by

Mendengarkan Suara Tuhan dalam Diri Sesama

Oleh: ListyaningsihS.H.

Bacaan Injil hari ini, Yoh.10:27-30 mengisyaratkan bahwa salah satu sikap orang beriman adalah keinginan dan kerinduan untuk mendengarkan suara Tuhan (Firman Tuhan). Dengan mendengarkan Firman Tuhan secara sungguh-sungguh, disertai semangat untuk melaksanakan atau mewujudkan dalam kehidupan sehari-hari, niscaya kita akan memperoleh kedamaian dalam hidup.

Bahkan Tuhan Yesus menjanjikan keselamatan, bagi semua orang yang mau mendengarkan dan mengikuti Dia. “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku; Aku mengenal mereka, dan mereka mengikuti Aku. Aku akan memberikan hidup yang kekal kepada mereka…” (Yoh.10:27-28).

Ayat ini menggambarkan adanya hubungan yang erat mesra antara Sang Gembala dan domba-domba gembalaan-Nya. Sikap mendengarkan mengandung makna bahwa domba-domba memahami dengan pasti maksud suara Sang Gembala yang akan membawa pada keselamatan kekal. Demikian pun Sang Gembala mengenal domba-domba dengan baik, pribadi lepas pribadi diperhatikan dengan penuh kasih sayang.

Teks Injil hari ini mengungkapkan pula betapa pentingnya keterbukaan hati dan kerelaan untuk dipersatukan oleh Tuhan Yesus dalam Gereja-Nya yang Kudus, bagaikan kawanan domba dengan satu Gembala. Tuhan Yesus menghendaki seluruh umat-Nya bersatu dengan diri-Nya melalui proses mendengarkan suara Tuhan dan mengikuti-Nya dengan setia dan tekun. Hanya dalam persatuan dengan-Nya seluruh umat beriman diberikan karunia hidup yang kekal.

Baca Juga: Perjumpaan Dengan Yesus Membawa Transformasi

Melalui sabda dan karya-Nya, sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus Kristus Sang Gembala Sejati telah memberikan diri-Nya untuk keselamatan semua orang, teristimewa untuk mereka yang percaya kepada-Nya. Iman akan Yesus Kristus akan bertumbuh melalui sikap keterbukaan hati, kerelaan untuk mendengarkan suara Tuhan dan mengikuti-Nya dalam kesetiaan.

Menarik untuk kita renungkan konsep persatuan ini bila kita wujudkan dalam hidup berkeluarga, komunitas, maupun lingkungan pekerjaan kita masing-masing. Keluarga akan bersatu, sehati-sejiwa, hidup harmonis bila masing-masing anggotanya menyadari perlunya sikap saling mendengarkan, saling menghargai dan melayani dalam ikatan cinta. Demikian pun akan terjadi dalam komunitas, lingkungan kerja, bahkan di dalam masyarakat luas.

Menyadari bahwa kita adalah kawanan domba yang telah dipersatukan dalam Gereja Kudus-Nya, marilah kita membangun sikap untuk selalu rindu mendengarkan suara Tuhan (sabda kasih Tuhan). Dengan hati yang rindu dan terbuka, marilah kita memberi diri untuk dipersatukan dalam kasih-Nya yang membawa kita pada keselamatan kekal. Alangkah baik dan bijak bilamana kita bersedia untuk mengimplementasikan sikap mau mendengarkan suara Tuhan ini dengan kesediaan untuk mau mendengarkan sesama kita dalam kehidupan sehari-hari di mana pun kita berada.

Perlu kita bangun budaya mau mendengarkan sesama yang kita pandang rendah dari diri kita: orang tua terhadap anaknya, guru terhadap muridnya, pimpinan terhadap bawahannya. Karena kita percaya bahwa Tuhan Yesus hadir di dalam diri sesama yang kita pandang hina, rendah, miskin, dan terbelakang. Tuhan Yesus memberkati.

 

ListyaningsihS.H. (Kabag Keuangan)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed