by

Memahami Rejim Taliban di Afghanistan (Bagian Ketiga)

-Opini-10 views

Oleh Ridwan al-Makassary

Pada tulisan sebelumnya, penulis telah menjelaskan bahwa setelah ambruknya rejim komunisme pada 1992, kelompok mujahidin, terutama etnik non-Pasthuns dan secara khusus Panjshiris, telah mengambil alih kekuasaan yang kosong.

Namun, pemerintahan kelompok Mujahidin tersebut telah mengakibatkan kondisi Afghanistan bukannya membaik, tetapi, justru situasi di sana semakin memburuk.

Kegagalan mengontrol sebagian besar wilayah dan juga kegagalan mengatur pembagian kekuasaan pada tingkat nasional telah membawa Afghanistan pada labirin anarki dan jurang kekacauan, dimana antara para mujahidin saling berperang satu sama lain untuk menguasai ibukota dan negara.

Singkatnya, kegagalan Hekmatyar menyatukan tanah Afghanistan yang terbelah oleh para tuan perang yang berebut kue kekuasaan telah membuat Pakistan berpaling, “berinvestasi” dan mendukung terbentuknya satu pasukan baru yang lebih segar: The Taliban (murid-murid agama).

Bagian berikut ini akan menjelaskan tentang konteks sejarah kemunculan Taliban dan ideologinya.

Dalam situasi ketidakmenentuan politik di Afghanistan yang didera oleh keterpecahan yang akut mengenai suku, etnik, bahasa, sektarian yang terang benderang, Taliban telah muncul sebagai penguasa ke panggung sejarah di Afghanistan.

Baca Juga: Memahami Rejim Taliban di Afghanistan (Bagian Pertama)

Taliban, berasal dari kata Arab, Talib (murid atau pelajar) dalam bahasa Arab, adalah satu kelompok guru-guru agama dan murid di wilayah Kandahar Selatan Pakistan pada 1990an.

Jika kita menelisik lebih jauh kemunculan Taliban melebihi sebagai satu organisasi, maka  perkembanganya sebagai satu gerakan  sudah ada pada kecamuk perang Uni Soviet 1980an.  Pada masa ini, Taliban telah mengambil bentuk  sebagai  gerakan  yang dibentuk sebagai pejuang perlawanan terhadap Soviet.

Intervensi Soviet yang menarget hujra (bilik) murid-murid agama dan guru-guru di Afghansitan Selatan untuk meninggalkan  studi mereka telah memaksa mereka bergabung dengan mujahidin untuk mengangkat senjata melawan pendudukan.

Sebagai sebuah hasil perang, terutama setelah hengkangnya Soviet, Taliban bersalin rupa menjadi satu organisasi formal yang digerakkan oleh ide Islam. Ini memungkinkan terjadi karena ada bantuan militer Pakistan, khususnya agen ISI, yang melatih pasukan mereka, yang berasal  murid-murid dan Jemaah masjid di perbatasan Afganistan dan Pakistan.

Taliban telah merefleksikan kehilangan  kepercayaan warga Afghanistan terhadap  kepemimpinan negara yang membuat negara dalam kondisi kacau balau.

Taliban hadir terutama untuk menghentikan perang sipil yang berlarut-larut, mengurangi korupsi dan rebutan pengaruh  di antara para tuan perang. Taliban telah menjanjikan  stabilitas, keamanan dan perdamaian bagi tanah Afghanistan yang terbelah konflik, mereka mendayagunakan milisi bersenjata untuk merengkuh tujuan tersebut.

Baca Juga: Memahami Rejim Taliban di Afganistan (Bagian Kedua)

Gerakan tersebut juga bersandar pada fatwa kelompok agama Islam, yang menjustifikasi  kemunculan gerakan tersebut untuk  memerangi korupsi dan berbagai kejahatan lainnya.

Kelompok tersebut menjaga jarak dari partai politik Mujahidin dan memberikan sinyal bahwa mereka adalah satu gerakan  untuk memurnikan masyarakat  tinimbang merupakan satu partai yang  berusaha merebut kekuasaan.

Dengan ujaran berbeda, gerakan ini adalah satu gerakan  reformasi sosial  dengan tidak rakus pada godaan kekuasaan.

Kebosanan dan ketakutan akibat perang membuat masyarakat jatuh hati pada Taliban, mengharapkan fajar pengharapan yang baru menghapus segala nestapa akibat perang sipil. Warga Afghanistan memilih mendukung Taliban karena  gerakan tersebut menjanjikan  keamanan dan stabilitas, yang bosan hidup dalam ketakutan.

Taliban akhirnya berkuasa sejak medio 1990-an hingga Oktober 2001, karena dikalahkan oleh Amerika Serikat dan pasukan Nato.

 

Dua Teori Kemunculan Taliban

Terdapat dua teori  mengenai kemunculan Taliban.

  • Pertama, Taliban berhasil memberi harapan-harapan baru bagi masyarakat Afghanistan yang  jenuh dengan tindakan tidak bermoral para tuan perang.
  • Kedua, gerakan Taliban telah diorganisir oleh Pakistan untuk mempromosikan kepentingannya di Afghanistan. Namun, mungkin gabungan kedua teori tersebut yang tampaknya mendekati kebenaran.

Sebagian analis juga menilai bahwa faktor “grievances” etnik Pasthuns adalah akar dari kemunculan Taliban. Taliban yang didukung milisia bersenjata berhasil merebut kekuasaan dan mengubah the Islamic State of Afghanistan menjadi the Islamic Emirate of Afghanistan (IEA).

Pihak yang berseberangan dengan Taliban menilai pengubahan nama ini sebagai satu tindakan yang tidak demokratik.

Dalam masa kekuasaan priode pertama Taliban, rejim mengekspresikan keinginan  menerapkan versi syariah Islam. Namun, versi syariah Islam yang tidak jelas dan detil dalam aplikasinya. Mereka meyakini hukum Islam yang tidak bisa berubah dan dipahami secara kaku.

Akibatnya, mereka melarang demokrasi dan pemilu dan membubarkan partai politik. Faktanya, yang disebut syariah adalah  gabungan  syariah dan  hukum adat etnik Pashtuns, Pasthun-wali,  dengan tidak mengakui pengaruhnya pada syariah yang berlaku.

Selain itu, rejim sangat tidak toleran pada  minoritas Syiah, menghancurkan  ratusan artefak budaya, termasuk patung-patung terkenal Budha di Bamiyan, yang merusak citra Taliban. Taliban juga tidak membolehkan praktik sosial budaya yang dianggap bertentangan dengan Islam yang murni.

Mereka melarang anggur dan televisi, melarang fotografi, musik, lukisan makhluk hidup. Lelaki diwajibkan memelihara jenggot dan melarang pelbagai jenis perjudian dan kompetisi anjing.

Rejim Taliban secara serampangan menghukum pencuri  dan perampok, memotong tangan  dan kaki dan acap mempertontonkan eksekusi publik untuk  balas dendam. Karenanya, rejim memperoleh  citra buruk internasional, dan juga lantaran melarang  perempuan bekerja  di ruang publik dan menghentikan anak-anak perempuan untuk  pergi ke sekolah.

Kondisi seperti, digambarkan  Crews dan Tarzi (2008) sebagai sinyal  pada kembalinya  Afghanistan ke sebuah  dunia pertengahan  akibat fanatisme teokrasi.

Singkatnya, pengelolaan pemerintahan yang miskin, represi brutal dan kebijakan yang buruk telah mematikan asa dan pengharapan warga Afghansitan dan juga kegagalan Taliban mendapat pengakuan komunitas internasional.

Setelah tragedi 11 September 2001, bersama Pakistan, Afghanistan ikut dalam perang melawan terror dan Amerika Serikat memimpin kekuatan NATO untuk mendongkel rejim Taliban dari Kabul pada Oktober 2001.

Melalui operasi Enduring Freedom (2001-14) pasukan Nato berhasil menghancurkan sistem komando Taliban dan mendemoralisasi pasukannya. Para pemimpinnya terpecah belah, melarikan diri dari Afghansitan menunju surga yang aman di wilayah terdekat.

Keberhasilan operasi militer ini ditampilkan sebagai sebuah kemenangan atas terorisme dan pelanggaran hak asasi manusia yang dominan pada masa Taliban periode pertama ini.

Komunitas internasional  bergerak maju, pada satu konferensi di Desember 2001 di Bonn menghasilkan  pelbagai inisiatif pembangunan untuk merestrukturisasi dan membangun Afghanistan. Deklarasi kelahiran paska Taliban, sejumlah besar janji untuk  merekonstruksi struktur kehidupan  masyarakat Afghanistan yang terkoyak.

Akibatnya, perempuan dapat kembali bekerja di kehidupan publik dan musik kembali lagi mengalun.  Afghansitan paska Taliban 2001 adalah satu tanah yang merdeka  dari pendudukan satu kekuasaan asing.

Kota-kota kembali bebas di mana sekolah-sekolah kembali terbuka bagi anak-anak perempuan dan perempuan tidak lagi terpenjara di rumah. (Bersambung).

 

Ridwan al-Makassary, Pegiat perdamaian Indonesia dan peneliti pada Centre for Muslim States and Societies University of Western Australia. 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed