by

Membebaskan Generasi Emas dari Paham Radikalisme-Terorisme

Kabar Damai I Rabu, 6 Oktober 2021

Malang I kabardamai.id I Diantara yang menjadi perhatian khusus dan harus kita waspadai terhadap kaum radikal adalah kelompok mereka ini suka mengatur,  menghilangkan, dan sering menyesatkan secara langsung. Sebagai contoh, ada yang menyebut bahwa  Gajah Madha itu orang muslim, kemudian mengatakan bahwa Indonesia ini bagian dari pada Turki Usmani.

Narasi seperti itu tentunya sudah tidak masuk logika dan hal ituselalu digaungkan secara terus menerus, jika memang Indonesia adalah bagian dari Turki Usmani maka mengapa Indonesia masih saja dijajah 350 tahun oleh kolonial belanda. Sejarah ini bisa di liat dan dibaca pada buku-buku sejarah. Hal yang biasa mereka lakukan ialah menyesatkan, menghilangkan sejarah termasuk membuat sejarah-sejarah adu domba antara suku dan agama.

Dilansir dari laman Pusat Media Damai BNPT, pesan ini menjadi atensi besar bagi para Mahasiswa Universitas Negeri Malang yang disampaikan oleh Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE, MM, dalam acara “Indonesia Menuju Generasi Emas 2045: Instalasi Karakter Humanis yang Pancasilais sebagai Upaya De-Ekstrimisme & Terorisme” di Universitas Negeri Malang pada Minggu, 3 Oktober 2021.

“Radikalisme terorisme ini sejatinya adalah gerakan politik yang ingin mengambil alih kekuasaan dengan memanipulasi agama khususnya dalam konteks di Indonesia ini ingin mengganti ideologi negara Pancasila dengan ideologi transnasional, yang dalam konteks ini adalah ideologi Khilafah,” ujar Nurwakhid, dikutip dari damailahindonesiaku.com (4/10).

Ia menjelaskan, kelompok radikal terorisme ini juga ingin mengganti sistem negara dengan sistem agama menurut versi kelompok tersebut. Dan biasanya ini dilakukan cenderung dengan cara-cara inkonstitusional yang menghalalkan segala cara bahkan dengan mengatasnamakan agama.

Baca Juga: Pancasila Menjadi Modal Generasi Millenial untuk Bela Negara

“Jika ada seseorang yang tergabung alam jaringan terorisme atau terpapar paham radikalisme, tapi kesannya dia inklusif dan bersosialisasi, tidak esklusif dan terkesan toleran, yakinlah mereka sedang melakukan taqiyah. Dimana taqiyah itu adalah siasat untuk menyembunyikan jati diri dan agendanya. Seperti pelaku bom Surabaya, dimana dia tidak ekslusif, dia terlihat bersosialisasi, Selain itu dia juga bukan orang miskin, tetapi dia mampu,” terangnya.

Menurut Kabagbanops Detasemen Khusus (Densus)88/Anti Teror Polri ini, orang yang sudah terpapar Ideologi radikalisme biasanya mereka menghancurkan budaya, dan kearifan lokal bangsa Indonesia, melakukan propaganda antara anak bangsa dengan mengikut sertakan isu-isu SARA, kemudian menyisipkan paradigma menintoleransi.

 

Influencer Cinta Tanah Air

Dalam menghadapi situiasi tersebut alumni Akpol tahun 1989 ini meminta peran generasi muda zaman sekarang ini harus bisa menyikapi hal tersebut yang terjadi sekarang ini, dimana anak muda khususnya generasi milenial wajib menjadi influencer untuk cinta tanah air, dan bangsanya terlebih untuk Pancasila.

Karena suatu ilmu pengetahuan sudah pasti bisa menyatukan dan teruji, maka sebegai generasi yang berilmu tentunya juga bisa menyatukan integritas bangsa yang sangat plural.

“Yang saya sarankan dan memberikan perhatian khusus adalah jangan mem-follow tokoh yang mengajarkan intoleran ataupun yang sama kecenderungannya, tapi ikutilah tokoh seperti ustat, kyai, pastur, pendeta dan tokoh agamanya yang adem, tentunya bisa mendamaikan, selalu memberikan pengajaran yang toleran,” ungkap mantan Kapolres Gianyar ini.

Oleh sebab itu menurut mantan Kapolres Jembrana ini, kesimpulan terkait radikalisme dan terorisme mengatasnamakan apapun adalah hama dan musuh negara.

“Karena hal ini untuk menghancurkan agama mengadu domba umat maupun menghancurkan karena ini adalah melanggar, kemudian tidak sesuai dengan konsensus nasional bangsa Indonesia,” ujar mantan Kadensus 88/AT Polda DIY ini. [damailahindonesiaku.com]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed