by

Membangun Budaya Damai bagi Masa Depan Generasi Muda

-Opini-11 views

Musdah Mulia

Setiap hari ketika kita membuka lembaran berita sebuah surat kabar, atau saat secara sadar kita membuka mata ke sekeliling, paradoks realitas kehidupan akan senantiasa menjumpai kita. Di satu sisi, terdapat kemajuan ekonomi, informasi, dan teknologi yang bagi sebagian orang dipercaya peningkatan harkat kemanusiaan, dan oleh karenanya patut diperjuangkan berapa pun biaya yang harus ditanggung.

Di sisi lain, secara ironis dijumpai kenyataan pahit akan meningkatnya jumlah dan kompleksitas masalah sosial, termasuk berbagai bentuk kekerasan. Hal ini menjelaskan bahwa kemajuan ekonomi, informasi dan teknologi tidak senantiasa diikuti oleh keadilan, perdamaian, dan kesejahteraan masyarakat luas. Usainya dua kali Perang Dunia dan Perang Dingin tidak menyurutkan fenomena kekerasan global.

Berbagai bentuk kekerasan saat ini seakan-akan telah menjadi fenomena umum di banyak tempat, termasuk kawasan Asia, dan diduga merupakan manifestasi dari konflik sosial dan rendahnya kualitas pembangunan manusia, terutama di bidang pendidikan. Konflik kekerasan tersebut telah mengacaukan berbagai tatanan kehidupan masyarakat, baik di bidang ekonomi, sosial, budaya, maupun politik.

Baca Juga: Tokoh Agama dan Pandemi: Antara Pencerahan dan Keteladanan

Seakan-akan tidak pernah berakhir, berbagai bentuk kekerasan tersebut terus merebak pada semua wujud kehidupan manusia, baik pada tingkat individu, masyarakat, negara-bangsa maupun internasional. Pada tingkat individu, kekerasan terjadi pada kasus tawuran pelajar, perkelahian antar tetangga, dan sebagainya. Pada tingkat komunal, kekerasan berlangsung dalam konflik antar kelompok masyarakat dalam perebutan sumber daya, mempertahankan nilai-nilai/identitas etnik dan agama kelompok, dan sebagainya.

Pada tingkat negara-bangsa, konflik mencuat untuk mendefinisikan ulang hubungan antar-warga negara dalam konteks kedaulatan dan kelangsungan negara. Separatisme, baik di tingkat regional maupun nasional, menjadi karakteristik konflik negara-bangsa. Sedang pada tingkat internasional, terjadi perang fisik atas nama kepentingan nasional masing-masing.

Berbagai konflk kekerasan tersebut tidak hanya berdimensi lokal dan nasional melainkan global. Saat ini menipisnya batas antarnegara menyebabkan mekanisme otomatis perguliran konflik antarnegara. Konflik di suatu negara akan perdampak langsung pada munculnya konflik sosial terkait di negara lainnya. Sebagai contoh, tregedi 11 September 2001 di World Trade Center, New York, telah membuka jalan ke arah kekerasan baru di banyak tempat dan negara atas nama pemberantasan terorisme internasional.

Demikian juga, politisasi melalui mobilisasi identitas terhadap isu konflik senjata di Palestina, Kashnir, Mindanao, Afganistan telah turut mengkotak-kotakkan masyarakat di berbagai negara berdasarkan ikatan promordial keagamaan, etnisitas atau ideologi politik. Pada gilirannya, jalinan konflik antarnegara tersebut akan memicu konflik kekerasan baru serta merusak kedamaian antarumat manusia.

Dengan demikian meluasnya konflik kekerasan dalam kehidupan sehari-hari kita, maka pemahaman baru tentang konflik, kekerasan, dan bagaimana strategi untuk menghadapi sangat diperlukan saat ini maupun di masa mendatang.

Sementara itu, patut menjadi catatan bersama bahwa kelompok anak-anak dan perempuan termasuk kelompok mereka yang paling rentan terhadap berbagai jenis kekerasan, baik fisik maupun non-fisik. Mereka sulit mengartikulasikan kepentingan diri serta melindungi keamanannya sendiri. Mereka cenderung menjadi sasaran kekerasan pihak lain. Oleh karena itu, pencegahan kekerasan harus beranjak pada perlindungan anak dan perempuan.

Masalahnya, bagaimana penderitaan akibat kekerasan sosial tersebut dapat dicegah atau diatasi? Pengembangan budaya perdamaian merupakan salah satu alternatif solusi untuk dipertimbangkan bersama guna mencegah konflik kekerasan pada semua orang.

Pengertian dan Arti “Culture of Peace”

Dalam konteks masyarakat internasional, istilah Culture of Peace telah digemakan sejak tahun 1997. Majelis Umum PBB (United Nations General Assembly) melalui resolusi No. 52/15 tahun 1997 telah mendeklarasikan tahun 2000 sebagai “International Year of Peace“. Sedangkan resolusi PBB No. 53/25 tahun 1998 menyatakan bahwa periode tahun 2001-2010 sebagai “International Decade for a Culture of Peace and Non-Violence for the Childeran of the World“.

Jelaslah di sini, bahwa urgensi untuk melindungi anak-anak terhdap berbagai bentuk kekerasan telah muncul di tingkat masyarakat internasional.

Jika demikian, apa yang sebenarnya dimaksudkan sebagai Culture of Peace? Resolusi PBB No. 52/13. tanggal 15 Januari 1998 menjelaskan Culture of Peace sebagai berikut :

“The culture of peace is based on the principles established on the Charter of the United Nations and on respects for human rights, democracy and tolerance, the promotion of development, education for peace, the free flow of information and the wider participation of women as an intergral approach to preventing violence and conflicts, and effort aimed at the creation of conditions for peace and its consolidation” (the United Nations A/Res/52/13, 15 January 1998, para.2.).

Jadi, Culture of Peace tidak lain merupakan suatu pendekatan terpadu untuk mencegah konflik kekerasan, yang selanjutnya membantu terciptanya dan terpeliharanya kondisi perdamainan. Melalui Culture of Peace, wacana dan praktik kekerasan akan direduksi, sehingga dapat merealisasikan perdamaian antarmanusia maupun antara manusia dengan lingkungan hidupnya.

Dalam konteks di atas, nilai-nilai penghargaan terhadap hak asasi manusia, demokrasi dan toleransi, promosi pembangunan, pendidikan untuk perdamaian, arus informasi secara bebas, dan partisipasi perempuan yang lebih luas, sebagai elemen-elemen Culture of Peace, harus direalisasikan secara tuntas.

Sebaliknya, Culture of War merupakan budaya yang cenderung memicu konflik kekerasan, merusak kondisi perdamaian dan konsolidasinya. Dengan demikian, Culture of War merupakan sisi perlawanan dari Culture of Peace. Penguatan Culture of Peace secara langsung akan memperlemah Culture of War, begitu pula sebaliknya. Nilai-nilai kekerasan dan intoleransi sebagai inti Culture of War telah melandasi terjadinya konflik, peperangan dan penderitaan bagi ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih sejak zaman purba kala sampai dengan saat ini.

Dalam perkembangannya, bentuk-bentuk kekerasan telah bermetamorfose dari fungsi semula sebagai bagian dari mekanisme pertahanan diri menjadi sesuatu yang lebih berbahaya, yaitu agresi dan perang untuk menaklukan pihak lain demi pemuasan kepentingan/ keserakahan pribadi atau kelompok. Akibatnya, darah dan air mata telah mewarnai sejarah peradaban manusia.

Guna membangun kembali hakikat manusia sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, pengembangan Culture of Peace patut dilakukan oleh semua pihak, baik secara individu maupun secara kelembagaan.

Dalam konteks pengembangan Culture of Peace tersebut, salah satu hal mendasar yang patut dipikirkan bersama adalah bagaimana komunitas agama-agama dapat berperan aktif untuk memberikan landasan nilai perdamaian dan toleransi. Nilai-nilai perdamaian dan toleransi pada semua ajaran agama sesungguhnya berpotensi untuk menerangi gerak langkah para pemuka agama serta semua umat beragama dalam mewujudkan perdamaian sejati di lingkungan hidupnya masing-masing.

Masalah yang harus diperhatikan adalah bahwa hubungan antarumat beragama tidak selamanya berlangsung damai. Konflik dan kekerasan bernuansa agama dapat terjadi di mana pun juga, termasuk di negara-negara Asia. Namun demikian, kita memahami bahwa konflik antaragama tersebut sesungguhnya tidak pernah dianjurkan oleh ajaran mana pun juga, melainkan lebih sebagai dampak dari mobilisasi identitas keagamaan dalam perjuangan kepentingan antarpihak, termasuk mereka yang berbicara atas nama agama, dalam memperjuangkan keadilan atau justru untuk memperebutkan berbagai jenis sumber daya, kekuasaan, dan nama baik.

Dengan demikian, agama-agama, sebagai media pengatur hubungan spiritual seorang individu dengan Tuhan Yang Maha Esa serta hubungan sosial antar- umat manusia, sesungguhnya masih dapat diharapkan sebagai kekuatan transformatif diri dan masyarakat dalam mencapai kemajuan bersama dalam semua aspek kehidupan, termasuk kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan.

Pentingnya Budaya Damai Generasi Muda

Pengembangan Culture of Peace baru efektif jika dilakukan secara mendasar, yaitu mengacu pada pencapaian perdamaian dan kesejahteraan sejati di masa mendatang. Untuk ini, salah satu faktor strategis yang harus diperhatikan adalah bagaimana generasi muda, khususnya anak-anak, dapat menghayati arti Culture of Peace secara utuh dalam hidup mereka sendiri.

Proses pengembangan Culture of Peace di kalangan anak-anak tidak dapat terlepas dari kegiatan pendidikan yang mereka peroleh di rumah, sekolah, serta masyarakat. Sejauh ini pendidikan di banyak negara masih menunjukkan kesulitan dalam membantu proses belajar siswa untuk menjadi manusia seutuhnya. Tentu banyak faktor yang mendasari hal ini, antara lain lemahnya infrastruktur pendidikan (dana, sumber daya manusia, kurikulum, dan sebagainya), penekanan berlebihan atas kemampuan kognitif serta melupakan aspek afektif, budaya kekerasan yang masih kuat dalam kehidupan masyarakat luas, dan sebagainya.

Untuk pengembangan Culture of Peace di kalangan anak-anak, beberapa faktor kritis yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Pemahaman tentang kecenderungan penyelesaian masalah perdamaian dan kemanusiaan di tingkat lokal, nasional, dan global di masa mendatang, serta peranan Culture of Peace dalam upaya-upaya perdamaian tersebut. Termasuk dalam hal ini, seberapa jauh budaya kekerasan dalam masyarakat dapat direduksi serta dikonversi menjadi budaya perdamaian.
  2. Pemahaman tentang seberapa jauh pendidikan yang diterima oleh anak-anak saat ini di rumah, sekolah, dan masyarakat berperan dalam pembentukan Culture of Peace.
  3. Persiapan infrastruktur pendidikan perdamaian, termasuk jumlah dan kualitas sumber daya manusia, institusi pendukung, dan teknologi.
  4. Meningkatkan komitmen negara dan partisipasi masyarakat luas dalam pembentukan Culture of Peace. Dalam hal ini, berbagai potensi dalam komunitas agama-agama, baik pada tingkat nasional maupun internasional, harus dikerahkan secara maksimal ke arah terwujudnya Culture of Peace.

Selanjutnya, pendidikan Culture of Peace harus berfokus pada perbedaan minat, bakat, dan kapasitas masing-masing anak. Walaupun perlu dibangun suatu sistem pendidikan umum untuk pengembangan Culture of Peace, tetapi generalisasi berlebihan atau bahkan pemaksaan partisipasi bagi anak-anak tersebut hanya akan menghasilkan kegagalan implementasi pendidikan Culture of Peace semacam ini. Anak harus mampu mengekspresikan dirinya sendiri dalam mengembangkan budaya perdamaian.

Dengan demikian, dukungan keteladanan, kesabaran, kreativitas/ imajinasi, dan konsistensi dari pihak keluarga, sekolah, dan masyarakat luas sangat penting untuk melibatkan anak-anak secara efektif dalam pengembangan Culture of Peace. [ ]

Prof. Dr. Musdah Mulia, Ketua Umum ICRP

Sumber: https://muslimahreformis.org/beranda/post_perdamaian/membangun-budaya-damai-bagi-masa-depan-generasi-muda/

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed