by

Mencegah Konflik Nasional dan Internasional

Oleh: Azyumardi Azhar

Manusia dan peradaban manusia sendiri tidak dapat dipisahkan dari yang namanya konflik, baik itu manusia dengan mahluk lain maupun manusia antar manusia.

Maka dari itu seiring perkembangan zaman, manusia terus berinovasi menemukan senjata-senjata baru atau bahkan menemukan varian yang lebih baik dari senjata sebelumnya.

Perkembangan perkembangan yang dilakukan manusia itu terus berevolusi hingga sekarang, dari yang dulunya menggunakan kayu dan batu hingga penemuan – penemuan canggih seperti bom atom dan senapan serbu, yang bakal kita bahas secara mendetail setelah ini.

Alat – alat atau persenjataan awalnya diciptakan sebagai barang untuk mempertahankan diri, namun seiring berjalannya waktu, alat – alat tersebut malah digunakan untuk melukai antara manusia yang satu dengan manusia yang lain dengan tujuan untuk membuktikan siapa yang lebih hebat. Lama kelamaan dari perang yang mencakup satu lawan satu kemudian menjadi perang antar negara.

Di kutip dari dalam Jurnal Perkembangan Teknologi Persenjataan dan Prinsip Proporsionalitas, perkembangan senjata akan berkembang sesuai dengan perkembangan peradaban manusia yang mana artinya jika semakin pesatnya perkembangan di suatu negara maka semakin Advanced pula persenjataan yang mereka miliki, ini juga berhubungan dengan hokum manusia selalu menggunakan senjata sesuai dengan jamannya.

Baca Juga: Mencegah Konflik dalam Lingkup Lokal, Nasional, maupun Internasional

Sejak memasuki era perang dunia ke 1, perkembangan persenjataan menjadi sangat pesat karna banyak digunakan negara – negara untuk berperang, hasil dari perkembangan tersebut banyak menciptakan penemuan – penemuan baru antara lain adalah tank, kapal perusak/penyerang, pesawat pengebom, senapan otomatis, senapan runduk (sniper), dan bom/peledak.

Semua persenjataan itu diciptakan pada saat berlangsungnya perang dunia ke 1 dan perang dunia ke 2. Perkembangan persenjataan tersebut berlangsung di negara – negara industri seperti Amerika, Jepang, Uni Soviet, dan Inggris.

Hubungan Perkembangan Teknologi Persenjataan Terhadap Perang Dingin

Setelah berakhirnya perang dunia ke 2 yang ditandai dengan di jatuhkannya bom atom di dua kota di Jepang yaitu Hiroshima dan Nagasaki oleh pihak sekutu ( Amerika ).

Maka setelah itu dimulailah perang dingin, perang ini adalah perang secara tidak langsung antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, yang dimaksud perang secara tidak langsung adalah kedua negara ini bukan saling serang menyerang layaknya di perang dunia ke 1 dan perang dunia ke 2 melainkan berlomba – lomba mengembangkan teknologi persenjataan yang paling mutakhir dan dianggap paling berkuasa didalam dunia internasional.

Pada tanggal 29 Agustus 1949, Uni Soviet berhasil menguji sebuah bom atom yang diberi kode RDS-1, selain itu pihak Uni Soviet juga mengembangkan rudal balistik kendali jarak jauh yang mampu menjelajah antar benua.

Percobaan bom atom oleh Uni Soviet yang dinilai sukses itu membuat pihak Amerika Serikat ketar ketir, pada tahun 1952 Amerika Serikat pun merencanakan suatu proyek yang diberi nama Manhattan Project, proyek ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah bom hydrogen.

Pada perkembangannya Amerika Sekitar terus meningkatkan efektivitas senjata pembunuh tersebut guna menjaga pertahanan dan keamanan negara tersebut, bahkan Amerika Serikat juga ikut mengembangkan rudal balistik yang bisa menjelajah antar benua untuk mengimbangi kekuatan Uni Soviet.

Teknologi Persenjataan Baru Yang Diawasi Oleh Hukum

Perkembangan teknologi senjata yang semakin menjadi – jadi akan sangat berbahaya jika tidak memiliki peraturan atau regulasi terhadap ribuan hulu ledak yang telah diciptakan oleh suatu negara, maka dari pada tanggal 10 Oktober 1963, ditandatangani lah perjanjian Larangan Uji Coba Terbatas (LTBT).

Ini merupakan kesepakatan antara Uni Soviet, Amerika Serikat, dan Inggris yang secara signifikan membatasi jumlah uji coba nuklir yang dilakukan oleh negara – negara tersebut. Walaupun informasinya semua pengujian nuklir di atmosfer, bawah air, dan luar angkasa dihentikan, kenyataannya pengujian nuklir tersebut masih dilaksanakan secara rahasia.

113 negara lainnya juga telah menandatangani perjanjian nuklir ini sejak 1963 karna mereka ingin menciptakan dunia yang aman dan bebas dari nuklir. Pada Mei 1972, ada sebuah perjanjian penting yang ditandatangi yaitu perjanjian SALT 1 yang menghasilkan kesepakatan atas dua dokumen penting, yaitu Perjanjian Rudal Anti-Balistik (Perjanjian ABM) dan Perjanjian Sementara Tentang Batasan Senjata Serangan Strategis.

Perjanjian ABM sendiri meliputi pembatasan setiap negara dalam pengembangan rudal balistik nuklir, mencakup juga rudal balistik antar benua (ICBM) dan rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam (SLBM) disetiap negara dengan lama waktu selama 5 tahun.

Namun perjanjian SALT 1 dinilai gagal karena tidak menjelaskan berapa hulu ledak yang ditempatkan pada satu buah rudal, sehingga pada 10 tahun berikutnya, Amerika Serikat dan Uni Soviet berhasil menambahkan sekitar 12 ribu hulu ledak ke persenjataan mereka.

Pada tanggal 18 Juni 1979, dibuatlah perjanjian SALT 2 yang diminta ditandatangani oleh negara – negara industry nuklir di Wina. Perjanjian ini membatasi persenjataan dan teknologi nuklir dari kedua belah pihak antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Namun karna Amerika Serikat melihat invasi Uni Soviet ke Afghanistan pada Desember 1979, maka Amerika Serikat pun menolak untuk menandatangani perjanjian tersebut dan mengakhiri negosiasi perjanjian.

Pada tahun 1991, dibuatlah perjanjian Pengurangan Senjata Strategis untuk membatasi persenjataan offensive milik Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Akhir Dari Perang Dingin

Selama tahun 1980, hubungan negara antar Amerika Serikat dan Uni Soviet membaik, Mikhail Gorbachev selaku perwakilan dari Uni Soviet mengumumkan bahwa dimulainya era baru petestroika  dan glasnost, yang artinya restrukturisasi dan keterbukaan.

Pada tanggal 8 Desember 1987, ditandatanganinya perjanjian Pasukan Nuklir Menengah (INF) yang dilaksanakan di Washington, isi dari perjanjian ini adalah menghapuskan seluruh kelas senjata nuklir.

Menggunakan Perkembangan Persenjataan Untuk Sesuatu Yang Positif

Pada saat semua negara dilarang untuk berperang serta dilarang mengembangkan senjata – senjata yang berbahaya, negara – negara tersebut ingin bersaing dibidang militer tetapi dengan cara yang sehat.

Maka dilakukanlah berbagai perlombaan internasional agar negara – negara tersebut dapat berpartisipasi dan menyalurkan bakat – bakat yang mereka miliki. Salah satu perlombaan yang digelar bernama International Army Games.

Pada masa sekarang perlombaan itu dihadiri oleh hampir 277 tim yang berasal dari 40 negara, lomba terbaru ini direncanakan akan digelar pada tanggal 22 Agustus sampai 4 September tahun ini (2021).

Perlombaan tersebut dilaksanakan di beberapa negara, yaitu 16 kontes di Russia, Belarusia, China, dan Iran masing masing akan menjadi tuan rumah di tiga kontes, serta masih banyak lagi negara – negara lain yang akan menjadi tuan rumah untuk 1 dan 2 kontes.

Kompetisi yang dilaksanakan juga beragam, mulai dari lomba menembak untuk tank dan artillery, mengincar target diudara, ketangkasan kapal perang, hingga kompetisi untuk penembak jitu.

Selain mengadakan kompetisi, negara yang menjadi tuan rumah juga mengadakan pameran persenjataannya guna menarik minat negara lain.

Jadi akhirnya dikarenakan dahsyatnya pengaruh yang ditimbulkan jika perang nuklir (perang dunia ke 3) terjadi, banyak negara yang mengecam hal tersebut sehingga perkembangan senjata nuklir tersebut dihentikan.

Dengan begitu negara – negara diseluruh dunia ini akan merasa aman jika perang nuklir tersebut tidak akan pernah terjadi dan produksi rudal nuklir dihentikan. Karna sejatinya manusia menginginkan kedamaian dalam menjalani kehidupan.

 

Oleh: Azyumardi Azhar, Siswa SMAN 1 Pontianak

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed