by

Mendudukkan Hierarki Realitas

Oleh: Muhammad Sidratul Muntaha Idham

Beberapa waktu lalu, kitab suci hangat diperbincangkan. Kitab yang dianggap sebagai wahyu Tuhan dan absah kebenarannya digonjang-ganjing dengan pernyataan bahwa kitab tersebut adalah fiksi. Wilayah dan batas antar realitas dan fiksi pun ikut diperdebatkan. Apa itu realitas? Apa itu fiksi?

Yuval Noah Harari, seorang sejarahwan dan pengarang buku Sapiens menyatakan bahwa realitas terbagi menjadi tiga. Pertama, realitas objektif, yaitu realitas yang dapat ditangkap oleh instrumen inderawi. Realitas objektif harus dapat dilihat, dicium, didengar, dirasa, dan diraba.

Hal ini kemudian didukung oleh ilmuwan saintifik, positivist, empiris, dan lain sebagainya. Karena dengan menyandarkan realitas ini pada objektivitasnya, realitas mampu diprediksi, dimanipulasi dan direkayasa. Tentunya dengan metode penelitian tertentu, pengukuran yang disepakati, dan logika ilmiah yang konsisten.

Kedua adalah realitas subjektif. Realitas subjektif berkaitan dengan persepsi kita terhadap suatu objek, misalnya selera. Selera adalah subjektifitas yang tidak ada sama sekali pada objek tertentu, namun ada dalam persepsi dan realitas imajinatif atau subjektif dalam pikiran kita. Contohnya terkait selera makan, musik dan lain sebagainya.

Realitas ini karena subjektifitasnya, tidak dapat diukur, direkayasa atau dimanipulasi seperti realitas objektif. Karena realitas ada dalam konsepsi masing-masing individu.

Kemudian yang ketiga adalah realitas intersubjektif. Realitas intersubjektif adalah realitas yang tidak bersandar pada suatu objek namun diamini oleh banyak orang, misalnya uang. Uang yang berada dalam dompet kita, objektifnya hanyalah sebuah kertas atau koin. Tapi nilai tukar yang ada di dalamnya berada pada wilayah intersubjektif kita.

Baca Juga: Reorientasi Islam Indonesia

Nilai dari uang tersebut tidak ada di dalam realitas objektif. Seberapa keras pun usaha kita menyobek, mempreteli dan membedah kertas atau koin yang kita gunakan sebagai alat tukar, kita tidak akan menemukan nilai di dalamnya. Karena nilai itu adalah “cerita fiksi” yang kita yakini bersama. Jika cerita fiksi itu sudah tidak diamini atau tidak dipercayai, maka tidak lagi bisa dikatakan sebagai realitas intersubjektif dan musnah kebenarannya.

Hal lain seperti nilai, budaya dan agama juga realitas yang berada di ranah intersubjektif. Namun menurut Harari, kita seringkali sulit membedakan realitas objektif dan intersubjektif karena realitas intersubjektif sudah melekat pada diri kita dalam kehidupan sehari-hari. Karena sudah disepakati bersama, maka diyakini pula sebagai kebenaran yang objektif.

Seringkali diperdebatkan adalah bagaimana hirarki kedudukan realitas tersebut. Apakah realitas objektif patut untuk dikultus karena mampu diprediksi, dimanipulasi dan direkayasa sehingga menguntungkan kita? Atau realitas subjektif karena subjektifitas adalah keotentikan dan ekspresi diri kita di tengah realitas lainnya? Atau realitas intersubjektif yang diyakini dan diamini bersama?

Pengkultusan terhadap realitas objektif yang didukung oleh aliran saintis dan filsuf positivistik belakangan ini menjadi trend bagi masyarakat modern. Bahkan, bukan hanya alam yang menjadi objek dari aliran ini, tapi masyarakat pun harus bisa diobjekkan, bebas dari nilai dan subjektifitas individu.

Aliran ini mendapat banyak kritikan. Seperti yang dikemukakan Bagus Kribo –filsuf LPM ARENA– dalam tulisannya yang berjudul Krisis Paradigma Manusia Terhadap Alam bahwa pandangan ini dikritik oleh Thomas Kuhn dan Fritjof Capra karena melahirkan sikap dominasi, anti-ekologi, eksploitatif dan juga merusak. Karena alam dianggap sebagai mesin yang berfungsi secara mekanistis tanpa punya nilai pada dirinya sendiri.

Kritik serupa terhadap aliran ini juga dilontarkan oleh filsuf teori kritis yang mengkritk positivisme yang juga memandang hubungan sosial masyarakat sebagai objek dan harus bebas dari nilai subjektifitas. Implikasinya, mengobjekkan masyarakat akan melahirkan dominasi dan terpinggirnya masyarakat yang dianggap tidak mapan.

Belakangan filsuf teori kritis Jurgen Habermas, mengajukan sebuah solusi yaitu teori komunikasi yang memungkinkan adanya ruang publik bersifat emansipatoris dan bebas dari distorsi doktrin dominan yang dianggap mapan.

Kesimpulan yang diungkapkan oleh Kuhn, Capra dan filsuf teori kritis, secara tidak langsung mengangkat hirarki realitas subjektif dan intersubjektif di atas realitas objektif. Apakah realitas objektif yang mekanistis memang sudah usang? Atau bisa jadi mendudukkan hirarki realitas juga tidak relevan karena hal itu bersifat subjektif pada dirinya sendiri?

Terlepas dari itu, kehidupan manusia di ketiga realitas itulah yang menjadikannya unik. Makhluk lain hanya hidup dalam realitas objektif. Mereka beradaptasi dan berinteraksi dengan alam hanya karena fungsi-fungsi biologis yang ada pada dirinya sedangkan manusia lebih dari sekedar menggunakan fungsi biologis. Selain juga berimajinasi dan hidup di luar realitas objektif yang diciptakan sendiri untuk melanggengkan kehidupannya.

Kembali pada permasalahan kitab suci. Jika yang dimaksud fiksi adalah realitas intersubjektif, apakah itu semata-mata merendahkan kebenarannya? Ketiga realitas tersebut berada pada wilayah kebenarannya masing-masing. Tidak ada satupun yang merupakan kebohongan, karena tak dapat dipungkiri, manusia memang hidup dalam ketiga realitas tersebut.

 

Muhammad Sidratul Muntaha Idham, adalah mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed