by

Mempelajari Sejarah Indonesia Dapat Meredam Paham Radikalisme

Kabar Damai I Senin, 29 November 2021

Tangerang I kabardamai.id I   Mempelajari dan memahami sejarah bangsa Indonesia tentunya sangat penting bagi generasi muda, terutama dalam membangun dan meningkatkan rasa nasionalisme, Terutama untuk kalangan muda sekarang tentunya juga harus dipertanyakan di dalam dirinya apa sebetulnya inti dari lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Karena dengan kurangnya literasi untuk memahami dan memaknai ideologi Pancasila, maka dapat masuklah dengan mudah ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, terutama pada media sosial (medsos). Karena hal tersebut dapat mempengaruihi generasi muda bangsa sehingga radikalisme itu dapat masuk..

Hal tersebut dikatakan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) RI, Dr (HC) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya pada acara Dialog Kebangsaan yang digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Gugus Tugas Lintas Agama dengan Furum Komunikasi Pimpinan Daerah (Fokorpimda), Tokoh Lintas Agama dan Tokoh Masyarakat se provinsi Banten. Acara yang mengambil tema Bersama Membangun Harmoni Bangsa ini digelar Pendopo Trisna Wijaya, Modern Land, Tangerang, Kamis (25/11/2021) malam.

“Maka dari itu hidupkan kembali sejarah bangsa Indoneisa ini. Tunjukan kita ini memiliki Indonesia. Nilai merah putih itu sendiri harus dipahami seperti, melambangkan jati diri bangsa, penyampaian kepada generasi muda,” ujar Habib Luthfi

Dikatakannya, jika sejarah terhadap bangsa ini dapat dipahami dan dihayati secara benar, maka hal tersebut dapat menjadi benteng bagi seluruh elemen bangsa untuk tidak mudah terhasut dengan paham-paham yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.

“Jika kita tidak peduli terhadap sejarah bangsa hal ini menjadi dampak kecil untuk masuknya paham radikal kepada kita. Mari bergandengan tangan yang erat, untuk menjaga ketahanan nasional, dari oknum yang senang ketika bangsa ini runtuh. Ayo kita bentengi Indonesia dengan benar. “ujar Habib Luthfi.

Habib Luthfi juga menjelaskan bahwa kekurangan dalam diri manusia juga bisa dapat menimbulkan kekosongan yang bisa membuat permasalahan. Dan permasalahan inilah sering bisa mengarahkan kepada radikalisme.

“Jika adanya kekurangan dalam diri, maka hal ini yang dapat menimbulkan permasalahan. Apakah indonesia akan begini terus, dengan ganjarannya adanya terorisme?. Kita mendeka sudah 76 tahun, jika dibanding Amerika sudah merdeka 200 tahun belajar demokrasi. Pastinya pendiri bangsa, ingin negerinya maju, dalam kesejahteraan umat. Kita ini diberikan tanah yang subur luar biasa, segalanya ada di Indonesia ini,” ujarnya.

Diakatakan, dari zaman dahulu para oknum itu masih saja menggunakan label agama dalam melancarkan ancaman terornya. Yang mana label agama ini pasti ujungnya adalah kekuasaan, “Disini masih banyak orang yang belum sadar. Dan sekarang ini tentunya kita semua harus memberikan pencerahan itu kepada semuanya bahwa radikalisme berujung agama itu sebenarnya adalah sesuatu untuk merebut kekuasaan,” katanya

Menurutnya dengan adanya habatan seperti radikalsime dan terorisme ini jika tidak cepat diatasi secara Bersama-sama, bukan tidak mungkin bangsa Indonesia ini akan tertinggal dengan negara tetangga yang lain.

“Apalagi Indonesia sendiri sekarang ini bisa dikatakan telah menjadi negara pemersatu di Asia. Lha ini yang harusnya menjadi senjata untuk memerangi radikalisme dan terorisme. Karena bangsa ini bisa menyatukan, dan saling bertoleransi” ujarnya.

Baca Juga: Mencegah Radikalisme dengan Budaya Literasi

Dirinya kembali mengingatkan sejarah bangsa ini di zaman kerajaan. Pada saat itu Kerajaan Kalingga dan Kerajaan Singgosari telah mengajarkan mengajarkan toleransi. Dimana saat itu Borobudur dekat Prambanan karena berbeda paham diantara keduanya, Borobudur adalah candi bercorak Budha sementara Prambanan bercorak Hindu.

“Borobudur hanyalah berfungsi sebagai tempat pemujaan. Sementara Prambanan memiliki fungsi selain tempat pemujaan, yakni sebagai pemakaman para raja dan tempat menyimpan harta. Tetapi kedua ini bisa menggambarkan contoh toleransi pada zaman dahulu untuk generasi muda saat ini,” ujanrya.

Sementara itu Deputi I bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Mayjen TNI Nisan Setiadi, SE, yang turut hadir pada acara tersebut sangat mengapresiasi acara silaturahmi yang dihadiri para Forkopimda dan para tokoh yang ada wiayah Provinsi Banten ini. Hal ini dikarenakan acara tersebut bisa menyatukan dari berbagai komponen dan elemen masyarakat dalam mengantisipasi penyebaran paham radikal terorisme di masyarakat.

“Karena kita sebagai orang Indonesia harus mencintai , menghargai dan berikrar bahwa Indonesi ini adalah negara yang harus kita bela. Dimana kita punya ideologi Pancasila yang dapat menyatukan seluruh komponen bangsa. Dimana kita ini berbeda-beda, tetapi dapat Bersatu karena Pancasila,” ujar Mayjen TNI Nisan Setiadi

Mantan Komandan Pusat Kesenjataan Artileri Pertahanan Udara (Danpussenarhanud) Kodiklat TNI-AD ini mengatakan, keberadaan Pancasila sebagai ideologi bangsa ini tidak boleh dirongrong oleh ideologi apapun. Untuk itu dirinya menyabut baik terhadap apa yang disampaikan para tokoh agar Indonesia ini memiliki Undang-Undang yang bisa melarang ideologi apapun yang bertentangan dengan Pancasila.

“Sehingga siapapun yang bertentangan atau menolak dengan adanya ideologi Pancasila ya tidak boleh ada di Indonesia ini, ap aitu teroris, radikalisme dan sebagainya. Jadi paham-paham itu tidak boleh tumbuh di Indonesia. Apalagi kita tadi sudah berirkrat dari berbagai macam komponen agama, ormas dan tokoh masyarakat untuk sama-sama bersepakat membentengi ideologi Pancasila di negara ini sampai kapan pun,” ujar alumni Akmil tahun 1988 ini.mengakhiri.

Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE, MM yang bertindak sebagai Ketua Panitia Pelaksana dalam sambutannya mengatakan bahwa silaturahmi ini dilaksanakan untuk saling bersama-sama membangun daya imunitas dan kekebalan bangsa dalam menghadapi berbagai macam virus seperti virus radikalisme yang menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia. Maka, menurutnya sangat penting melakukan silaturahmi dengan para tokoh agama, tokoh masyarakat dan juga jajran Forkopimda yang ada di Banten ini.

“Dengan berkumpulnya para tokoh ini menunjukkan kepedulian bangsa kita. Indonesia ini adalah bangsa yang sangat majemuk,yang sangat hiterogen dan yang hanya bisa aman, damai dan maju kalau kita selalu menjunjung NKRI harga mati dan Pancasila yang jaya,” kata Brigjen Pol R. Ahmad Nurwakhid.

Dikatakannya, meski silaturahmi ini digelar secara mendadak dengan dihadirii para tokoh yang sungguh luar biasa, ini menunjukkan kegiatan ini tidak formalitas, tetapi informal yang lebih kepada nuansa spiritual.

“Karena Silaturahmi atau Dialog kebangsaan sebagaimana ancaman, tantangan dan hambatan bangsa ini adalah terkait dengan ideologi, yaitu ideologi yang ingin merongrong ideologi negara yakni Pancasila. Dimana ideologi Pancasila selama ini dikenal bisa menjadi pemersatu bangsa,” ucap alumni Akpol tahun 1989 ini..

Silaturahmi ini dihadiri Wakil Gubenrur Banten, Walikota dan Wakil Walikota Tangerang, Bupati Tangerang, Walikota Tangserang Selatan, Kapolres Metro Tangerang dan juga para perwakilan tokoh agama yang tergabung dalam Gugus Tugas Pemuka Lintas Agama BNPT [damailahindonesiaku]

Editor: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed