Mencegah Paparan Radikalisme dengan Berpikir Rasional

Kabar Utama276 Views

Oleh: Mohammad Raihan

Ngomongin perdamaian sepertinya tidak akan pernah habis, karena sampai saat ini masih banyak terjadi intoleransi antar sesama, antar agama. Berbicara tentang intoleransi antar sesama, antar agama, saya dulu adalah orang yang seperti itu. 

Belajar agama secara independen hingga akhirnya saya merasa lebih baik dari orang lain, orang lain salah saya yang benar. Puncaknya pada tahun 2015, saya dan keluarga pergi “berhijrah” dari indonesia menuju ISIS, dengan embel-embel hidup dibawah naungan Manhaj Nubuwwah (Manhaj Nabi). 

Semua dijual, rumah, mobil, dll. “Berhijrah” dari Indonesia dengan harapan bisa hidup dibawah naungan Manhaj Nabi, tapi ternyata tidak sesuai dengan propaganda yang ada diinternet. Kehidupan indah yang dibayangkan, ternyata hanya propaganda belaka, tidak seindah yang diinternet.

Hanya janji-janji manis belaka, 1 tahun 10 bulan di Raqqa, ibukota ISIS. Saya melihat banyak yang tidak sesuai dengan apa yang mereka (ISIS) janjikan, kesenjangan sosial antara ISIS dan rakyat sipil, pemaksaan terhadap rakyat sipil, mengkafirkan orang lain, bahkan membunuh sesama muslim.

Baca Juga: Menghadapi Quarter Life Crisis: Keresahan Mencari Arti Kehidupan

Singkat cerita, dari hal-hal yang sesuai itu kami memutuskan untuk kembali ke Indonesia, kami mencari jalan kurang lebih 1 tahunan, hingga akhirnya bisa menginjakkan kaki lagi di Tanah Air.

Dari pengalaman saya ini, saya berfikir bahwa anak muda memang harus bisa berfikir kritis dan rasional, karena diluaran sana banyak sekali kelompok-kelompok intoleran yang bertebaran, tapi mereka bisa membungkusnya seolah itu adalah yang terbaik.

Nyatanya menjadi intoleran itu tidak ada baiknya sama sekali, kita jadi mengkotak-kotakkan suatu golongan, merasa benar sendiri dan yang lain salah, puncaknya adalah bisa menjadi terorisme.

Dalam kitab saya, Al-Qur’an, sudah dijelaskan “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (Al-Hujurat 49, Ayat 13)

Sudah jelas bukan, bahwa kita ini memang sudah ditakdirkan berbeda-beda, berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku agar kita saling mengenal, dari kita saling mengenal itu kita bisa saling menghargai, dan kita bisa menjadi orang yang toleran. Anak muda harus bisa menjadi pribadi yang toleran, pun saya sendiri masih belajar agar bisa menjadi lebih toleran lagi.

Mohammad Raihan, Eks Napiter ISIS dan Peserta Sekolah Kepemimpian Pemuda Lintas Agama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *