by

Memaknai Idul Kurban di Tengah Kebinekaan dan di Masa Pandemi

Kabar Damai I Rabu, 21 Juli 2021

Jakarta I Kabardamai.id I A2ZNgopi menyelenggarakan webinar via zoom meeting. Adapun tema dari kegiatan tersebut ialah Memaknai Idul Kurban di Tengah Kebinekaan dan di Masa Pandemi. Menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut, Ust. Ahmad Nurcholish, Direktur Harmoni Mitra Madania dan juga sekaligus Pemimpin Redaksi Kabar Damai. Senin, (19/7/2021).

Peristiwa kurban atau yang dikenal dengan Idul Adha menjadi momentum yang ditunggu oleh umat Islam di mana pun berada. Di awal pemaparannya, Ahmad Nurcholish menjelaskan bagaimana peristiwa kurban tersebut dapat terjadi.

Konon, Ibrahim sudah menikah puluhan tahun tidak memiliki anak. Ia bernazar akan memberikan apapun kepada Tuhan jika memiliki anak, ia diberi mimpi untuk menyembelih anaknya yaitu Ismail sebagai bentuk nazar kepada Allah tersebut.

Saat hendak menyembelih, setan menggoda Ibrahim dan Ismail untuk menentang perintah Allah. Namun karena mereka percaya bahwa perintah tersebut dari Allah, mereka melempari setan tersebut dengan batu yang hingga kini menjadi simbol melempar jumrah saat haji. Saat hendak disembelih, Tuhan mengganti Ismail dengan domba.

Baca Juga: Pelaksanaan Idul Adha dan Kurban Harus Terapkan Prokes Ketat

Menurut Ahmad Nurcholish, peristiwa kurban ada bukan tanpa alasan. Hal ini karena Allah ingin melihat ketakwaan dan keiklasan umat kepadanya.

“Dari peristiwa ini, Tuhan ingin melihat ketakwaan dan keiklasan Ibrahim dan Ismail. Lulus dari perintah tersebut, berkurban menjadi hal yag terus diteruskan hingga kini. Namun, jauh sebelumnya, di Arab tradisi berkurban atau pengorbanan tersebut memang sudah ada disana. Diera modern kini, implementasinya ditunjukkan dalam bentuk sesaji yang juga masih dapat ditemukan,” ungkapnya.

Menurutnya pula, pesan moral dari kurban adalah mendekatkan diri kepada sang khalik, oleh karenanya setiap peringatan korban yang dilaksanakan setiap 10 Zuhijah memiliki makna dan spiritual yaitu ketuguhan hati dan keyakinan terhadap firman Tuhan. Jika dilihat dari peristiwa Ismail dan Ibrahim, adalah menaati perintah menyembelih sang anak secara iklas.

Sedangkan dalam makna sosial adalah dengan ditunjukkan dengan sejatinya rasa kepedulian bagi setiap orang untuk mengorbankan hewan dan membagikan dagingnya kepada mereka yang membutuhkan.  Hikmah dari Idul Kurban adalah kepedulian pada sesama.

Dalam hidup berbangsa, tentu tidak hanya ada satu golongan saja. Banyak golongan yang hidup bersama dalam ikatan sosial masyarakat. Begitupun dalam hal berkurban sehingga dapat dimaknai dengan kebinekaan pula.

“Memaknai kurban ditengah kebinekaan dalam kehidupan yang majemuk dapat ditunjukkan dengan memberikan daging kurban bagi yang berhak menerimanya. Ada beberapa hal yang berhak menerima daging kurban,” tutur Ahmad Nurcholish.

Perihal penerima daging kurban ini, Ahmad Nurcholish menjelaskan golongan-golongan yang berhak menerimanya.

“Pertama, ia yang melakukan kurban dan juga keluarganya. Kedua, kerabat, teman, dan tetangga sekitar sepertiga dari total daging itu. Mereka yang non muslim dalam konteks bertetangga dan dalam aspek kurban ini memiliki hak untuk menerima daging kurban tersebut. Hal tersebut bahkan sudah dicontohkan sejak masa Nabi Muhammad dulu. Sedangkan yang ketiga yang dapat menerima daging kurban adalah fakir dan miskin,” jelasnya.

Selama ini, daging kurban seringkali menjadi barang konsumtif yang dapat langsung habis dalam hitungan hari saja. Oleh karenanya mengelola dan mendistribusikannya secara produktif sebaiknya menjadi pilihan saat ini.

“Saat pandemi seperti saat ini, orang yang miskin dapat berbah menjadi fakir. Semangat kurban dapat dilakukan untuk menangani hal tersebut. Meningatkan pola pengelolaan kurban tidak secara konsumtif namun secara produktif sebaiknya dilakukan,”.

“Di Arab, hal semacam ini dilakukan dengan cara mengemas produk daging dan mengemasnya lalu membagikannya kepada yang membutuhkannya. Melalui produk kemasan ini, daging kurban dapat dinikmati secara produktif,” tambahnya.

Hingga saat ini, mayoritas berpendapat bahwa kurban harus ditunjukkan melalui binatang. Ini menjadi tantangan karena belum ada ulama yang berani memperbaharui hukum. Padahal menurut Ahmad Nurcholish hakikat berkurban bukan hanya sekedar menyembelih hewan semata.

“Tantangan selanjutnya, jumhur ulama bahwa kurban harus berupa hewan tidak bisa diganti dengan uang dan lainnya. Namun belum ada ulama yang berani melakukan pembaharuan hukum. Jika hal tersebut dapat dilakukan maka kurban dapat digunakan secara produktif dan dibagikan misalnya dalam bentuk santunan, beasiswa, pengobatan dan lain sebagainya,”. Terangnya.

Berkurban salah satu hakikatnya adalah tentang iklas dan tawakal atas perintah Allah. Selain itu adalah sisi kebermanfaat bagi mereka yang menerima. Melalui peristiwa kurban, senantiasa menjadikan kita semua manusia menjadi pribadi yang iklas dan tawakal serta sabar terlebih saat kondisi sulit pandemic covid-19 seperti saat ini.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed