by

Membangun Organisasi Pembelajar Bersama Irfan Amalee

Kabar Damai | Sabtu, 27 Mei 2022

Jakarta | kabardamai.id | Mengutip dari perkataan bijak Alvin Toffler, di zaman ini, orang yang buta huruf bukan lagi orang yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi orang yang buta huruf di zaman sekarang adalah orang yang tidak bisa belajar, tidak bisa menguninstall apa yang dipelajari, dan mempelajari ulang. Selain orang, organisasi pun bisa menjadi sebuah organisasi yang buta huruf/illiterate organization. Ketika kita tidak bisa belajar, maka kita akan menggunakan ilmu-ilmu yang terdahulu, padahal itu sudah tidak berlaku.

Banyak organisasi yang 10 tahun lalu masih kita dengar namanya, tetapi sekarang sudah tidak lagi terdengar karena mereka tidak berhasil belajar, learn/unlearn. Irfan Amalee, Pendiri Peace Generation Indonesia dalam Sekolah Keemimpinan Pemuda Lintas Agama mengatakan bahwa untuk mempelajari hal-hal yang bersifat materi, kita dapat mempelajarinya dari internet. “Kita gausah belajar materi, semua ada di google, tetapi kita belajar cara untuk belajar, jadi bukan ikannya tetapi pancingnya”, tuturnya.

Pentingnya Metodologi

Irfan mengungkapkan bahwa metodologi lebih penting dari isi. karena apabila kita hanya diberikan isi, kita hanya akan mencari isi terus menerus dan tidak memperhatikan metodologi.

Ia kemudian melanjutkan pemaparannya tentang 2 tipe organisasi. Sekarang, banyak organisasi formal maupun non-formal menggunakan bukan lagi hierarchical organization, tetapi holacratic organization, di mana dalam holacratic organization, pemimpinnya tidak jelas siapa. Jika kita melihat beberapa organisasi yang tumbuh seperti cendawan di musim hujan seperti Indonesia Berkebun, Indonesia Bercerita, maka hanya dalam kurang dari 3 tahun mereka bertransformasi menjadi organisasi jaringan yang ada di setiap provinsi.

Padahal, apabila kita lihat pada organisasi Muhammadiyah dan NU (Nadlatul Ulama), butuh waktu 1 abad untuk membangun ranting-ranting dan cabang-cabang, bahkan banyak ranting yang mati sekarang. Banyak organisasi yang bahkan tidak memiliki kantor yang resmi dan KOP surat yang resmi namun kegiatannya jelas.

Menurutnya, generasi milenial ini membunuh industri dan juga organisasi. Pada Muhammadiyah dan NU, banyak sekali pengurus yang anak-anaknya tidak mau ikut berkecimpung mengurus organisasi dimana orang tuanya terlibat karena merasa organisasi tersebut tidak cocok dengan mereka karena terlalu formal.

Selanjutnya, Irfan mengajak para peserta untuk berinteraksi dengan memperlihatkan sebuah gambar yang merupakan gambar sarana medical check-up berjalan yang ada di Jerman di mana ketika musim dingin dan orang tidak bisa bepergian keluar untuk memeriksa kesehatan tubuhnya, maka hanya dengan memerlukan aplikasi, maka sarana ini dapat tiba di depan rumah maupun apartemen.

Dalam hal ini, sarana kesehatan tersebut bisa dibilang ‘membunuh’ dokter. Tidak hanya pada industri kesehatan, hal yang sama pun akan menimpa industri hukum. Law Firm sekarang sudah ada artificial intelligent yang akan mengolah data berupa kasus yang diinput dan akan keluar rekomendasi jalan keluarnya. Hal-hal ini merupakan tantangan-tantangan riil yang sudah ada di depan mata kita.

Kemudian, Irfan juga memperlihatkan sebuah laporan dari British Council bahwa selama masa pandemi ternyata ada sisi lain yang tumbuh selain industri farmasi dan industri kedokteran, yaitu dunia aktivisme sosial atau social enterprise. Irfan mengatakan bahwa di masa sekarang, dunia sosial dan dunia industri berkolaborasi, yaitu menjadi social enterprise.

Selama 2 tahun pandemi, ada pertumbuhan yang sangat besar dalam dunia aktivisme di Indonesia. Menurut laporan tersebut, creative dan social enterprise membuat lapangan pekerjaan lebih banyak daripada bisnis-bisnis lain. Hal ini menjadi ranah baru di dunia ini karena di zaman ini, dunia membutuhkan para problem solver.

“Dunia sosial ternyata menciptakan lapangan kerja yang paling cepat dibandingkan pekerjaan lain”, tutur beliau.

Kunci Bertahan dari Krisis

Ada 2 kunci agar perusahaan-perusahaan bisa bertahan dari krisis, yaitu kreativitas dan disiplin.

Menurut Irfan, solusi-solusi dari sebuah masalah biasanya simpel. Namun, yang simpel ini biasanya membutuhkan proses yang rumit. Puncak kekompleksan adalah justru kesederhanaan. Hanya organisasi-organisasi pembelajar yang bisa sampai pada kesederhanaan.

Di dunia aktivisme interfaith dan perdamaian, kita hanya bisa melahirkan kampanye positif dan kreatif, program-program yang menarik jika kita bisa sampai pada proses belajar dan menghasilkan solusi yang kreatif. Kemudian,  Irfan juga menyampaikan bahwa kreatifitas adalah kemampuan menemukan fungsi dan hubungan baru dari benda-benda atau situasi lama.

Beberapa organisasi pembelajar yang memimpin di dunia misalnya Microsoft, pemimpinnya memang memberikan keteladanan menjadi pribadi pembelajar, sehingga organisasinya menjadi organisasi pembelajar. Hampir mustahil bagi sebuah organisasi untuk menjadi organisasi pembelajar jika pemimpinnya bukan seorang pembelajar.

Baca Juga: Pengutamaan Pembelajaran Berbasis Proyek Pada Kurikulum Prototipe

Membaca secara mendalam merupakan sesuatu yang diperlukan sampai kapanpun. Orang-orang yang tergolong memiliki kekayaan yang besar di dunia adalah orang-orang yang sering membaca, seperti Mark Zuckerberg, Carlos Slim, Bill Gates, dan lain-lain.

Ada juga pergeseran yang terjadi dalam organisasi pembelajar. Salah satunya adalah organisasi Zappos. Zappos merupakan sebuah organisasi yang menjual sepatu, tetapi mereka tidak pernah mengakui bahwa mereka menjual sepatu. Mereka selalu mengklaim bahwa mereka menjual kebahagiaan. Jika ada orang yang membeli sepatu tapi tidak bahagia, maka uangnya akan kembali.

Oleh karena itu, mereka membangun sistem yang solid untuk membangun value berupa kebahagiaan tersebut. Salah satunya, ketika wawancara untuk merekrut karyawan akan berlangsung, mereka akan menjemput kandidat yang akan di wawancara untuk datang ke lokasi.

Selama di perjalanan, sang sopir akan mengajak kandidat untuk terus mengobrol. Ketika sampai di kantor, si sopir akan menyatakan bahwa kandidat tersebut telah lolos wawancara dan ternyata sopir tersebut merupakan pewawancaranya. Jika yang di wawancara memiliki nilai-nilai yang ada di Zappos seperti nilai-nilai kebahagiaan, maka ia tentunya akan di terima.

Prediksi Terkait Workplace

Irfan kemudian menjelaskan bahwa dalam proses belajar memerlukan gelombang otak alpha yaitu gelombang yang tenang. Ketenangan ini bisa dibentuk oleh suasana. Oleh karena itu, organisasi pembelajar tidak dapat di bangun apabila suasana belajar tidak tercipta. Ada 5 prediksi yang disampaikan beliau terkait workplace, yaitu:

  1. Dunia kerja masa depan akan lebih mengarah keskill maping;
  2. Kapabilitas akademik yang terfokus akan mengalahkanad hoc training;
  3. Interaksi dengan komunitas akan membantu memperbarui skill;
  4. Organisasi yang punya L&D (learning and development)akan secara radikal mengubah kita;
  5. Organisasi akan mirip sepertimarketplace.

Ada juga beberapa soft skill yang sangat diperlukan oleh organisasi-organisasi masa depan, diantaranya growth mindset, creativity, focus mastery, dan sebagainya. Sebagai penutup, Irfan menyimpulkan bahwa skill yang paling harus dimiliki oleh orang dan organisasi adalah growth mindset. Growth mindset akan membuat pikiran kita untuk belajar apapun dan melihat ancaman sebagai opportunity, bukan sebagai ancaman.

Sesi kelas dilanjutkan dengan tanya jawab antara peserta dan narasumber. Pertanyaan pertama disampaikan oleh Bahrul. Menurut Bahrul, organisasi merupakan seni bercocok tanam. Siapa yang berproses dengan baik dan telaten, maka hasilnya akan baik pula. Namun, banyak tantangan yang saat ini harus kita hadapi, yaitu terkait moderasi dengan hanya membidik beberapa anggota saja yang dijadikan kader maupuun pengurus.

Menurut Irfan, bagaimana kita sebagai organisator dan pemimpin masa depan untuk menyamaratakan kaderisasi yang ada di organisasi itu sendiri?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut,  Irfan mengatakan bahwa di organisasi atau perusahaan, seni pertama yang harus dimiliki adalah bagaimana mencari co-founders. Co-founders inilah yang nantinya secara bersama-sama akan menjadi mitra untuk saling melengkapi.

Kemudian, mencari the first followers, yaitu orang-orang yang yakin pada gagasan kita di awal-awal. First followers ini penting karena merekalah yang akan menghidupkan gagasan kita. Kita sebagai orang yang memiliki visinya harus mentransfer visi dan gagasan kita pada mereka agar mereka yakin. Lama-lama, mereka akan melihat kita tumbuh. Namun, pada gilirannya nanti, akan keliatan secara natural siapa pemimpin selanjutnya.

Jadi, pemimpin itu tidak bisa dibentuk, yang bisa kita lakukan adalah pemerataan dalam memberikan transformasi ilmu. Jadi, semuanya diberikan kesempatan yang terbuka dan lama kelamaan orang yang diberikan kesempatan itu akan membuktikan hasil yang berbeda.

Orang-orang inilah yang akan kita afirmasi. Menurut kak Irfan ini bukanlah hal yang tidak adil, namun ini justru adalah keadilan karena kesempatan diberikan secara merata. Buat sistem pengkaderan yang merata secara keseluruhan, tetapi buat juga sistem pembibitan untuk calon-calon pemimpin masa depan.

Pertanyaan selanjutnya dari Linda. Linda berpikiran bahwa jika ingin mengubah seuatu keadaan maka harus diubah sejak sedari masa anak-anak/masa kecil. Namun, yang memegang kekuasaan sekarang adalah generasi diatas kita, baik generasi boomer maupun generasi Y. bagaimana cara membuat mereka untuk termotivasi untuk learn, unlearn, dan relearn, dan untuk membangun semangat belajar di kalangan mereka. Karena, ada keyakinan bahwa yang muda lah yang harus belajar, bukan generasi di atasnya.

 

Kak Irfan menjawab pertanyaan Linda dengan pengalamannya. Irfan bercerita bahwa ia pernah memberikan training pada orang-orang di kementerian yang bertugas untuk mengakreditasi sekolah-sekolah tentang cara mengatasi radikalisme di sekolah. Namun pada saat itu, mereka malah bersikap menolak/tidak ingin diajari.

Tetapi, dengan kita tidak mengajari dan mengajak mereka main dengan board game ataupun simulasi, mereka akhirnya menemukan sebuah penemuan. Dalam active learning, kita hanya menyajikan sebuah aktivitas yang nanti value nya akan bersama-sama ditemukan. Ini juga seni untuk berbicara dengan orang yang di atas kita dari segi usia dan pengetahuan.

Semua orang pada dasarnya punya kecenderungan untuk mengatakan “saya tahu, jangan ajari saya,” namun, ketika diberikan sebuah experience dan mereka bisa menemukan pengetahuan mereka sendiri, maka mereka akan menyadari pentingnya kolaborasi. Yang kedua, Irfan mengajari sejumlah guru-guru di sekolah-sekolah, dan perkataan yang paling tipikal dari guru-guru tersebut adalah “ah kamu hanya sering memotivasi, coba rasain dulu susahnya jadi saya.”

Tetapi sekarang kondisinya sudah berbeda. Kak Irfan sudah membuat pesantren sendiri dan beliau menerapkan apa yang beliau ajarkan ke para santri dan mereka sekarang mau belajar karena mereka tau bahwa kak Irfan mempraktekkan sendiri. Karya kita berteriak lebih keras untuk mereka.

Langkah Menjadi Pemimpin yang Membangun Organisasi Pembelajar

Kemudian, Kurnia memberikan pertanyaan tentang step apa saja yang perlu dilakukan seorang pemimpin untuk membangun organisasi pembelajar yang pluralis di era modern yang dinamis.

Kemudian, Irfan menjelaskan bahwa step yang pertama adalah keteladanan. Jika kita mau membangun organisasi pembelajar, praktik belajar dari pemimpin harus ada, jangan hanya mengatakan tapi tidak menunjukkannya. Yang kedua adalah sistem. Walaupun pemimpinnya mencontohkan tetapi tidak ada sistem yang mendukung, maka organisasi pembelajar tidak akan terjadi. Sistem terdiri dari sistem keuangan, sistem HR, sistem office, dan lain-lain. Kemudian, alat ukur yang jelas. Caranya adalah dengan membuat survey pada happiness index misalnya. Tiga hal ini adalah hal-hal yang harus ada dalam membangun organisasi pembelajar.

Pertanyaan selanjutnya adalah dari Lita. Lita mengatakan biasanya dalam sebuah organisasi terdiri dari pemikiran yang berbeda-beda. Terkadang, yang tidak se frekuensi malah dijadikan sebuah acuan untuk dikeluarkan. Lita menanyakan pendapat  Irfan terkait dengan kejadian ini.

Menurut Irfan, apabila organisasinya bersifat komunitas, maka dia harus betul-betul inklusif karena ikatannya lebih informal sehingga keragaman apapun bisa mendapatkan tempat yang cukup luas. Tetapi, ada juga organisasi-organisasi seperti Zappos tadi yang merupakan perusahaan, maka mereka sudah menentukan pagar-pagarnya bahwa hanya orang-orang yang bahagia dan bisa memberikan kebahagiaan yang bisa hidup disini.

Oleh karena itu, mereka mengetes orang yang akan masuk dengan melihat kesamaan valuenya. Jadi, yang harus ditetapkan di awal organisasi adalah valuenya, jadi ketika orang ingin menjadi bagian didalamnya maka ia tahu bahwa ia harus align dengan value tersebut.

Menentukan Value Organisasi

Jika valuenya tidak sejalan, maka orang tersebut akan merusak value yang kita bangun. Adapun masalah perbedaan pendapat dan gagasan itu merupakan sesuatu yang dirayakan dan diberikan ruang. Banyak organisasi yang berkonflik karena tidak jelas membuat pagar value nya sejak awal.  Irfan memberi saran kepada Lita bahwa jika ingin membuat organisasi tentukan dulu valuenya apa dan gunakan value sebagai pagar ketika ada orang yang ingin menjadi bagian dari organisasi tersebut.

Selanjutnya, Rosita bertanya terkait karakter anak muda yang sangat menggebu-gebu, ingin tampil, ingin mengutarakan pendapat. Setiap kali ada momen-momen tertentu, masih banyak orang yang merasa ia lebih didahulukan ataupun dibawahi. Banyak hal seperti itu yang yang masih terjadi di lingkungan Rosita.

Sehingga kadang, mereka tidak selesai dengan permasalahan internal. Ketika membahas tentang hal-hal-hal yang lebih jauh, mereka kewalahan dengan jumlah orang-orang yang diajak bekerja. Rosita melihat bahwa setiap mengikuti organisasi, selalu ada model-model yang sama. Namun sampai hari ini, Rosita belum mendapatkan strategi yang jitu untuk menyelesaikan masalah tersebut. Karena selain membuat orang nyaman, ada sesuatu yang bisa kita berikan entah itu uang ataupun mungkin perlakuan yang baik. Namun terkadang, karena masih emosional, Rosita meminta tips dari Kak Irfan untuk hal ini.

Irfan mengatakan bahwa menurut teori, jika kita membuat sebuah gerakan sosial, biasanya masa awal adalah masa yang paling sulit. Jika ada sebuah gerakan yang bisa bertahan selama 3 tahun, maka gerakan tersebut telah melewati masa-masa kritis dan ia harus merencanakan keberlanjutannya. Namun, sebelum ada uang, ada 2 unsur kenapa orang mau melakukan sesuatu, yaitu uang, gaji, pengetahuan, dan relationship.

Pada komunitas yang tidak ada kompensasi uangnya, berarti unsur-unsur lain harus terpenuhi. Misalnya, ketika dalam organisasi tersebut tidak mendapatkan uang, maka paling tidak harus mendapatkan pengetahuan dan relationship yang sehat. Harus ada strategi untuk membangun tim yang sehat.  Irfan mengatakan bahwa ia lebih memilih tim yang kecil dan solid.

Pastikan dalam sebuah organisasi, seseorang mendapatkan 2 hal, yaitu ilmu dan relationship berupa support system yang sehat. Oleh karena itu, organisasi perlu memiliki knowledge management system yang berisikan ilmu-ilmu yang bagus, pemateri-pemateri yang bagus, dan modul yang keren.

Penulis: Harkirtan kaur

Editor: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed