by

Memamerkan Nilai-nilai Pancasila Melalui Lukisan

Kabar Damai I Rabu, 23 Juni 2021

Sleman I kabardamai.id I Sekira 50 pelukis mengikuti Pameran Seni Lukis yang berlangsung di Hartono Mall, tanggal 21-27 Juni. Para pelukis tersebut adalah seniman profesional sampai penghobi. Bahkan ada polisi pelukis yakni Chrynanda.

Hal itu disampaikan Koordinator Lapangan Pameran Seni Lukis Jiwa Pancasila Agus Nuryanto, A.Md di sela-sela persiapan pameran, Minggu (20/6). Pameran lukis ini yang diselenggarakan oleh DPC (Dewan Pimpinan Cabang) HIPPI (Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia) Sleman, Hartono Mall dan Komunitas Perupa Sleman (KPS), kata Agus yang juga salah seorang pengurus di DPC HIPPI Sleman ini. Acara ini akan dibuka oleh Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, SE.

Dilansir dari laman BPIP, mameran ini mengambil tema “Jiwa Pancasila”, karena bertepatan dengan hari jadi Pancasila. Dari Semua lukisan ini menggambarkan nilai-nilai Pancasila antara lain dengan menampilkan keindahan dan keteduhan. Lukisan yang ditampilkan dari berbagai aliran seni rupa seperti realis, impresif, dekoratif dan abstrak.

Baca Juga: Aktualisasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

Lebih lanjut Agus menjelaskan pada hakekatnya karya seni lukis yang disajikan sebagai karya indah dan sopan itu sudah menggambarkan jiwa Pancasila. Harapan dari pameran lukis ini adalah sebagai kesinambungan antara pelukis dan penikmat seni.

“Senilah yang menyatukan kita di antara hiruk pikuk politisi. Tidak ada yang salah dalam dunia seni. Semuanya benar. Itulah jiwa dari seorang seniman dan itulah semangat yang menyatukan kita,” jelasnya, dikutip dari bpip.go.id (22/6).

Ketua Panitia Pameran Seni Lukis Achmad Rifai,SE mengakui pameran seni lukis di Mall memang jarang karena biasanya di galeri atau di lobby hotel. Dengan adanya pameran seni lukis di Mall diharapkan memberikan peluang yang berbeda bagi para pelukis untuk menjual hasil karyanya. Apalagi di mall terbesar dan grade paling tinggi di Yogyakarta yakni Hartono Mall sehingga ada nilai plusnya, ujar Rifai yang juga sebagai Koordinator Bidang Kemitraan dan Promosi DPC HIPPI Sleman.

“Kalau pameran seni lukis diselenggarakan di Galeri atau di Lobby Hotel biasanya yang mengunjungi hanya yang tahu seni lukis. Tetapi kalau pameran seni lukis ini diselenggarakan di Mall maka yang tidak tahu lukisan pun bisa membeli,” ungkapnya.

Rifai mengatakan dengan ada kasus COVID-19 yang semakin meningkat peserta pameran maupun jumlah lukisan dikurangi yakni hanya sekitar 55 peserta dengan 60 karya lukis.

“Sebetulnya bisa untuk sekitar 100 peserta. Di samping itu panitia pameran seni lukis maupun dari pihak mall juga menerapkan protokol kesehatan lebih ketat yakni di setiap ujung venue selalu disediakan hand sanitizer dan masker serta thermogun untuk cek suhu, pengunjung maupun peserta pameran juga diharapkan selalu mematuhi “social distancing” agar jangan sampai bersentuhan,” kata Rifai menambahkan.

Menurut Ketua DPC HIPPI Sleman Atik Purwaningsih kegiatan pameran seni lukis yang diselenggarakan oleh DPC HIPPI Sleman bekerjasama dengan Hartono Mall ini memberikan kesempatan dan peluang bagi para pelukis yang juga anggota HIPPI Sleman. Pelukis itu sebetulnya juga UMKM yang menjual karya seni.

“Banyak pelukis yang karya seninya bagus-bagus. Karena itu mereka diberi kesempatan untuk memamerkan karyanya di mall. HIPPI Sleman berupaya untuk mempertemukan para pelukis dengan pembeli. Sehingga apabila karya seni mereka dibeli, otomatis dapat meningkatkan penghasilan,” kata Atik.

Disesuaikan dengan Karakter Generasi Milenial

Sementara itu, dalam momen yang sama, Prof Dr Heddy mengatakan, permasalahan yang terjadi sekarang ini nilai-nilai pancasila bersifat abstrak, tidak mudah dinyatakan, dan tidak mudah diukur oleh generasi milenial untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal itu ia sampaikan Ketika menjadi pembicara Seminar Nasional yang mengangkat tema ‘Mewujudkan Nilai-Nilai Pancasila untuk Indonesia Bersatu dan Berkemajuan’ yang dihelat Universitas Negeri Semarang (UNNES), 1 Juni 2021 lalu.

“Nilai-nilai pancasila tidak mudah untuk diimplementasikan, karena nilai bersifat abstrak, tidak mudah dinyatakan, dan tidak mudah diukur. Problemnya adalah bagaimana kita mewujudkan nilai-nilai yang abstrak itu ke dalam kehidupan sehari hari? Di sinilah penting untuk kita dapat mewujudkannya,” jelas Prof Dr Heddy.

Dilansir dari laman unnes.ac.id, Guru Besar Antropologi Universitas Gajah Mada tersebut mengatakan perlunya mengoperasionalkan nilai nilai pancasila untuk mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Perlu operasionalisasi sila-sila pancasila yang diturunkan menjadi nilai-nilai pancasila kemudian menjadi norma-norma pancasila dan akhirnya menciptakan aturan-aturan konkret untuk mengarahkan perilaku/ tindakan masyarakat dan dapat diwujudkan ke dalam kehidupan sehari hari,” tutur Prof Dr Heddy.

Selain itu, Prof Dr Heddy menjelaskan sosialisasi nilai-nilai pancasila pada generasi milenial harus disesuaikan dengan karakter generasi tersebut.

Prof Dr Heddy menyebutkan ada tiga karakter generasi milenial perlu diketahui. Karakter yang pertama generasi milenial yakni ingin serba cepat, praktis, to the point, dan suka bermain media sosial.

“Sosialisasi nilai-nilai pancasila pada generasi milenial dilakukan dengan cara yang singkat, padat dan jelas serta bersifat visual”.

Kuat Landasan Filosofisnya

Karakter selanjutnya generasi milenial lebih banyak memahami teknologi komunikasi informasi, pintar dalam mencari informasi, dan memiliki pemikiran kritis serta logis.

“Maka dari itu hubungan antarasila dan operasionalisasi sila-sila harus logis, kuat landasan filosofisnya, dan harus terbukti sebagai falsafah bangsa dan negara yang paling cocok. Dengan landasan kuat tersebut generasi milenial akan yakin dengan manfaat dan kekuatan pancasila,” ucapnya.

Karakter ketiga generasi Milenial yakni mengglobal. Untuk itu sosialisasi nilai pancasila perlu menunjukkan kesesuaian pancasila untuk Indoneisa.

Dalam kesempatan ini juga Dewan Pertimbangan Presiden Dr (HC) Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya memberikan pesan agar tetap menjalankan Nilai Pancasila karena Nilai Pancasila menjadi pemersatu bangsa dan bernegara.

“Jangan ada amandemen Pancasila, sampai kapanpun Pancasila harus dijaga karena itu tonggak Indonesia,” tutur Habib Lutfi.

Lebih lanjut, Habib Lutfi menekankan agar Hari Kelahiran Pancasila harus diperingati dan diperkuat. [bpip/unnes.ac.id]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed