by

Memaknai Jihad yang Sesungguhnya

Kabar Damai | Rabu, 20 April 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Mu’az dalam program Oase Ramadan Itjen Kemenag menjelaskan tentang bagaimana memaknai jihad yang sesungguhnya dalam Islam.

Menurutnya, jihad terkesan dengan perjuangan, terkesan dengan kekerasan dan lainnya. Ia memberi sebuah contoh, ada kisah menarik tentang hal yang diluar dugaan bahwasanya di Madinah pada awal zaman hijrah ada yang terkenal dengan Perang Badar, itu terjadi pada bulan ramadan pada tahun kedua hijriyah.

Pasukan Islam berjumlah 313 orang melawan pasukan dari Mekah yang berjumlah 1000 orang dan bertemu di daerah Badar untuk bertemunya kebenaran dan juga kebathilan.

Pasukan umat Islam yang berjumlah 313 tentu tidak sebanding dengan pasukan kafir yang berjumlah 1000 orang, tapi dengan strategi yang dilakukan oleh Rasulullah akhirnya pasukan Islam walaupun berjumlah sedikit dapat melawan.

Ia menambahkan, ketika umat Islam selesai melaksanakan perang dengan kemenangan yang gemilang, melumpuhkan beberapa tokoh kafir kemudian memgambil hikmahnya dalam perjalanan pulang mengucapkan kegembiraan.

Baca Juga: Tidak Boleh Jahat dalam Jihad

Nabi yang mendengar rasa senang para sahabat tersebut menegur sehingga menyebabkan para sahabatnya merasa heran. Rasul kemudian menjelaskan bahwa mereka telah pulang dari peperangan yang kecil dan kemudian akan menuju pada peperangan yang besar yaitu jihad perang melawan hawa nafsu.

“yang paling berat dalam suatu peperangan adalah perang melawan hawa nafsu,” tuturnya.

Peperangan melawan hawa nafsu contohnya pada bulan ramadan ini, ketika siang hari merasa mengantuk dan menurutinya untuk tidur atau istirahat siang ternyata melewatkan zuhur, padahal pada waktu tersebut dapat digunakan untuk beribadah.

Tapi karena rasa malas yang ada membuat malas untuk beribadah, padaha amalan pada bulan ramadan dilipatgandakan oleh Allah.

Darisana dapat diketahui, menurut Rasul bahwa perang melawan para kafir itu adalah perang kecil sedangkan perang yang besar adalah perang melawan hawa nafsu kita sendiri.

“Memerangi rasa malas, memerangi rasa takut, memerangi rasa pelit bersedekah adalah bentuk perang melawan hawa nafsu,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed