by

Memandikan Jenazah Perempuan, Imam Nakha’i: Bukan Penodaan Agama

-Kabar Utama-265 views

Jakarta | kabardamai.id | Empat orang petugas forensik RSUD Djasamen Saragih Kota Pematangsiantar ditetapkan sebagai tersangka. Mereka dianggap menistakan agama karena telahmemandikan jenazah perempuan asal Serbelawan, Kecamatan Dolok Batu Nanggar, Kabupaten Simalungun.

Keempat pria tersebut, yakni DAAY, ESPS, RS, dan REP. Dua di antaranya berstatus sebagai perawat, dijerat Pasal 156 huruf a juncto Pasal 55 ayat 1 tentang Penistaan Agama.

Menanggapi hal itu, cendikiawan muslim Imam Nahka’i mengatakan bahwa hal tersebut bukan dinilai seagai penistaan atau penodaan agama. Bahkan komisioner Komnas Perempuan ini merasa terkejut ketika ‘penista’ agama disangkakan kepada keempat orang tersebut.

“Sangat mengejutkan “tuduhan penodaan agama” kepada perawat-perawat  Non Muslim (mohon maaf saya menyebut non muslim dan kafir, baca putusan NU Banjar), yang telah memandikan mayit Muslim , yang tentu dilaksanakan dengan Ikhlas dan rasa kemanusiaann,”  tulisnya di linimasa facebooknya @imam.nakhai1, Selasa (23/2).

Menurut Imam Nakha’i, ulama-Ulama ternama yang menegaskan bahwa tuduhan “penodaan agama” kepada Non Muslim  karena memandikan janazah Muslim tidaklah berdasar, melainkan didasarkan atas kebencian, entah benci kepada siapa.

“Dalam beberapa kitab-kitab Fiqih, seperti kitab al-Majmu’ Syarah Muhaddab (23 Jilid), dikatakan bahwa Umat Islam boleh Memandikan janazah kafir, apalagi jika ia berstatus kafir dhimmiy, bahkan juga mengkafani dan memandikannya,” terang Nakha’i.

Alumni pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyyah, Sukorejo, Situbondo ini mengutip salah satu keterangan yang tertulis dalam kitab  al-Majmu’ sebagai berikut.

“Boleh bagi umat muslim dan lainnya memandikan jazanah kafir. sekalipun yang lebih utama memandikannya adalah kerabatnya yang kafir ketimbang kerabatnya yang muslim. Adapun mengkafaninya dan menguburkannya, maka ulama berbeda pendapat apakah ia wajib bagi muslim jika janazahnya kafir dhimmi? Ada dua pendapat. Pendapat yang paling shahih mengatakan, muslim wajib mengkafaninya dan menguburkannya, sebagaimana wajib memberi makan pada mereka kalau lapar, dan memberi pakean ketika telanjang.”

Kesimpulan dari teks ini, papar Nakha’I, umat Islam boleh memandikan, mengkafani dan menguburkan janazah kafir.

 

Non Muslim Memandikan Janazah Muslim

Logikanya, menurut alumni Pascasarjana Hukum Islam UNISMA Malang ini, jika Muslim boleh memandikan janazah kafir dan pasti bukan penodaan agama, maka sebaliknya juga boleh dan juga pasti bukan penodaan agama.

“Kita yang berpikir adil  pasti tidak akan membayangkan bahwa non muslim yang memandikan janazah muslim adalah berniat menodai atau merendahkan ajaran Islam,” tandasnya.

Dalam kitab yang sama, sebut Nakha’I,  dikatakan:

“Ulama dawuh “Imam Syafi’i menegaskan bahwa” Memandikannya kafir kepada Janazah Muslim adalah “shahih” (sebab memandikan janazah tidak harus berniat), dan tidak wajib kepada umat Islam mengulangi lagi memandikannya.”

Teks ini, menurut Nakha’i, jelas sekali menyatakan bahwa orang kafir boleh memandikan janasah Muslim, bukan hanya boleh tapi sudah dianggap sah, sehingga umat Islam  tidak perlu mengulanginya lagi.

“Jadi kalau menurut kitab-kitab fiqih hal itu boleh dilakukan, maka dimana penodaan agamanya?,” tanyanya.

Lantas, bagaimana dengan tidak adanya hubungan “kemahraman” antara yang memandikan dengan janazah yang dimandikan?

“Jika ada laki-laki meninggal dan hanya ada perempuan lain yang memandikan, atau ada perempuan meninggal dan di sana hanya ada laki-laki bukan mahram, bolehkan ia memandikannya? Ada tiga pendapat. Pendapat kedua menyatakan boleh memandikan dengan syarat menggunakan sarung tangan, dan sebisa mungkin tidak melihat bagian auratnya, kecuali dalam keadaan terpaksa, maka boleh seperti dokter boleh melihat aurat untuk kebutuhan pengobatan,” papar Nakha’i.

Selanjutnya, lelaki yang pernah mengikuti Pendidikan Pengkaderan Ulama’ Majlis Ulama Indonesia (PKU-MUI) ini menambahkan bahwa, hal lain yang penting diingatkan adalah bahwa “fasal penodaan agama” dalam Islam masuk dalam kategori “hudud”.

“Dalam Hudud ada prinsip yang sangat terkenal, bahwa kita tidak boleh melaksanakan “hukuman hudud” jika masih ada keraguan sedikit saja bahwa itu penodaan atau bukan,” tuturnya.

Oleh karenanya, kata Nakha’I, kasus yang terjadi di salah satu kabupaten di Indonesia, bukan hanya ada keraguan, melainkan sebaliknya, jusrtru dugaan kuat, bahkan ia bisa memastikan,  itu bukan penodaan agama.

“Karena agama membolehkan. Ketika agama membolehkan, dan kemudian dilakukan, apalagi atas dasar kemanusiaan, maka pastilah ia bukan penodaan agama. Kita wajib bertanya, pada sahabat kita yang telah memandikan itu, apakah ia bermaksud merendahkan agama?. jika kita tidak bertanya, lalu menuduh, padahal ia melakukannya secara ikhlas dan atas dasar kemanusiaan, maka kita telah melakukan kedhaliman besar karena kebencian kita terhadap sesama,” pungkasnya dalam status yang sudah 90 kali dibagikan oleh orang lain.

Imam Nahka’I berharap penjelasannya ini didengar (dibaca) oleh kejaksaan, kepolisian, dan juga hakim yang akan menangani peristiwa ini. [AN]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed