskipun meskipun berbeda agama ataupun kepercayaan. “Masyarakat disini meskipun agamanya berbeda-beda tapi biasa gotong royong mas buat bangun rumah ibadah. Tak jarang juga kadang saya sebagai warga (penganut) Kepercayaan Sapta Dharma turut membantu menggali kubur buat pemakaman warga Islam” timpa Titarno.

Mengedepankan Maslahah


Sebagai seorang Kepala Dusun, bagi Eko Sugianto tentunya tidak semudah membalik telapak tangan untuk mengayomi masyarkatnya yang plural. Eko harus pintar-pintar menempatkan posisi dirinya di tengah-tengah masyrakat. “Kita (perangkat) harus bisa menempatkan diri. Sebagai Kadus tidak boleh ngadus-I salah satu golongan (agama) saja. Selama saya dapat undangan acara, saya tetap menyempatkan untuk hadir”, ucapnya.

Tak jarang Eko mengalami kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan warganya. Permasalah itu adalah adanya pengajuan izin untuk mendirikan tempat ibadah baru. Dalam hal ini Eko harus berpikir dua kali untuk memberikan izin, pasalnya dalam Dusun tersebut sudah terdapat rumah ibadah. Seangkan dalam aturan pemerintah sendiri mengaskan bahwa tidak diperbolehkan membangun dua rumah ibadah dalam satu tempat secara berdekatan dan minimal mempunyai sekurangnya 90 jama’ah. Maka dalam maslah ini aparatur desa harus turun tangan.

 

“Segala keputusan yang diambil semata-mata untuk menjaga kerukunan warga. Meskipun bisa dikatakan kalau aparatur desa melangkahi aturan pemerintah. Kebijakan ini dibuat dengan untuk memper-erat kerukunan antar warga, agar tidak ada kecemburuan satu sama lainnya” pungkasnya sekaligus mengakhiri tulisan ini.

Oleh : Ainul Yaqin

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *