by

Memanfaatkan Perkembangan Zaman Sebagai Sarana Pemersatu

Oleh: Son Junior Estomihi

Di zaman prasejarah, manusia purba berkomunikasi melalui informasi di dinding-dinding gua. Mereka menceritakan pengalaman berburu dan binatang buruannya. Mereka melukis untuk mewakili berbagai hal yang hendak dikatakan. Obrolan di antara manusia masih sebatas dengusan, bahasa isyarat, dan gerakan tangan.

Di masa sejarah, teknologi komunikasi berevolusi menjadi lebih baik. Proses menggambar di dinding gua masih berlangsung. Namun, berkembang lagi caranya dengan menggunakan simbol seperti pada masa kehidupan Bangsa Sumeria yang memakai huruf piktograf di era 3000 SM. Periode 2900 SM muncul huruf hieroglif oleh bangsa Mesir kuno. Di tahun 1570-1045 SM, sistem menulis ikut berkembang pada masa dinasti Shang di Cina.

Masuk ke masa tahun 500 SM, bangsa Mesir kuno memakai pohon papyrus sebagai kertas. Serat papyrus ditulisi beragam informasi.Selanjutnya, Tsai Lun dari bangsa Cina menemukan kertas dari serat bambu dan memungkinkan sistem pencetakan memakai blok kayu yang ditoreh dan dilumuri tinta.

Pada masa modern teknologi komunikasi telah memungkinkan informasi bisa menyebar sangat luas. Di masa ini ditemukan koran, telegraf, telepon, mesin ketik, radio, televisi, hingga internet yang memudahkan orang berkomunikasi sekaligus menyampaikan informasi lebih cepat.

Sarana Pemersatu

Sarana pemersatu, mencegah intoleran, dan menerima keragaman di Indonesia bisa juga di sebut Bhineka Tunggal Ika, Bhineka Tunggal Ika adalah semboyan negara yang tertulis dalam lambang Indonesia Garuda Pancasila. Semboyan negara ini menggambarkan kondisi Indonesia yang memiliki keragaman budaya, namun menjadi satu bangsa.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia sehingga sangat wajar jika memiliki banyak suku, agama, ras, dan antar golongan. Keragaman tersebut hidup saling menghormati dan menghargai dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Bhinneka Tunggal Ika diangkat dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular di Kerajaan Majapahit (abad ke-14). Arti bhinneka adalah beragam sedangkan tunggal adalah satu. Arti Bhinneka Tunggal Ika secara harfiah ditafsirkan sebagai bercerai tapi satu (berbeda tapi tetap satu). Semboyan ini digunakan sebagai ilustrasi identitas alami Indonesia dan dibangun secara sosial budaya berdasarkan keragaman.

Baca Juga: Menjadi Pemuda Cerdas dan Tolak Ideologi Transnasional

Bhinneka Tunggal Ika adalah karakter pembentuk dan identitas nasional. Semboyan ini membantu masyarakat Indonesia memahami, Indonesia yang pluralistik memiliki kebutuhan akan ikatan dan identitas yang sama. Kesamaan identitas mencegah Indonesia tercerai berai karena dilatari keragaman budaya. Tujuan Bhinneka Tunggal Ika adalah memunculkan keinginan menerima dan menghargai keragaman. Tanpa keinginan tersebut akan sulit mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Keinginan tersebut menjadi awal terbentuknya nasionalisme pada bangsa Indonesia. Pembangunan kesadaran nasionalisme lewat Bhinneka Tunggal Ika adalah upaya menjaga loyalitas serta dedikasi pada bangsa dan negara.

Bhineka Tunggal Ika merupakan sebuah sikap yang harus dikembangkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk di era digital saat ini. Literasi digital diperlukan untuk dapat memupuk sikap tersebut.

Fenomena maraknya penyebaran paham radikal di ruang digital terjadi karena masyarakat merasa kehadiran ruang digital bukan merupakan bagian dari realitas. Di sini peran penting literasi digital, kita harus memberikan pemahaman apa yang kita lakukan secara fisik seharusnya terefleksikan juga saat beraktivitas di ruang digital.

Berdasarkan hasil studi RAND Europe tentang radikalisme di ruang digital, terdapat beberapa wawasan menarik yang menunjukan sisi negatif ruang digital yang dapat mengancam pertumbuhan Bhineka Tunggal Ika. Pertama, ruang digital beserta karakteristiknya dapat digunakan untuk memfasilitasi penyebaran konten-konten yang menghambat pertumbuhan Bhineka Tunggal Ika dan rasa Toleransi.

Kedua, ruang digital bertindak sebagai echo chambers sehingga memudahkan konten radikalisme untuk menemukan target yang sesuai. Ketiga, ruang digital memungkinkan terjadinya percepatan radikalisasi.

Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai Sarana Pemersatu, Mencegah Intoleran dan, Menerima Keragaman seringkali masih terhambat oleh karena orang-orang yang tidak bertanggung jawab dalam menggunakan ruang digital untuk menyebarkan hal-hal yang bisa mengadu domba masyarakat.

Di Indonesia Radikal tidak di benarkan karena tidak sesuai dengan identitas bangsa ini, untuk mencegah orang-orang yang berusaha mengadu domba dan menyebarkan paham radikal di ruang digital kita bisa mengajak masyarakat khususnya anak muda, menggunakan sosial media secara bijak, tidak untuk hal-hal negatif, dan tidak menyebabkan konflik.Perkembangan di era globalisasi dan masa Modern membawa dampak ke seluruh dunia. Teknologi Informasi yang kian semakin pesat membawa banyak dampak ke kehidupan masyarakat. Kebanyakan dampak yang sering terlihat adalah dampak negatif. Oleh karena itu kita sebagai anak muda harus aktif di ruang digital serta mengajak masyarakat untuk menggunakan ruang digital yang ada dengan bijak, serta sebagai anak muda di masa Modern kita juga harus ikut serta menyebarkan Bhineka Tunggal Ika agar Teknologi Informasi sebagai Sarana Pemersatu, Mencegah Intoleran, dan Menerima Keragaman bisa tercapai.

Oleh: Son Junior Estomihi, Siswa SMAN 1 Pontianak

Diolah dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed