by

Menag: Al-Azhar Mesir Benteng Moderasi Islam

Kabar Damai | Kamis, 22 April 2021

Jakarta | kabardamai.id | Sejak berdiri tahun 361H/975M, Al-Azhar Mesir selalu berada di garda terdepan dalam pendidikan dan pengembangan dakwah Islam yang moderat dan toleran. Pengaruh lembaga yang berdiri di masa kekuasaan Dinasti Fathimiah ini juga bukan hanya di Mesir, tapi juga di seluruh dunia.

“Maka tidak berlebihan jika Al-Azhar disebut sebagai benteng wasathiyyah Islam,” ungkap Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dalam Webinar Peringatan 1.081 tahun Al-Azhar, Selasa (20/4/2021), seperti dikutip kemenag.go.id.

Melansir laman resmi Kementerian Agama RI, Webinar bertema ‘Peran Al-Azhar dan Ulamanya dalam Memperkuat Hubungan Diplomatik Indonesia-Mesir’ ini digelar oleh Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia. Menag Yaqut menyambut baik webinar yang diikuti secara virtual oleh ribuan alumni Al-Azhar di Indonesia ini.

Menurut Gus Taqut, bagi masyarakat muslim Indonesia, Al-Azhar telah memberikan banyak inspirasi dalam mengukuhkan kehidupan keagamaan yang moderat, berasaskan tradisi keislaman ahlussunah wal jama’ah.  Bahkan, lanjut Menag, karya-karya pemikiran ulama Al-Azhar telah mewarnai pemahaman dan pergerakan keagamaan di tanah air jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terbentuk.

“Pada tahun 1850 di Mesir telah dijumpai komunitas bangsa Indonesia yang ditandai dengan keberadaan Ruwaq Jawi di masjid Al-Azhar,” ungkap Gus Menteri, sapaan akrabnya.

Tercatat pada masa itu, pendiri Pesantren Tremas, Kyai Abdul Manan Dipomenggolo, kakek dari Syeikh Mahfuz Tremas, telah belajar kepada masyayikh Al-Azhar.Di antaranya  Syeikh Al-Azhar Ibrahim al-Bajuri.

Baca Juga : Mengenang Nawal El Saadawi, Feminis Mesir yang Gigih dalam Berkarya

“Secara geneologis, dari pesantren ini berkembang tradisi keilmuan pesantren di berbagai wilayah Indonesia yang masih lestari hingga saat ini,” terangnya.

Saat ini bahkan wasathiyah islam yang menjiwai Al-Azhar menurut Menag sejalan dengan konsep moderasi beragama yang diusung Kementerian Agama. Menag pun memuji sikap yang dicontohkan oleh Grand Syeikh Al-Azhar Syeikh Ahmad al-Thayeeb saat menandatangani ‘Dokumen Persaudaran Kemanusiaan untuk Perdamaian Dunia dan Harmoni Kehidupan’ bersama dengan pemimpin tertinggi Katolik Dunia Paus Fransiskus.

Bagi Menag, dokumen yang ditandatangani pada 4 Februari 2019 itu menjadi langkah inspiratif bagi kehidupan beragama di dunia yang berlandaskan semangat toleransi dan menghargai keragaman.

“Upaya tersebut sangat relevan dan sejalan dengan upaya penguatan moderasi beragama yang sedang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Agama,” ujar Gus Yaqut.

“Semoga di usia ke-1.081 Al-Azhar terus memberikan manfaat dan menebar kebaikan bagi masyarakat dunia,” harap Gus Menteri.

Selain Menag, hadir sebagai narasumber pada webinar tersebut adalah Deputi Grand Sheikh Al-Azhar Prof Dr  Mohamed al-Doweiny, Rektor Universitas Al-Azhar Prof  Dr Mohamed Hosein Al-Mahrasawy, Menteri Luar Negeri RI Retno Lestari Marsudi, Duta Besar RI untuk Mesir Lutfi Rauf, Duta Besar Mesir untuk Indonesia Ashraf Sultan, dan Ketua OIAA Cabang Indonesia TGB M Zainul Majdi.

 

Lembaga Keislaman Terkemuka

Al-Azhar Kairo –yang saat ini merupakan lembaga keislaman terkemuka dan sering menjadi rujukan umat Islam di dunia– pada mulanya adalah sebuah masjid bernama Masjid Al-Azhar. Masjid itu mulai dibangun oleh Panglima Jauhar As-Siqilli pada tahun 359 H, atas perintah Khalifah Al-Mu’izz li Dinillah dari Dinasti Fathimiyah, dan selesai pada tahun 361 H.

Melansir Republika (20/4), pada Jumat, 7 Ramadan 361 H, dilakukan salat Jumat pertama di masjid itu. Hari itulah yang kemudian ditetapkan secara resmi sebagai Hari Al-Azhar (Al-Yawm al-‘Âlamiy li al-Azhar). Setiap tahun, tanggal 7 Ramadan 1442 H diperingati sebagai Hari Al-Azhar. Pada 7 Ramadan 1442 H ini Al-Azhar genap berusia 1.081 tahun menurut hitungan kalender Hijriah.

Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Cabang Indonesia menyelenggarakan serangkaian kegiatan dalam rangka merayakan peringatan 1.081 tahun Al-Azhar. Di antaranya adalah Musabaqah Tilawatil Qur’an huruf Braille dengan berbagai cabang lomba bagi kalangan tunanetra muslim dan webinar tentang “Metode Praktis Pembelajaran Al-Qur’an Braille”. Dalam kegiatan ini, OIAA Indonesia bekerja sama dengan Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI).

Selain itu, juga ada kegiatan tebar 1.081 paket sembako (bingkisan Ramadhan) untuk masyarakat miskin dan kaum dhuafa’.

”Pada Selasa, 8 Ramadhan 1442 H (20/4) siang  juga ada webinar dengan tajuk Peran Al-Azhar dan Ulamanya dalam Menguatkan Hubungan Diplomatik Indonesia-Mesir,” kata Ustadz Muhammad Arifin Lc, MA, penanggung jawab acara peringatan 1.082 tahun Al Azhar OIAA Indonesia melalui rilis yang diterima Republika.co.id, Selasa (20/4).

Diketahui, putra-putri Indonesia sudah berada di Mesir untuk menuntut ilmu di Al-Azhar jauh sebelum Indonesia merdeka. Pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir pada masa-masa penjajahan ikut berperan melakukan lobi-lobi diplomatik untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.

“Kegiatan peringatan 1.081 tahun Al-Azhar ini merupakan salah satu bentuk kesyukuran alumni Al-Azhar di Indonesia atas nikmat umur panjang Al-Azhar yang lebih dari 1.000 tahun sampai saat ini,” tutur Muhammad Arifin.

 

 

Tak Membebani Peserta Didik

Arifin menambahkan, ribuan putra-putri Indonesia telah merasakan pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo, terutama di bidang studi keislaman, tanpa dikenakan biaya pendidikan.

“Dengan aset wakafnya yang begitu besar dan produktif, Al-Azhar mampu menutupi biaya operasional pendidikan di berbagai jenjangnya sehingga tidak membebani peserta didik,” paparnya.

Disebut Arifin, mengutip laman Kementerian Luar Negeri RI, Mesir merupakan negara Arab pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1946. Kedua negara membuka hubungan diplomatik yang ditandai dengan penandatanganan The Treaty of Friendship and Cordiality pada tanggal 10 Juni 1947 yang kemudian dilanjutkan dengan pembukaan Perwakilan RI di Kairo pada tahun 1949.

Sementara itu, hubungan Al-Azhar dengan Indonesia juga sangat baik. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, banyaknya jumlah putra-putri Indonesia yang telah dan sedang menimba ilmu di Al-Azhar, Kairo, di samping kehidupan keberagamaan dan pluralitas masyarakatnya, Indonesia sering mendapat perhatian “khusus” dari Al-Azhar.

Arifin mengatakan, hampir semua pemimpin tertinggi Al-Azhar pernah berkunjung ke Indonesia.  Yang terakhir adalah kunjungan Syaikh Al-Azhar Ahmed El-Tayeb pada April 2018 terkait High Level Consultation mengenai masalah Wasathiyah Islam. Pada kunjungan tersebut, Syekh Ahmed el-Tayeb juga menyampaikan kuliah umum di beberapa kampus, termasuk di forum khusus alumni Al-Azhar.

Arifin menyebutkan, alumni Al-Azhar di Indonesia berjumlah lebih dari 10.000 orang, banyak yang berperan mengembangkan pondok pesantren dengan beragam coraknya, sekolah pendidikan formal, dakwah, menjadi dosen di perguruan tinggi keislaman, dan tidak jarang pula yang berperan di bidang politik. [ ]

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed