Mempertahankan Tradisi Islam Dalam Budaya Lokal (Tari Mayang Madu Di Kota Lamongan)

Opini148 Views

Oleh: Rif`atus Sholikhah (Mahasiswa Studi Agama-Agama UINSA)

Kesenian tradisional beragam yang ada di Lamongan, Jawa Timur, salah satunya adalah tari mayang madu berasal dari daerah Drajat Paciran yang bernuansa Islami.

Bagaimana tidak? Tari ini diciptakan oleh Arif Anshori pada tahun 2005 atas permintaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, nama tari mayang madu sendiri diambil dari gelar Raden Qosim atau biasanya dikenal sebagai Sunan Drajat.

Tujuannya adalah agar tetap dapat melestarikan budaya lokal yang ada di Lamongan. Seperti yang kita ketahui Sunan Drajat adalah salah satu dari 9 tokoh walisongo yang menyebarkan atau mengajarkan agama Islam di daerah Drajat, Paciran Lamongan.

Tari mayang madu adalah bentuk tunggal tarian yang dilakukan oleh sekelompok orang, dengan begitu tari mayang madu dapat dilakukan berkelompok sebanyak 5 atau lebih tanpa adanya peranan yang berbeda pada setiap penarinya.

Jika dilihat secara koreografi tarian ini memiliki pola gerak mirip dengan tari Zapin dan tari Saman, dari keduanya mencampuradukkan dengan pola gerak tradisional Jawa Timur yang sudah ada.

Kesenian dari tari mayang madu ini adalah salah satu dari kesenian khas kabupaten Lamongan. Keberadaan dari tari mayang madu sendiri dikenalkan oleh pemerintah Lamongan melalu kegiatan yang ada, seperti dipentaskan dalam acara Grand Fina Yak Yuk, Hari Jadi Lamongan, menyambut tamu dari luar baik bersifat kenegaraan ataupun ke pemerintahan, dan banyak kegiatan lainnya.

Baca juga: Pengalaman Menumbuhkan Sikap Toleransi Dalam Berorganisasi Melalui Kegiatan ICRP

Dikenalkan oleh pemerintah Lamongan agar dapat mendorong masyarakat untuk mendukung dan bisa dijadikan kebanggaan tersendiri sebagai seni khas baru yang berasal dari lamongan dan juga agar masyarakat luar mengenal tarian tradisional khas Lamongan.

Tari Mayang Madu: Bukti Pelestarian Tradisi Islam

 Seperti yang sudah disinggung sedikit di atas bahwa tari mayang madu ini diambil dari nama gelar Sunan Drajat. Dalam sejarahnya Sunan Mayang Madu ( Sunan Drajat) menyebarkan agama Islam Di Lamongan, nama tersebut diperoleh beliau dari pemberian Sultan Demak sebagai bentuk berhasilnya beliau dalam mengusai tanah yang diberikan oleh sultan Demak khususnya di daerah Paciran, tanah tersebut diperuntukkan membangun pesantren dan menyebarkan agama Islam  yang kemudian dinamakan Desa Drajat.

Sejarah juga menyebutkan bahwa kebanyakan dari walisongo menggunakan media senidalam menyebarkan agama Islam salah satunya yang dipakai oleh Suna Drajat tersebut. Sebab, pada saat itu masyarakat sekitar masih memeluk agama Hindu dan Buddha pengaruh dari kerajaan Majapahit.

Penerapan media ini ternyata sudah terbukti atau berhasilnya dalam menyebarkan agama Islam dan mampu untuk memakmurkan kehidupan maysrakat. Dalam perkembangan eksistensinya, keberadaan tari mayang madu sedikit demi sedikit diakui sebagai salah satu simbol tari Islami di Kabupaten Lamongan.

Sebab dengan adanya tari mayang madu ini, bisa mengenang jasa perjuangan Sunan Mayang Madu (Sunan Drajat), agar masyarakat Lamongan tergerak hatinya untuk tetap meneruskan perjuangan Sunan Drajat dalam menyebarkan agama Islam.

Doc. Kompasiana.com

Maka dengan adanya sejarah Sunan Drajat bagi masyarakat Lamongan khususnya daerah Paciran adalah suatu bentuk perjuangan yang harus tetap dilestarikan. Oleh karena itulah, melestarikan situs sejarah tersebut dilakukan dengan melalui pendekatan wujud karya seni guna untuk mengenang jasanya.

Tari mayang madu ini diciptakan untuk masyarakat Lamongan tujuannya untuk mengingatkan begitu juga memberikan pelajaran pada mereka tentang kegigihan Sunan Drajat dalam menyebarkan agama Islam, serta mengajak masyarakat untuk tetap melakukan ajaran-ajaran yang sudah diberikan oleh Sunan Drajat.

Inisiatif dalam penciptaan tari mayang madu dipengaruhi oleh adanya keberadaan situs sejarah atau cerita tentang Sunan Drajat. Dan ada beberapa ajaran Sunan Drajat yang berisiskan tentang nasehat-nasehat salah satunya adalah wehono dahar marang wong kang luwih(berilah makanan kepada orang yang lapar).

Ciri khasnya dari tarian ini adalah dimainkan khusus oleh lima orang penari, alasan dari lima orang pemain ini adalah sebagai simbol ibadah sholat wajib ada lima waktu dan sholat tersebut, yang mana adalah pondasi bagi seluruh umat beragama Islam.

Kostum yang dipakai oleh seorang penari adalah kostum tertutup dan sopan sesuai dengan busana tari Islami. Dan yang terpenting untuk kostum tersebut tidak mengganggu sama sekali dalam gerak penari saat tampil, serta dapat menambah keestetikan disetiap gerakannya.

Tata rias yang digunakan adalah tata rias putri yang menandakan kecantikan, anggun dan sesuai dengan kebutuhan yang ada dipanggung. Dalam kostum penari juga memiliki perubahan dalam setiap waktunya, pada awal tahun 2005 para penari menggunakan kostum yang berwarna hijau dengan simbol kedamaian dan kesegaran, sedangkan kostum yang berwarna kuning mempunyai simbol kebahagiaan atau keceriaan serta memiliki jiwa yang optimis.

Dengan begitu dalam pementasan tari mayang madu ini membawa suasana yang tenang dan bahagia untuk masyarakat yang menontonnya.

Untuk iringan musiknya juga terdapat syair-syair khusus yang dilontarkan oleh Sunan Mayang Madu saat itu yang mana berisikan ajaran nasehat untuk berbuat baik kepada sesama manusia. Ada lima bagian yang membangun dari seni tari mayang madu diantaranya Salam, Solah, Tatembang, Puji-pujian, Menembah.

Dari nuansa islami tersebut maka alat yang digunakan terdiri dari alat gamelan. Semua iringan musik menghasilkan iringan yang kental dengan nuansa Islami serta didukung adanya lirik-lirik Islami yang kemudian dapat menguatkan pola musikal yang bernuansa Islami.

Maka dari itu, nilai dari tari mayang madu ini juga salah satunya bisa mempertahankan tradisi agama Islam dalam budaya lokal yang ada di daerah Paciran sebab dari sejarahnya saja awal mula diciptakan tarian ini untuk mengenang jasa walisongo yaitu Sunan Drajat yang sudah  menyebarkan agama Islam di Lamongan serta mengabadikan ritus sejarah dengan melalui wujud media seni tari agar masyarakat dapat mengingat kembali pelajaran yang telah diajarkan oleh Sunan Drajat pada seluruh masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *