by

Mencegah Maraknya Perundungan Secara Langsung Maupun dari Balik Layar

Oleh: Rizqky Adhitama

Teknologi informasi menggambarkan perkembangan peradaban manusia yang diiringi melalui perkembangan cara penyampaian informasi. Dulunya manusia purba menyampaikan informasi melalui lukisan di dinding-dinding goa. Sekarang arus informasi sudah bisa diakses dengan mudah melalui internet. Begitu pula ragam informasinya, masa sekarang semakin banyak informasi yang diserap. Internet seolah mampu memberikan informasi tanpa batas.

Namun, hal ini tidak dirasakan pada zaman lampau. Pada awal sejarah, bahasa dipakai sebagai alat tukar informasi. Hanya saja, bahasa lisan memiliki kelemahan yakni informasinya mudah dilupakan dan tidak bisa disimpan lama, termasuk ada keterbatasan jangkauan suara. Lalu, sedikit lebih maju, informasi berkembang menggunakan gambar dari zaman purba sampai sekarang. Sejak ditemukan alfabet dan angka arabik, penyampaian informasi berjalan lebih efisien. Alfabet memudahkan manusia untuk menyampaikan informasi melalui tulisan.

Saat ditemukan teknologi pencetakan, informasi menjadi lebih mudah disebarkan. Hal serupa juga terjadi ketika mulai muncul radio, televisi, hingga komputer yang membuat informasi menyebar jauh lebih luas jangkauannya. Setelah itu, teknologi informasi menjadi suatu disiplin ilmu yang penting. Teknologi informasi merupakan sebuah teknologi yang digunakan untuk mengolah data, meliputi memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dengan berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas.

Dengan berkembangnya teknologi dan komunikasi, ada beberapa hal juga yang ikut berkembang yaitu bullying dan cyberbullying. Bullying sendiri merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus. Sementara itu, cyberbullying adalah adalah segala bentuk kekerasan yang dialami anak atau remaja dan dilakukan teman seusia mereka melalui dunia maya atau internet.

Sebelum teknologi komunikasi berkembang seperti sekarang, kasus bullying juga sudah ada baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan sekitar. Baik itu bully yang bersifat fisik maupun verbal. Seperti namanya bullying secara fisik dilakukan oleh pelaku langsung kepada fisik korbannya seperti memukul, mendorong, dll. Lalu bullying secara verbal tidak dilakukan secara fisik atau langsung melainkan lewat perkataan contohnya hinaan dan cacian.

Baca Juga: Pencegahan Kekerasan Seksual, Perundungan, dan Intoleransi di Sekolah Menengah Atas

Mungkin bullying secara verbal terdengar tidak terlalu parah, namun Dilansir dari situs bullyingstatistic.org, bullying verbal memang dapat memengaruhi citra diri seseorang dan mempengaruhi emosi juga kondisi psikologis. Intimidasi verbal juga dapat membuat percaya diri seseorang menurun bahkan sampai mengarah pada depresi. Dalam kondisi yang ekstrem, korban kekerasan verbal dapat melakukan bunuh diri. Dari penjelasan tersebut cukup menjelaskan bahwa kata-kata bisa menjati senjata yang sangat berbahaya bahkan menghilangkan nyawa.

Di era modern adanya telepon genggam membuka gerbang baru untuk berkomunikasi dan mengakses informasi. Adanya media sosial memudahkan kita untuk sekedar mengobrol maupun bertukar informasi dengan teman kita maupun orang asing. Namun dari sini lah asal muasal timbulnya kasus cyberbulying.

Menurut laporan United Nations Children’s Fun (UNICEF) pada tahun 2016, korban cyberbullying di Indonesia mencapai 41-50 persen (Harususilo, 2018). Selain itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan bahwa para pelajar di sekolah rentan menjadi korban cyberbullying. Per tanggal 03 September 2018 pukul 18.00 WIB, KPAI melaporkan bahwa kasus yang berhubungan dengan dunia maya telah melibatkan 3.096 remaja. Dari jumlah tersebut, terungkap data korban kasus bullying di media sosial sebanyak 83 remaja, dengan jumlah remaja laki-laki sebanyak 32 dan perempuan sebanyak 51.

Karena tidak bertemu secara langsung para oknum merasa bebas dan aman untuk menyampai sesuatu bahkan membully orang lain melalui media sosial. Ditambah lagi akun media sosial tidak harus menggunakan foto dan informasi asli diri kita. Hal-hal tersebutlah yang membuat para oknum berani untuk melakukan cyberbullying. Padahal mereka sendiri tahu bahwa perilaku cyberbullying tidaklah baik.

Masih ada cara yang dapat dilakukan agar anak tidak menjadi pelaku cyberbullying. Seperti:

  1.  Tetapkan batas waktu layar dan kontrol akses ke internet

Sangat penting bahwa rumah menjadi tempat yang paling aman bagi setiap anggota keluarga. Orangtua perlu mewaspadai setiap pergaulan, aktivitas, hobi, dan mengontrol cara anak mengakses berbagai platform media sosial.

Membatasi akses ke Internet untuk apa yang diperlukan, seperti untuk pekerjaan sekolah dan beberapa waktu luang adalah ide yang tepat.

Orangtua juga dapat meletakkan komputer dan laptop di area umum rumah, alih-alih di kamar tidur anak. Dengan cara ini, orangtua dapat dengan mudah memeriksa dan membimbing anak dalam menavigasi ke situs web yang aman dan ramah anak.

  1.  Mengajarkan anak cara menggunakan media sosial dengan cara yang sehat

Salah satu cara terbaik untuk mencegah cyberbullying adalah membuat remaja benar-benar memahami cara kerja berbagai platform media sosial. Ketika Mama mulai memberikan ponsel kepada anak, ini memberikan anak akses tanpa batas ke Internet.

Dilansir dari Kids Health, maka penting bagi orangtua untuk mempelajari seluk beluk media sosial. Kemudian meluangkan waktu untuk membimbing anak dan remaja muda dengan benar seputar menggunakan Internet dan media sosial dengan cara yang sehat

  1. Mengajarkan anak untuk bertanggung jawab atas perilaku dan keselamatannya di media sosial

Ketika anak-anak, baik tua dan muda, diberi kebebasan untuk menjelajahi Internet tanpa batas, banyak bentuk ancaman yang tak terhindarkan.

Oleh karena itu, orangtua harus mengajari anak untuk bertanggung jawab atas perilaku dan keselamatannya sendiri, terutama di media sosial. Dengan memerhatikan hal-hal yang dilakukan secara online, waspada, curiga, dan peka terhadap berbagai pengaruh negatif.

Penindasan dalam bentuk apa pun tidak dapat diterima dan selalu menyakitkan. Maka anak harus diajari untuk memahami bagaimana rasanya diintimidasi. Karena ini membuat orang lain merasa buruk tentang diri mereka sendiri, dan ini sulit untuk kembali baik-baik saja.

Selain itu sekolah juga seharusnya memberikan pengetahuan atau seminar tentang bullying kepada murid-muridnya agar mereka lebih paham bahaya dan cara mengatasi bullying.

Sebagai generasi penerus, sudah seharusnya kita bisa mengurangi bahkan menghentikan bullying baik di dunia maya maupun di sekolah. Karena bayak sekali dampak negatif yang diakibatkan, baik fisik maupun mental. Dengan majunya teknologi komunikasi seharusnya visa kita manfaatkan untuk melakukan hal yang lebih positif dan bermanfaat.

 

Oleh: Rizqky Adhitama, Siswa SMAN 1 Pontianak

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed