by

Memahami Perdamaian dalam Berbagai Aspek

Oleh: Muhammad Fiqri dan Rio Pratama

Perang merupakan aksi fisik atau non fisik yang pada umumnya berarti permusuhan dengan kekerasan. Perang biasa terjadi antara dua atau lebih kelompok manusia untuk melakukan dominasi di wilayah yang diperebutkan. Di era modern ini, perang lebih mengarah pada kehebatan dalam bidang teknologi dan industri. Hal ini tercermin dari doktrin angkatan perangnya seperti “Barang siapa menguasai ketinggian maka menguasai dunia”. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan atas ketinggian harus dicapai oleh teknologi.

Di Indonesia sendiri peperangan tidak jarang terjadi antar daerah yang bahkan dapat memicu perhatian nasional maupun internasional. Indonesia yang dikenal dengan keramahannya tentu memiliki upaya-upaya dalam menciptakan kedamaian antar masyarakat untuk mengatasi konflik yang menyebabkan terpecah belahnya kesatuan di Indonesia. Adapun beberapa upaya damai dalam lingkup lokal dan nasional.

Masyarakat Adat

Konflik pada masyarakat adat pernah dialami oleh Masyarakat Adat Besipae yang diusir dari Hutan adat Pubabu sebagai tempat tinggal mereka, hal itu menyebabkan masyarakat adat Besipae harus pindah dan tinggal di bawah pohon beralaskan tikar. Masyarakat Adat Besipae kemudian melaporkan pengrusakan rumah yang mengakibatkan mereka kehilangan tempat tinggal ke kepolisian pada Rabu (19/08).

Kuasa hukum masyarakat adat Besipae, Ahmad Bumi, mengungkapkan selain melaporkan pengrusakan rumah yang mereka alami, masyarakat adat akan menggugat pemerintah daerah terkait sengketa lahan. Sengketa hutan adat Pubabu yang meliputi Desa Linamnutu, Mio dan Oe Ekam diawali oleh keengganan masyarakarat adat Besipae untuk menyetujui tawaran perpanjangan izin pinjam pakai lahan di kawasan hutan Pubabu.

Ahmad Bumi, kuasa hukum masyarakat adat Besipae menjelaskan konflik lahan bermula pada 1982 ketika pemerintah dan Australia bekerja sama dalam peternakan dan penggemukan sapi dengan meminjam lahan masyarakat adat. Setelah kontrak selesai, pengelolaan lahan itu semestinya dikembalikan ke masyarakat adat. Konflik ini dapat terselesaikan jika ada kesadaran dari masing-masing kelompok.

Masyarakat adat Besipae yang enggan menempati rumah pengganti yang menurut mereka tidak layak semestinya lebih bijak, demi kesehatan dan keamanan bersama daripada tidur dan hidup di alam bebas sebaiknya menerima tawaran tersebut untuk sementara waktu hingga memungkinkan masyarakat adat Besipae meminta relokasi yang layak untuk rumah pengganti tersebut.

 

Antar Suku dan Etnis

Mari kita simak konflik yang terjadi pada Temenggung Suku Anak Dalam (SAD) terjadi di wilayah Kabupaten Tebo Provinsi Jambi, yakni antara kelompok Temenggung Tupang Besak dengan Temenggung Lidah Pembangun. Objek konflik berada di Desa Muara Kilis Kacamatan Tengah Ilir Kabupaten Tebo. Kades menjelaskan, konflik ini terjadi saat Temenggung Tupang Besak menduga jika lahan dia seluas 30 Hektar telah diserobot oleh kelompok Temenggung Lidah Pembangun. Sementara, dari pihak Temenggung Lidah Pembangun mereka tidak pernah menyerobot lahan kelompok Temenggung Tupang Besak.

Baca Juga: Indonesia dan Perannya dalam Perdamaian Pada Perang Dingin

Akhirnya diputuskan untuk melakukan musyawarah antar kedua belah pihak. Hasil musyawarah masing-masing Temenggung sepakat turun langsung untuk pengukuran ulang lahan yang dijadikan konflik. Kesepakatan selanjutnya apabila total luasan lahan yang diukur lebih dari 30 Ha, maka akan dikembalikan kepada kelompok Temenggung Lidah Pembangun dan sebaliknya. Untuk itu, Firdaus (Pendamping SAD Jambi) berharap kepada semua pihak agar sama-sama peduli terhadap SAD. Dan kepada SAD, dia berharap hasil musyawarah yang telah disepakati bersama itu bisa dijalankan.

“Saya minta masing-masing Temenggung membuka diri dan saling menerima kelebihan dan kekurangan pada saat pengukuran nanti. Jangan ada keributan apalagi sampai bentrok,” katanya. Upaya penyelesaian konflik disini sangat jelas yaitu :

Mediasi (menunjuk pihak ketiga untuk menjadi penengah)

Arbitrasi (penyelesaian konflik menggunakan lembaga tertentu)

Konsiliasi (penyelesaian konflik yang dilakukan diluar pengadilan).

 

Antar Agama

 

Konflik ini akan selalu terjadi jika pada diri masing-masing umat beragama tidak memiliki rasa toleransi yang tinggi. Keegoisan tanpa memikirkan pihak lain sering menjadi alasan untuk munculnya konflik ini. Apalagi bagi mereka yang mengaku sangat paham tentang agama, biasanya malah menyimpang untuk memenuhi keegoisan sendiri. Adapun sikap atau upaya perdamaian yang bisa kita terapkan yaitu saling menghargai, terapkan toleransi, harus sadar bahwa setiap agama mengajarkan kedamaian karena pada hakikatnya semua agama memiliki tujuan perdamaian antar umat beragama lainnya.

Keberagaman Suatu Wilayah

 

Keberagaman setiap daerah juga bisa menimbulkan konflik. Ada keberagaman yang tidak dapat diterima oleh sebagian orang biasanya terjadi pada pendatang baru dari luar wilayah. Konflik kali ini masyarakat lokal lah yang tidak dapat menerima keberagaman yang dibawa para pendatang, bagaimana tidak? Hal ini terjadi karena mendominasi nya pendatang di wilayah baru sehingga menimbulkan keresahan bagi seluruh masyarakat lokal.

Konflik ini merujuk pada peristiwa Sampit, Kalimantan Tengah. Saat itu suku Madura menempati sampit atas usulan kolonial Belanda. Seiring berjalannya waktu, masyarakat suku Madura hampir mendominasi industri di wilayah tersebut dari bidang perkayuan, perkebunan, bahkan pertambangan. Tidak lepas dari kebudayaan suku Madura yaitu hanya mempekerjakan orang yang satu suku dengannya. Adapun tingkah laku yang tidak wajar dari suku Madura yaitu selalu membawa celurit bahkan parang saat berpergian keluar rumah, itu menjadi alasan suku Dayak merasa para pendatang ini siap untuk berperang walaupun keadaan sebenarnya tidak seperti itu

Upaya dalam melakukan perdamaian tentu memiliki rintangan tersendiri yang benar-benar perlu diperhatikan agar tidak menjadi permasalahan baru. Dalam perdamaian pun harus melihat dari berbagai aspek agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Penting di dalam perdamaian melibatkan banyak pihak agar masalah menjadi lebih jelas.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara haruslah memiliki sikap sosial yang tinggi agar terciptanya keharmonisan, keadilan, toleransi, dan peduli terhadap sesama. Hal lain yang dapat kita petik yaitu perlunya kerjasama dalam menghadapi masalah agar berjalan lancar dalam penyelesaiannya.

 

Kolaboratif Penulis: Muhammad Fiqri dan Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed