by

Memberangus Pembajakan Buku dengan Tidak Menyebarkan PDF Gratis

Kabar Damai I Minggu, 29 Agustus 2021

Jakarta I kabardamai.id I Membaca novel berformat Portable Document Format (PDF) menjadi salah satu kegiatan untuk mengisi kebosanan saat bekerja atau sekolah dirumah di masa PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat di Indonesia). Cerita-cerita menarik dalam novel akan mengembalikan kesegaran bagi otak yang lelah karena selalu disuguhkan berita Covid-19. Selain itu format ebook atau PDF dinilai lebih efisien.

Namun masa PPKM ini menjadi ajang bagi oknum tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan pdf novel secara gratisan melalui media sosial. Para oknum membagikan tautan yang berisikan novel PDF melalui fitur IG Story, cuitan Twitter, bahkan secara personal chat melalui Whatsappline, dan telegram.

Walaupun kegiatan “berbagi” ini terlihat seperti kegiatan positif, tapi ternyata tindakan tersebut adalah ilegal dan dapat merugikan banyak pihakterutama sang Penulis dan penerbit novel. Alhasil Para penulis yang merasa karyanya disebarkan secara ilegal berbondong-bondong mengutarakan keresahannya di media sosial.

Seperti novelis Boy Candra misalnya, penulis novel Origami Hati ini membagi kekesalannya melalui cuitan Twitter yang berbunyi “Kasian penerbit, Sudahlah penjualan buku terganggu sebab wabah, harus tetap ngasih gaji pegawai. Sekarang orang-orang gak bertanggung jawab malah semakin rajin menyebar PDF (Novel) bajakan”.

Selain Boy Candra, Penulis novel Critical Eleven, Ika Natassa pun membuat postingan Instagram dengan caption “Kalau mau membajak, bajaklah sawah, jangan karya kami. Kalau mau mencuri, curilah hati, jangan royalti kami. Kalau mau berbagi, berbagilah kebaikan, bukan ebook curian” tulisnya.

Baca Juga: Komnas HAM: Pemerintah Wajib Memenuhi Hak atas Jaminan Sosial

Mungkin sebagian dari kita pasti bertanya-tanya “memangnya merugikan dalam hal apa sih?”. Dilansir dari Narasi.tv, dengan ikut menyebarkan PDF novel gratisan secara tidak sadar kita telah “membunuh” hak ekonomi penulis yang sudah susah payah menulis novel. Selain itu kita telah  menghancurkan industri penerbitan buku dan ebook secara masif.

Meski dampak yang dirasakan sangat besar, penulis ataupun penerbit tidak bisa berbuat banyak karena penyebaran PDF sudah semakin meluas. akhirnya media sosial digunakan sebagai media kampanye untuk memutus rantai penyebaran PDF bajakan. hashtag #salingdukung menjadi tagline dari kampanye tersebut.

Selain kampanye dengan menggunakan hashtag #salingdukung, penulis novel Aroma Karsa, Dee Lestari bersama-sama dengan penerbit Bentang Pustaka membuat siaran live di Instagram  yang membahas solusi bagi para pembaca untuk membaca buku tanpa harus membajak.

“Satu-satunya jalan untuk mendukung kami (penulis novel) ialah membeli produk yang asli. karena hajat hidup kami berasal dari royalti. tapi tenang, untuk pembaca yang ingin membaca buku kami secara gratis, sudah ada beberapa aplikasi yang menyediakan karya kami secara legal dan gratis, salah satunya seperti aplikasi ipusnas” ujar Dee Lestari.

Lebih lanjut, Dee berpesan kepada seluruh masyarakat yang sudah terlanjur mengunduh atau menyebarkan tautan berisi PDF novel gratisan agar segera menghapus serta menghentikan aksi penyebaran tersebut. lebih baik meminjam produk asli ke teman atau perpustakaan daripada harus ikut melakukan pembajakan.

Nah gimana? sudah paham kan mengapa kita harus berhenti membaca dan menyebarkan PDF novel gratisan dan mulai membeli buku asli. Karena dengan membeli buku yang asli akan membuat semangat para penulis untuk tetap berkarya di bidang kepenulisan. Selain itu, membaca dan menyebarkan PDF gratisan merupakan bentuk pelanggaran hak cipta.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed