by

Mencegah Konflik Internasional

Oleh: Rizkia Maulita Amanda

Teknologi luar angkasa merupakan teknologi yang memungkinkan manusia melakukan perjalanan ke luar angkasa, meneliti, dan mengekstrak objek dari luar angkasa. Perkembangan teknologi luar angkasa pertama kali dimulai sejak terjadinya Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, dan sampai saat ini.

Sebelum lanjut, mari ketahui dulu sejarah perkembangannya secara singkat. Seperti yang sudah kita ketahui, Amerika Serikat dan Uni Soviet adalah dua negara yang sangat berpengaruh dalam perkembangan IPTEK salah satunya teknologi luar angkasa.

Uni Soviet berhasil menjadi negara pertama yang meluncurkan satelit bernama Sputnik I pada 4 Oktober 1957 dan berhasil mengorbit bumi selama 14 hari. Selain itu, Uni Soviet juga menjadi negara pertama yang mengirim manusia pertama ke luar angkasa yaitu Yuri Gargarin menggunakan pesawat Vostok I mengelilingi bumi selama 108 menit. Menyusul Uni Soviet, pada tahun 1958 Amerika Serikat membentuk National Aeronautics and Administration (NASA) dan langsung meluncurkan satelit Explorer I.

Dalam perkembangannya, Amerika Serikat mampu mengalahkan Uni Soviet dengan menginisiasi program Apollo 11 yang bertujuan untuk mendaratkan manusia pertama di bulan. ada 16 Juli 1969, astronaut Apollo 11 Neli Amstrong, Buzz Aldrin, Michael Collins berhasil mendarat di bulan dan mengibarkan bendera Amerika Serikat.

Konflik-konflik besar sering terjadi antara negara-negara di seluruh dunia, dan dari konflik tersebut tidak sedikit negara yang sebenarnya tidak terlibat dalam suatu konflik malah terkena dampaknya. Walaupun begitu dampak yang ditimbulkan tidak selalu negatif melainkan ada juga sisi positifnya.

Seperti pada sejarah singkat di atas, dapat dilihat kalau konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet berpengaruh besar hingga saat ini. Dengan adanya Perang Dingin tersebut dan teknologi yang dihasilkan memberikan dorongan kepada negara-negara lainnya untuk menciptakan teknologi luar angkasa mereka sendiri

Sejak saat itu, ruang angkasa telah menjadi dimensi keempat dari aktivitas manusia. Kegiatan eksplorasi ruang angkasa dimulai selama masa Perang dingin yang berlatar belakang persaingan ideologi, politik, pertahanan dan keamanan menjadi perlombaan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Baca Juga: Mencegah Terjadinya Konflik Senjata Internasional

Ruang angkasa memberikan banyak manfaat termasuk peluang yang berfungsi untuk memperkuat pertahanan dan keamanan, sehingga negara-negara saling bersaing untuk memanfaatkan ruang angkasa lebih padat dan kompetitif. Perkembangan teknologi luar angkasa di Asia, dimulai saat China muncul sebagai negara dengan predikat pemain baru dibidang luar angkasa yang memperlihatkan peningkatan produktivitas yang cepat dan dapat bersaing secara kualitas dengan Amerika Serikat.

Sekarang ini hampir seluruh negara didunia bergantung pada teknologi satelit untuk melakukan segala sesuatu seperti ramalan cuaca, komunikasi, , lalu lintas udara (pesawat), kegiatan pemerintahan menemukan terjadinya bencana alam serta membantu operasi militer.

Dengan kemampuan ini, satelit menjadi alat penting yang harus dimiliki setiap negara. Satelit dapat digunakan sebagai alat untuk memperoleh informasi penting bagi negara. Ketika satelit muncul kegunaannya menjadi lebih jelas dalam konflik atau perang suatu negara, satelit adalah pendukung meningkatnya kekuatan suatu negara.

Hal ini membuat kebutuhan kerja sama antar negara menjadi lebih berkembang secara cepat dan pesat. Oleh karena itu, seluruh negara didunia berlomba-lomba dalam menciptakan teknologi dan inovasi baru di bidang keantariksaan. Dengan terjadinya persaingan ini tentu banyak menimbulkan konflik antar negara sehingga menyebabkan adanya fenomena-fenomena yang terjadi secara alamiah ataupun sosial di kalangan masyarakat.

Ada banyak ancaman yang berhubungan dengan sistem di luar angkasa. Para ahli mengatakan bahwa ancaman terbesar yang terjadi di ruang angkasa adalah kegiatan alami yang tidak disengaja ataupun disengaja hal ini dapat menghambat akses ke lingkungan ruang angkasa. Beberapa ancaman yang jelas terlihat terhadap aset berbasis ruang angkasa meliputi peningkatan jumlah serpihan ruang angkasa, gangguan cuaca ruang angkasa, mudahnya akses ke ruang angkasa dan potensi serangan kinetik peperangan dunia elektronik pada ruang angkasa.

Serpihan ruang angkasa memberikan risiko bagi teknologi berbasis satelit. Angkatan Udara Amerika Serikat melacak lebih dari 23.000 benda buatan manusia di orbit dan ada ratusan ribu serpihan tambahan yang disebut sampah antariksa dapat merusak satelit.

Tiongkok melakukan uji coba kemampuan anti-satelitnya (ASAT) pada tahun 2007 dengan melakukan penghancuran terhadap satelit cuaca yang sudah tidak berfungsi. Uji coba ini menyebabkan terciptanya serpihan-serpihan yang sangat banyak. Potensi ancaman terhadap satelit saat terjadi konflik semakin meningkat. Hal ini menyebabkan negara-negara seperti Amerika Serikat, India, Rusia, termasuk Tiongkok mengembangkan kemampuan untuk menolak akses ke satelit saat konflik berlangsung. Sebenarnya Amerika Serikat berusaha untuk mencegah terjadinya konflik perang ruang angkasa. Amerika Serikat tertarik untuk bekerja sama dengan Tiongkok dan Rusia untuk mengamankan ruang angkasa. Dengan meningkatnya ambisi dan ketergantungan dibidang keantariksaan membuat negara-negara rentan terhadap serangan.

Amerika Serikat membuat strategi ruang angkasa agar dapat bermitra dengan negara-negara yang bertanggung jawab, organisasi internasional, dan perusahaan komersial untuk mengejar peluang pembagian risiko dan biaya serta berbagi informasi yang diperoleh dari ruang angkasa. Meski negara Indo-Asia-Pasifik memiliki banyak tanggungan lain dalam berbagai bidang seperti eksplorasi ilmu pengetahuan, misi berawak, dan pengindraan jauh, kolaborasi antar negara penting demi mengatur tataan ruang angkasa. Oleh karena itu, perjanjian ruang angkasa dibuat pada tahun 1967 di mana perjanjian tersebut mengatur sistem keantariksaan internasional dan berhasil menjaga perdamaian dan mencegah munculnya konflik-konflik baru.

Setiap negara tentu memiliki peran mereka masing-masing dalam mencegah konflik antar negaranya dan negara lainnya. Selain itu, salah satu cara mencegah timbulnya konflik ialah dengan membangun kerja sama antar negara. Tidak hanya itu, peran organisasi-organisasi besar yang memiliki pengaruh bagi seluruh dunia seperti PBB juga penting dalam memberikan solusi atas konflik-konflik yang ditimbulkan. Dengan adanya perkembangan teknologi ini seharusnya dapat menyatukan setiap negara agar menjadi lebih maju dan bukan menjadi sumber penyebab adanya konflik antar negara.

 

Oleh: Rizkia Maulita Amanda, Siswi SMAN 1 Pontianak

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed