by

Membangun Toleransi untuk Meminimalisir Konflik

Kabar Damai I Senin, 22 November 2021

 

Bogor I kabardamai.id I Pluralisme di Indonesia tidak boleh hanya dipahami sebagai pengakuan akan keragaman. Namun,  harus dibarengi dengan membangun toleransi, tentang bagaimana sesama makhluk sosial dengan segala perbedaan suku, agama dan budaya saling menghormati satu dengan yang lain agar dapat mewujudkan sikap toleran dengan tujuan meminimalisir konflik antar umat dan perpecahan bangsa.

Dilansir dari Pusat Media Damai BNPT, hal tersebut disampaikan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE, MM, saat melakukan silaturahmi sekaligus memberikan pembekalan pada acara Seminar Kebangsaan yang bertajuk “Harmoni dalam Kebhinnekaan”.

Seminar yang dihelat Komisi HAAK (Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan) Keuskupan Bogor di Graha Bina Humaniora, Sentul City, Kabupaten Bogor, Sabtu, 20 November 2021 siang ini diadakan dalam rangka memperingati hari Toleransi Internasional yang jatuh pada tanggal 16 November 2021 lalu.

“Peringatan Hari Toleransi ini bermakna tentang bagaimana bangsa Indoensia yang multietnis, plural dan heterogen ini mutlak (harus dibangun) persatuan dan kesatuan. Dan ini hanya bisa dibangun ketika ada toleransi diantara anak bangsa. Dan ini sebagai salah satu cara untuk meminimalisir konflik diantara anak bangsa,” ujar Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid, SE, MM., dikutip dari damailahindonesiaku.com (21/11).

Di hadapan peserta seminar yang berasal dari berbagai ormas dan tokoh keagamaan, Nurwakhid memberikan ulasannya tentang bahaya radikalisme dan terorisme mengatasnamakan agama yang dapat mengancam keutuhan NKRI. Karena menurut dia, upaya pencegahan paham radikal merupakan tanggungjawab bersama yang memerlukan peran serta dari para tokoh dan pemuka agama.

“Karena mereka adalah pintu masuk sekaligus pintu keluar radikalisme, menjadi pintu masuk kalau tokoh agama mengajar dan mendakwahkan hal yang intoleran dan radikal, tetapi menjadi pintu keluar (dari radikalisme) ketika tokoh agamanya mengajarkan hal yang sifatnya menyejukkan, mendamaikan, toleransi, cinta tanah air dan bangsa,” terang alumni Akpol tahun 1989 ini.

Baca Juga: SETARA Institute: Tantangan dan Harapan Pemajuan Toleransi di Indonesia

Lebih lanjut, mantan Kabagbanops Detasemen Khusus (Densus)88/Anti Teror Polri ini berharap bahwa silaturahmi seperti ini perlu untuk dilakukan secara berkesinambungan mengingat pemerintah telah membentuk gugus tugas pemuka lintas agama dalam rangka pencegahan radikalisme dan terorisme di Indonesia melalui upaya moderasi dalam kehidupan beragama dan berbangsa.

“Dimana keberadaan Gugus Tugas Pemuka Lintas Agama ini tujuannya hanya satu, yaitu sebagai upaya untuk membangun toleransi, membangun harmoni bangsa,” tandasnya.

 

Toleransi Perkuat Kebhinnekaan

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Habib Muhammad Luthfi bin Yahya yang ikut hadir pada acara seminar tersebut ikut menyampaikan pesan mengenai pentingnya hidup toleransi ditengah keberagaman untuk mewujudkan harmoni dalam kebhinnekaan.

“Toleransi itu fundamental untuk kebhinnekaan. Bilamana toleransi ini dikembangkan, maka kebhinekaan akan semakin kuat dan akan menjadi satu Pelangi yang indah dibumi pertiwi ini,” ujar pria yang kerap disapa Habib Lutfi tersebut.

Habib Luthfi menambahkan, ia mengapresiasi acara yang diselenggarakan oleh Komisi HAAK Keuskupan Bogor yang bisa mengumpulkan dan mempersatukan tokoh dan ormas keagamaan untuk duduk bersama, berdiskusi membangun harmoni.

“Pasti jika Ibu Pertiwi ini bisa berbicara. Ia melihat kita semua berkumpul seperti ini, pasti ia akan berkata ‘saya bangga dengan kalian, saya titipkan keutuhan republik ini kepada kalian’,“ ungkapnya

Sementara itu, Uskup Mgr. Paskalis Bruno Syukur dari Keuskupan Bogor juga turut menyampaikan suka citanya atas terselenggaranya acara seminar tersebut. Ia menilai acara ini sebagai salah satu bentuk sumbangsih kepada bangsa dengan tujuan agar bisa hidup bersama harmonis dalam keberagaman.

“Kita memilih tema ‘Harmoni Dalam Kebhinnekaan’ karena kita menyadari bahwa hidup beragama itu mesti membantu umat beragama (lainnya). Itulah sumbangan utama kita untuk bangsa dan negara, yang menekankan hidup dalam persatuan walaupun berbeda,” ujar pria kelahiran 17 Mei 1962 silam ini.

Romo Paskalis Bruno Syukur juga turut memaknai kegiatan ini sebagai peringatan Hari Toleransi Internasional. Menurutnya, toleransi sendiri memiliki makna yang mendalam tentang bagaimana hidup dengan mengimani dan mewujudkan ajaran agama dengan menghormati Tuhan dan sesame manusia.

“Toleransi itu harus muncul dari ‘kesadaran saya akan iman saya’. Kalau kita menyadari bahwa ajaran agama itu sebenarnya untuk menghormati tuhan dan sesama manusia, maka toleransi itu diterapkan. Jadi toleransi itu sangat penting tatkala orang mengimani ajaranya agamanya secara benar dan baik,” jelasnya.

Acara yang dilaksanakan dengan protokol Kesehatan yang ketat ini juga dihadiri oleh Kabid Bintal Ideologi Pusbintal TNI, Kolonel Sus. Yoseph Bintoro yang turut menyampaikan paparannya mengenai penguatan sosialisasi moderasi beragama. Lalu hadir pula Kasubdit Kerawanan Sendi Kehidupan Bernegara Baintelkam Polri, Kombes Pol. Adi Hermawan, serta perwakilan dari ormas keagaamaan lainnya. [damailahindonesiaku.com]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed