by

Memahami yang Lain: Keyakinan dan Relasi Sosial

Kabar Damai I Sabtu, 11 September 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Berbagai persoalan yang melibatkan antar individua tau golongan masih kerap terjadi di Indonesia. Satu dari sekian penyebabnya ialah karena faktor beragamnya masyarakat. Hal semacam ini perlu diantisipasi karena disinyalir dapat menjadi permasalahan dengan kadar yang besar dan berdampak pada berbagai aspek kehidupan bermasyarakat.

Dr. Muhamad Ali melalui live instagram yang juga ditayangkan melalui kanal Cak Nur Sociaty menjelaskan bagaimana antara keyakinan dan relasi sosial harusnya dapat dipahami sehingga tidak menyebabkan suatu konflik.

Diawal pemaparan, ia mengungkapkan bahwa dalam hal memahami yang lain secara praktik sebenarnya sudah sejak lama dilakukan, terlebih Indonesia memang sudah sejak lama toleran dibuktikan dengan keberagaman yang ada sehingga perlu rasa syukur dengan hal ini, dibandingkan dengan misal Timur Tengah dan lain-lain masih banyak masalah.

Namun, menurutnya memang banyak masalah dan juga kendala yang dihadapi di Indonesia tentang bagaimana hidup berdampingan secara damai. Banyak fatwa tentang yang lain yang secara umum bersifat penilaian hukum atau judgement dan menjadi persoalan fiqih apakah ia kafir, musrik, bid’ah, sesat dan sebagainya.

“Fatwa ini sebenarnya wajar jika dilihat dari persepektif agama-agama karena semua agama punya fatwa yang mirip. Tetapi, fatwa yang sifatnya menilai atau menghukumi yang lain tidak didasari atas pemahaman tentang yang lain dan tidak dimulai dari siapa yang nilai,”tuturnya.

Menghukum dan melakukan judge kepada yang lain hanya karena belajar dari tekstual tanpa melakukan pertemuan dan atau dialog masih kerap terjadi.

Baca Juga: Nur Rofiah: Cak Nur Beri Jalan Tengah, antara Kebarat-baratan dan Kearab-araban

“Hal ini langsung dalam perspektif teks, sejarah diri dan kelompok sendiri dan digunakan untuk menilai yang lain tanpa melalui proses belajar tentang yang lain, bertanya kepada yang lain dan sebagainya,’ tambahnya.

Selain itu, ada kesan yang umum tidak ada toleransi dalam hal akidah atau keyakinan. Itu akan mendangkalkan iman, mendegradasi iman dan seterusnya. Toleransi hanya ada dalam relasi sosial, dalam muamalah.  Ini sikap yang kurang tepat.

Pertama, memang yang disebut dengan keyakinan selalu dua, hitam dan putih, benar dan salah atau lurus atau menyimpang. Menariknya, keyakinan yang dianggap benar, suci dan lurus itu adalah keyakinan komunitas sehingga ada otoritas keagamaan yang memastikan batas itu tidak dilanggar.

Kedua, ada identitas agama yang menjadi permasalahan karena semakin menguat karena dianggap harus selalu dijaga. Padahal keyakinan itu harus diakui. Tidak hanya Islam namun juga keyakinan-keyakinan lainnya bahkan sebelum Islam.

“Keyakinan juga dapat berubah sewaktu-waktu, keyakinan orang tentang Allah bisa jadi berbeda dan juga berkembang dari waktu kewaktu. Dahulu, agama lahir dan berkembang dengan sederhana karena agama lahir dalam masyarakat yang baru sehingga diadakan standarisasi,” imbuhnya.

Selain tentang keyakinan, ia juga menyorotin tentang relasi sosial. Relasi ini tidak selalu terjalin baik namun juga berupa persekusi dan sebagainya.

“Relasi sosial ada yang dari persekusi dan intoleransinya penuh, diskriminasi, netral, semi tolerans atau mendukung dan yang terakhir full toleran atau toleransi penuh dalam bentuk mengakui, kerjasama dalam masalah bersama dan seterusnya,” jelasnya.

Menurutnya, dalam relasi sosial terlepas dari keyakinan kita tetap harus bersikap baik bahkan kita tidak boleh mengolok-olok sesembahan agama lain. Kita dilarang menghakimi ritual agama lain dalam perspektif agama kita.

Berhubungan dengan toleransi ada yang pasif dan aktif, pasif artinya membiarkan sedangkan aktif artinya ada niat unuk belajar, terlibat atau berpartisipasi dan bertanya serta mendengarkan. Ada keterlibatan yang lebih aktif.

“Perihal cinta atau rahmah dapat dilakukan dengan perkenalan, tapi banyak orang tidak mau mengenal sehingga menjadi benci,” bebernya.

Dalam hal berkeyakinan dan juga berelasi sosial, masih ada hambatan-hambatan bagi masyarakat sehingga praktiknya berdampak buruk.

Menurutnya, kendala-kendala dalam mengenali yang lain, pertama ada hambatan psikologis dan menganggap yang lain asing. Bisa jadi mengancam, merugikan, membahayakan, berpotensi membawa terbawa arus, terpengaruhi, terkotori, terkontaminasi dan memahami itu seoalh membuat lemah.

Kedua, hambatan intelektual. Hambatan literasi keagamaan yang perlu dikembangkan. Kita tida punya cukup pengetahuan tentang yang lain untuk bisa memahaminya karena kita masih harus belajar tentang diri sendiri, masih harus belajar tentang Islam sebaik-baiknya, tentang  bagaimana NU dan Muhammadiyah idologinya sebaik-baiknya.

Jadi, dikarenakan kesibukannya belajar kedalam masing-masing fokus mempelajari diri dan kelompok serta agama sendiri sehingga tidak cukup waktu untuk punya alasan untuk belajar tentang yang lain. Tentu ini juga tidak dapat sepenuhnya dibenarkan, terlebih jika sampai menyebabkan kerusuhan selanjutnya.

Penulis: Rio P

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed