by

Memanfaatkan dan Mengembangkan Potensi Eduwisata di Indonesia

-Opini-25 views

Oleh: Rio Pratama

Kebudayaan adalah kekayaan berupa benda maupun non benda yang diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lain. Seperti yang diungkapkan Koentjaraningrat (200:181), Kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Kebudayaan tumbuh dan berkembang seiring waktu.

Mendapat penambahan maupun pengurangan di setiap generasi hingga menjadi yang kita kenal sekarang. Kebudayaan juga yang membuat manusia beradab. Semakin tinggi kebudayaan, semakin beradablah manusia itu.

Dewasa ini, budaya sering diaplikasikan sebagai alat pemersatu bangsa. Keragaman budaya sebagai satu anugerah dari bentuk geografis yang dijadikan sebagai rantai yang merangkul dan menjaga keutuhan NKRI. Multikulturalisme bukan alasan untuk berkonflik, melainkan untuk berbaur menjadi satu. Pelangi takkan indah jika hanya terdiri dari satu warna, begitu juga Indonesia.

Jika berpikir secara luas dan terbuka, sejatinya kebudayaan tak hanya dipandang sebagai alat pemersatu bangsa. Lebih dari itu, kebudayaan dapat dikembangkan menjadi salah satu “produk” unggulan pariwisata.

Pada masyarakat modern, heritage  seringkali dijadikan komoditas yang bernilai ekonomis khususnya untuk  kepentingan industri pariwisata (Graham, 2000). Berangkat dari situlah muncul ide untuk menggabungkan wisata dan budaya serta menjadikannya menjadi produk wisata baru yang disebut Eduwisata.

Dulu kita mengenal ecowisata, konsep wisata alam. Sekarang berkembang lagi eduwisata. Eduwisata adalah konsep baru dari pariwisata yang menggabungkan dua unsur yang berbeda, namun saling terkait.

Edu berasal dari edukasi yang berarti pendidikan. Sedangkan wisata bermakna pergi bersama-sama untuk tujuan bersenang-senang. Jadi dengan menggabungkan pendidikan dan wisata, akan dihasilkan produk unggulan baru dibidang pariwisata yang tidak hanya memuaskan mata dan batin, tetapi juga pulang dengan oleh-oleh ilmu.

Diakhir tahun 2015 lalu, mulai diberlakukan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) atau AEC (Asean Econimic Community). MEA adalah pengintegrasian ekonomi di wilayah Asia Tenggara dengan membentuk sistem perdagangan bebas atau free trade. Hal ini sebagai realisasi dari KTT di Kuala Lumpur pada 1997 dan Bali pada 2003. Tujuannya jelas, untuk memajukan ekonomi masyarakat dikawasan Asia Tenggara.

Baca Juga: Wisata Religi Lintas Iman yang Unik dan Indah di Makasar

Banyak pro dan konta di masyarakat mengenai MEA. Terlebih karena Indonesia dirasa kurang siap baik dalam segi infrastruktur, daya saing, penguasaan bahasa Inggris. Produk-produk perdagangan Indonesia juga kalah bersaing dari sembilan anggota MEA yang lainnya.

Industri Indonesia jelas kalah bersaing dengan Malaysia dan Singapura. Oleh karena itu jika kita hanya berfokus pada perdagangan, kita akan tertinggal. Ada bidang lain yang potensial untuk digarap.  Perlu alternatif agar Indonesia memiliki daya saing di bidang ekonomi dan dapat mendominasi MEA.

Salah satu caranya adalah pariwisata. Indonesia dikenal dengan keragaman budayanya. Ini adalah modal yang sangat potensial jika digarap dengan baik dan serius. Multikulturalisme dengan toleransi yang tinggi di indonesia sangat menarik untuk dilihat lebih dekat. Melihat bertapa potensial kebudayaan Indonesia, saya mencoba menggabungkan konsep wisata edukatif dengan budaya. Jadilah Eduwisata Budaya.

Bercermin pada Jepang, negara maju dari timur Asia. Negara yang dianggap sebagai kiblat teknologi canggih. Dengan kemajuan yang dialaminya, apakah dia lupa akan kebudayaannya? Jawabannya tidak. Budaya timur tetap dijaga. Menilik kebelakang, semestinya sebuah kebudayaan lama akan tergerus atau bahkan hilang ditelan kebudayaan baru yang lebih maju.

Namun nampaknya teori ini tak berlaku bagi Jepang. Kemajuan diberbagai bidang malah membuat kebudayaannya tumbuh subur hingga ke permukaan. Menurut sebuah situs yang mengulas tentang traveling, yakni www.jalansanasini.com, ada lima alasan utama mengapa orang memilih liburan ke Jepang dan salah satunya adalah kebudayaannya yang menarik.

Namun budaya yang seperti apa yang dapat dijadikan wisata? Lowenthal menyarankan, pengelolaan warisan budaya menjadi pariwisata lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat non fisik daripada fisik. Jadi ibaratnya, produk-produk kerajinan hanya sebagai properti tambahan atau souvenir. Yang lebih dimaksimalkan adalah bagaimana pola kehidupan masyarakatnya serta bagaimana proses pembuatan kerajinan yang menjadi titik fokus subjek dari pariwisata kebudayaan.

Belum banyak variasi eduwisata budaya. Tapi sudah ada beberapa daerah ang menyulap desa menjadi desa wisata yang menawarkan kearifan lokal dan budaya serta hasil-hasil dari kebudayaan tersebut. Sejak tahun 2012 tercatat Indonesia memiliki 967 desa wisata yang tersebar ditanah air. Yang paling terkenal diantaranya adalah Desa Pekraman Jasri di Gianyar, Desa Dieng Kulon di Banjar Negara, dan Desa Bejiharjo di Gunung Kidul.

Desa wisata yang ada sebenarnya sudah cukup baik. Namun gempuran negara-negara lain anggota MEA membuat desa wisata tadi harus berbenah lagi agar mampu mengungguli. Mulai dari menarik perhatian wisatawan, ada produk yang dapat dimiliki, ada unsur kepuasan setelah mengunjunginya. Perlu dilatih dan dibimbing oleh pemerintah terkait agar desa wisata mampu berkembang dan bisa menarik wisatawan, khususnya dari mancanegara agar peningkatan perekonomian dari bidang pariwisata bisa naik signifikan. Jadi ekspor impor bukan tumpuan utama ekonomi Indonesia.

Banyak kekurangan yang harus dibenahi. Mulai dari infrastruktur jalan, bangunan pendukung, keterbatasan komunikasi, pengarah (guide), stand penjual produk kerajinan, kebersihan, hingga promosi dari pihak pemerintah.

Biasanya desa wisata jauh dari kota besar. Jika akses jalan jelek dan aksesnya susah, orang tak akan mau berkunjung ke desa itu. Oleh karenanya diperlukan jalan yang baik dan akses yang mudah. Bila perlu disediakan sarana transportasi khusus. Penunjuk jalan juga harus diperhatikan agar turis baik lokal maupun asing tidak kebingungan mencari jalan.

Masalah selanjutnya adalah sarana pendukung seperti bangunan tempat istirahat, seperti penginapan, tempat makan, dan pendopo. Kadang mengelilingi desa wisata tak cukup sehari. Terlebih bagi orang yang ingin mempelajari lebih dalam mengenai kebudayaan daerah tersebut atau sedang belajar membuat kerajinan khasnya. Jadi seharusnya disediakan penginapan baik yang dikelola pemerintah terkait atau masyarakat sekitar.

Keterbatasan komunikasi juga merupakan permasalahan pelik yang menghampiri desa wisata dan juga wisata-wisata lain di Indonesia. Bahasa Universal, yakni bahasa Inggris kurang dipahami oleh penduduk lokal. Jadi jika ada wisman berkunjung, pasti akan kelabakan dan kebingungan. Mungkin suatu saat nanti akan timbul keinginan dari pemerintah ataupun ormas-ormas untuk mengajarkan bahasa Inggris bagi penduduk desa yang berhubungan langsung dengan turis, atau bisa pula memanfaatkan kemampuan mahasiswa sebagai generasi terdidik guna mengajarkan bahasa Inggris itu kepada masyarakat.

Namun sebelum itu, ada masalah lain yang perlu dibenahi. Masalah paling penting, yang pertama dan yang utama, yaitu kesadaran. Disinilah peran pemuda sebagai motor penggerak perubahan kesadaran. Meminjam istilah “Revolusi Mental” pak Jokowi, kita juga harus merubah pandangan umum tentang wisata. Pemuda sebagai pelari yang akan meneruskan operan masa depan negeri dari para pelari sebelumnya harus mampu berbuat banyak untuk negerinya.

Kesadaran akan wisata dan budaya perlu ditumbuhkan. Mulai dari sedini mungkin. Seharusnya pengajaran mengenai pariwisata tidak hanya ditujukan pada mahasiswa di perguruan tinggi atau sekolah menengah kejurusan khusus pariwisata. Namun, pada dasarnya, mahasiswa memang sudah seharusnya mengambil peran dalam hal kesadaran akan pentingnya hal ini.

Memang menyalahkan pemerintah terkait lambatnya perkembangan pariwisata dan wisatawan yang berkunjung tak akan ada habisnya. Mulai dari promosi yang kurang hingga anggaran untuk pengembangan pariwisata yang dikorupsi. Cakap-cakap ringan di warung kopi tidak akan menyelesaikan masalah. Justru malah menambah pelik problema kepariwisataan Indonesia. Bung Karno pernah bilang, “Jangan tanyakan apa yang diberikan negerimu untuk kamu, tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan untuk negri ini”. Jadi sudah jelas, tak perlu menunggu pemerintah bergerak, mulailah dari diri sendiri. Satu langkah kecil lebih baik dari seribu ucapan.

Media sosial, adalah sarana interaksi baru bagi pemuda, pengguna aktif dengan kuantitas yang besar diantaranya adalah para mahasiswa. Penggunaannya harus bijak, terlebih harus bermanfaat. Mengenalkan budaya sendiri sebagai eduwisata unggulan bisa dimulai dengan memposting gambar yang menarik tentang objek budaya, dengan caption yang menarik dan mempertegas maksud dari gambar tersebut.

Lalu membuat Hashtag, contohnya #WisataBudayaPontianak. Lalu ajak orang disekelilingmu yang juga peduli dengan wisata dan budaya untuk melakukan hal yang sama. Langkah kecil memang tak terlalu diperhatikan. Namun akan bermakna jika dilakukan banyak orang. Ini bisa jadi ajang promosi wisata budaya daerah masing-masing.

Lebih lanjut lagi, mahasiswa bisa membuat sebuah komunitas dengan orang-orang yang memiliki tujuan sama. Jadilah pioneer atau yang mencetuskan sebuah komunitas, atau paling tidak menjadi anggota. Madarwis (Mahasiswa Sadar Wisata) adalah salah satu bentuk kelompok pemuda yang sadar dan peduli dengan pariwisata. Ada lagi MABM (Majelis Adat Budaya Melayu) yang konsen terhadap nasib kedepannya kebudayaan melayu. Bisa saja kedua konsep komunitas yang berbeda dirangkul menjadi satu. Menggabungkan wisata dan budaya dengan satu tujuan, memajukan keduanya.

Berbagi wawasan tentang pariwisata dan budaya juga penting. Dengan lebih mengenal, kita akan lebih peduli. Jadilah mahasiswa yang suka sharing mengenai hal-hal positif, terutama yang bisa memajukan wisata budaya daerahnya. Komunitas tadi adalah wadah yang sangat baik untuk mengungkapkan ide dan membagi ilmu dengan para pemuda maupun masyarakat lain. Sekecil apapun ide dan ilmu yang diberikan, insyaallah akan bermanfaat untuk membangun pariwisata dan budaya di Indonesia.

Namun melihat kebudayaan jangan hanya dari segi pemanfaatan, lihat juga sisi konservasi. Tanpa keseimbangan antara pemanfaatan dan perawatan serta penjagaan, wisata budaya tidak akan bertahan lama. Tak ubahnya seperti gunung atau pantai perawan yang begitu didatangi banyak wisatawan, akan menjadi kotor karena kurangnya kepedulian akan kebersihan.

Ingat kata Bung Karno, “Beri aku 1000 orang tua, akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku satu orang pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Jadilah pemuda yang berbuat banyak untuk negara. Lakukan hal yang positif untuk mengisi masa muda. Masa depan negara tergantung apa yang diperbuat oleh para pemudanya. Kemunduran pemuda adalah awal hancurnya suatu bangsa, bangkitnya pemuda adalah awal kemajuan satu bangsa.

Harapan kedepannya, dengan peran para mahasiswa muda dalam mengembangkan wisata yang ada dengan memanfaatkan keberagaman dan menjadikannya konsep eduwisata, Indonesia akan mampu bersaing dengan negara lain dan menjadi salah satu negara tujuan wisata edukatif terbaik di Dunia.

Rio Pratama, Reporter Kabar Damai

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed