Membangun Etika Publik

Kabar Utama4574 Views

Kabar Damai I Kamis, 23 September 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Duna saat ini semakin berkembang, hal ini menyebabkan pola perilaku dan komunikasi antar satu dan lainnya juga tentu mengalami perubahan. Namun, secara fakta hal ini tidak hanya berhubungan pada hal yang sifatnya positif, ada pula hal-hal yang membuat pola tersebut semena-mena dan berdampak buruk bagi diri sendiri maupun orang lain jika tidak dilakukan dengan baik dan penuh pertimbangan.

Komaruddin Hidayat, Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia turut menyoroti tentang etika dan juga upaya membangun etika diruang publik. Diawal pemaparannya, ia menyatakan bahwa dalam rangka membangun etika ruang publik berkaitan erat dengan karakter dan juga perilaku serta keyakinan seseorang.

“Yang pertama kata etos dari bahasa Yunani itu berkaitan dengan karakter, perilaku, keyakinan dan kemudian etika ini punya dua makna dalam bahasa sehari-hari. Etika artinya sopan santun, dalam pengertian filsafat itu sebuah teori tentang baik dan buruk,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, implementasi yang baik dari moral dan etika diterapkan dengan baik, maka dampaknya akan baik pula.

“Bagaimana membahas dan membicarakan sebuah konsep agar kebaikan itu berlaku dalam masyarakat yaitu dari faham pengertian tentang etik dan atau etika. Jika perilaku yang sudah mapan sehari-hari bernama moral dan etika dilaksanakan dengan baik, maka implementasinya juga diharapkan akan baik,” tambahnya.

Lebih jauh, etika harus dilakukan dan juga dalam berbagai konteks. Kepada siapapun, etika sejatinya sangatlah perlu.

“Kita berinteraksi selalu ada etika, dengan Tuhan ada etika, dengan lingkungan ada etika, dengan sesama, dalam pengertian paling kecil keluarga beda lagi , kemudian kita keluar lagi dalam etika komunal misalnya komunal di gereja beda lagi,”.

“Ketika kita masuk pada wilayah berbeda, maka kebebasan sudah mulai harus berkompromi. Ketika dalam diri sendiri kita berfikir bebas, perilaku apa saja bebas, tapi ketika dan kita masuk keluar serta bertemu keluarga maka sudah harus memperhatikan etika keluarga,” jelasnya.

Baca Juga: Yudhi Latief: Puasa Jadi Landasan dalam Etika dan Moralitas

Menurutnya, ketika seseorang keluar dalam masyarakat, maka harus perhatikan etika komunal dan etika publik karena melewati batas-batas keluarga, batas komunal karena berbicara publik berarti umum lintas agama, etnis,budaya. Etika publik kemudian naik dan meluas menjadi etika global. Ada dalam batas-batas negara.

Berhubungan dengan hal ini, menurutnya ada hal krusial yang harus diperhatikan yaitu tentan bagaimana etika dan moral pada dunia maya.

“Sekarang ada fenomena baru yaitu dunia maya yang belum dibentuk etikanya padahal kemajuannya cepat sekali. Berbagai peraturan beroperasi yang menyertai selalu tertinggal dibelakangnya karena luar biasa komunitas virtual yang lintas etnis, agama, budaya bangsa bahkan diluar sekat-sekat negara,”.

Ia menjelaskan, ada asusmis dasar yang mengatakan bahwa hidup ini panggung kompetisi, dari sekian banyak penduduk bumi yang paling seram adalah manusia. Homo sapiens asumsinya bahwa hidup ini panggung kompetisi, survival dari hanya siapa yang paling kuat, yang bisa beradaptasi itu yang terbaik.

Kelanjutan dari etika ini implikasinya berupa yang hidup itu penuh kompetisi, ada menang dan kalah. Itu kelanjutan konsekuensi logis dari pada asumsi premis bahwa hidup ini adalah persaingan, bebas nantinya masyarakat sosialis atau komunis menjalankan premisnya. Oleh karenanya, beretika dan bermoral baik, tentu akan mendapatkan dampak yang baik. Begitupun sebaliknya, maka lakukanlah apapun dengan sebaik-baiknya.

Penulis: Rio Pratama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *