by

Memahami Sekularisasi Cak Nur: Kontroversi dan Kontribusinya

-Kabar Utama-115 views

Kabar Damai I Senin, 29 November 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Cak Nur atau Nurcholish Madjid adalah seorang tokoh pembaharu Islam yang mana ia memiliki gagasan yang begitu banyaknya, gagasan tersebut yang kemudian mengilhami serta mempengaruhi para pemikir Indonesia yang progresif utamanya tentang Keindonesiaan, Kemoderenan, dan juga Keislaman.

Budhy Munawar Rahman, pemateri dalam diskusi yang diselenggarakan oleh gabungan organisasi progresif tersebut memaparkan tentang bagaimana pemikiran tentang sekulerasi Cak Nur. Tayangan ulang dari diskusi turut dapat disaksikan pada kanal youtube Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF).

Ia menjelaskan dalam pemaparannya bahwa ia membagi masa Cak Nur dalam dua periode, pertama pada masa disahkannya Nilai Dasar Perjuangan (NDP) sebagai ideologi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) se-Indonesia dan perdebatan tentang sekulerasi dan pembaharuan Islam serta periode kedua tentang konsep neo modernalisme Islam atau yang kemudian dikenal dengan Islam liberal dan paham Islam inklusif/pluralisme.

Diawal pemaparannya, Budhy menjelaskan bahwa Cak Nur lahir pada 17 Maret 1939 dan meninggal pada 29 Agustus 2005 pada usia 66 tahun. Cak Nur juga terkenal sebagai seorang pemikir Islam khususnya Islam kontemporer yang mana melalui karya-karya dan geraknnya menjadi ilham bagi banyak tokoh lainnya.

Ia juga menyatakan bahwa Cak Nur adalah pemikir yang modernis dan berkaitan dengan perkembangan-perkembangan kemodernan yang ada pada perkembangan Islam utamanya pada abad ke-19 dan abad 20. Di Indonesia, pola pemikiran semacam ini bukanlah hal baru karena sudah berkembang sejak abad ke19 ketika adanya rombongan dari Sumbar yang yang menyerap pembaharuan ide pembaharuan Islam dari Mekah dan membawa ke Sumbar sehingga dapat diadobsi disana.

“Cak Nur sudah sangat menyadari bahwa sudah berkembang dilingkungan muslim di Indonesia kemodernan yang terus berkembang dan berdinamika dan ini dapat dilihat dalam perkembangan Islam di Indonesia sebelum dan sesudah kemerdekaan,” ungkapnya.

Baca Juga: Cak Nur, Pembaruan Islam dan Generasi Setelahnya

Dalam gerakannya, tahun 60-an Cak Nur adalah seorang aktivis mahasiswa yang mana ia membranding dirinya sebagai pemikir muda Islam. Pada tahun 1968, Cak Nur menulis sebuah karangan yang begitu familiar dan terkenal dikalangan aktivis HMI yang berjudul Modernisasi ialah Rasionalisasi, Bukan Westernisasi. Ini ialah karangan penting dan cukup awal dan menekankan pada modernisasi.

“Saya mendukung semua kawan-kawan untuk mendukung karangan ini, dimana dia (Cak Nur) diusia sebelum 30 tahun, dia sudah membuat karangan yang begitu bagus dan karangan ini dibicarakan oleh seluruh HMI seluruh Indonesia yang menjadikannya dijuluki Natsir Muda,” jelas Budhy.

Pada tahun 1969, Cak Nur menulis sebuah buku tentang pedoman ideologis HMI yang disebut dengan NDP yang hingga saat ini masih dipakai sebagai dasar keislaman dari HMI. NDP menjadi sebuah karangan menarik yang dikembangkan oleh Cak Nur, dimana awalnya merupakan hasil pengembangan dari karangan lain yang berjudul Dasar-Dasar Islamisme. Dalam karangan tersebut, Cak Nur telah menaruh kata ‘isme’ dalam kata Islam pada tahun-tahun tersebut banyak dianggap sebagai sesuatu yang fundamentalis.

“Melalui karangan-karangan yang dibuat menjadikan Cak Nur sebagai pemikir muda yang sangat disegani, hal tersebut telah terlihat dari bakat-bakat dalam memecahkan masalah keumatan pada waktu itu,” tutur Budhy.

Cak Nur sudah sejak muda memililki perspektif atau kecenderungan kemodernan. Namun, ia juga sekaligus seseorang yang sosialis religious dan menjadi karakter dari pemikiran Cak Nur.

Pada tahun 70-an, melalui karya artikelnya Cak Nur semakin terkenal. Hal ini karena karyanya kontroversial yang membuat banyak orang marah dan tidak setuju dengan pemikiran Cak Nur tersebut. Hal tersebut sempat membuat Cak Nur terpukul, hal ini karena banyak kritik tidak hanya dari teman-temannya namun juga para tokoh idolanya. Bahkan, ada pula koreksi dari seorang tokoh yang membuat Cak Nur terpukul, hal tersebut membuat Cak Nur mendapatkan nasihat dari seorang kyai dan menginstruksikannya untuk lebih  banyak belajar yang membuat Cak Nur semakin baik kedepannya.

Tentang Sekularisasi

Menurut Budhy, sekulerisasi merupakan istilah yang kontroversial. Hal ini tidak hanya terjadi pada tahun 70-an namun juga hingga sampai sekarang. Istilah ini begitu kurang baik maknanya dalam kalangan Islam. Namun, dalam Kristen istilah ini tak begitu buruk sehingga ada tokoh Kristen yang mendukung pemikiran Cak Nur ini. Hal ini didasari pada pernyataan bahwa sekulerisasi tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekulerisme.

“Kalau kita melihat di dunia ini misalnya ada kekuatan rohani, proses sekularisasi ini dapat dilihat dari bagaimana melihat yang dunia sebagai yang dunia, bukan sesuatu yang sakral, yang suci itu adalah Allah dan yang ciptaannya bukan. Proses tidak mencampur aduk,” terangnya.

Sekularisasi tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekularisme dan mengubah kaum muslimin menjadi sekularis. Hal ini karena, pada masa tersebut kerap tidak ada pembeda dan terjadi pencampuradukan hal yang bersifat agama dan lainya. Misalnya, jika muslim maka harus memilih partai dengan haluan Islam.

Sekali lagi, sekularisme bukanlah anjuran untuk melakukan praktik sekularis. Sekularisme dimaksudkan untuk menjadi pembebasan dari masalah-masalah yang ada di dunia dari belenggu agama yang tidak pada tempatnya sehingga dapat dibedakan.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed