by

Melumrahkan Cat Calling, Menyumbang Angka Pelecehan Seksual

Oleh Anisa Dewi Anggri Aeni

“Ada lagi, atau cukupkan saja? Kalau tidak saya tutup rapat ini,” sang sekretaris umum kemudian menyimpulkan beberapa pembahasan yang menjadi topik di rapat yang ke sekian kali. Dengan kondisi ruang yang gelap lantaran pukul 09.30 malam lampu di gedung SC sengaja dipadamkan.

Peserta rapat bubar riuh ditengah kegelapan mencari sandal dan sepatu masing –masing.  Setelah terpakai ucapan perpisahan itu terlontar. Aku bersama salah satu teman perempuan beranjak pergi meninggalkan gedung itu.

Menyusuri jalan dan menikmati udara malam. Bisingnya kendaraan tak membuat kami berhenti saling tukar cerita.

Masih di jalanan sekitar jarak 300 meter aku melihat segrombolan pemuda sedang bercengkerama, aku was-was dan benar saja kalimat “Neng, mau kemana? Mau dianter?” keluar dari mulut salah satu mdiantara  mereka.

Temanku diam dan aku sengaja memandangnya dengan mata tajam, ekspresi dingin dan dagu diangkat sampai mereka berdiam pula. Sebuah konfrontasi yang sederhana untuk melawan catcalling agar esok kemudian saat melintas jalan itu lagi, diri tidak krisis kenyamanan.

Kegiatan melecehakan orang di jalanan entah itu melalui komentar yang tidak dikehendaki, isayarat atau gerak tubuh atau perbuatan orang asing kepada orang lain tanpa ada kesepakatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan untuk merendahkan orang lain disebut catcalling, salah satu bentuk pelecehan di jalan.

Kejadian serupa diatas bisa menimpa siapa saja entah laki-laki atau perempuan. Seringkali menimpa perempuan.  Ucapan-ucapan “Hai cantik mau kemana?“Cewek, manis banget sih!” atau siulan jelas mengganggu kenyamanan untuk keberlangsungan hidup di ruang publik. Masih banyak lagi ucapan –ucapan yang serupa terkesan bernada memuji dengan menempelkan label cantik, sayang, atau sapaan akrab macam Neng, Beb, Dek ataupun lainya yang seseungguhnya adalah melucah. Perempuan terutama kerap menjadi kekerasan korban pelecehan seksual berbentuk verbal yang bermula dari catcalling tersebut.

Kembali lagi pada muara ketimpangan gender yang diakibatkan oleh kentalnya budaya patriarki. Padahal baik perempuan maupun laki – laki sama sama memiliki kebebasan berekspresi. Namun ketika catcall itu terjadi ada hak kebebasan ekspresi yang direnggut,lagi-lagi diabad ke-21 ini perempuan dijadikan objek ketimbang rekaan yang setara.

Setiap orang perlu diberlakukan dengan secara hormat, penghargaan dan empati. Bukan menjadikan perempuan sebagai subordinat, alih-alih mencoba mengakrabkan diri atau istilah jaman old yang sampai sekarang masih membumi adalah SKSD alias sok kenal sok deket, justru malah masuk kategori sebagai perlakuan street harrasement yang mengarah pula pada public shaming.

Terdengar sederhana, sekilas memang tidak ada masalah yang krusial, namun bila ditelaah lebih dalam cat calling menjadi penyumbang akar pelecehan terhadap perempuan. Kala perempuan berjalan sendirian apalagi malam terlebih menjelang tengah malam tak sedikit yang menjadi korban.

Dilematis pasti ada, satu sisi bila menanggapi lontaran dari para pelaku bakal menimbulkan perlakuan yang barangkali tidak diinginkan, bila didiamkanakan menjadi sebuah kultur dimana perempuan terus menjadi objek yang bisa sesukanya dilecehkan. Terlepas dari pakaian yang dikenakan tentu saja. Pelaku catcall tak memandang busana bahkan  berjilbab atau tidak keduanya rawan menjadi korban.

Malam menjadi suasana yang sendu bagi sebagian orang, termasuk aku menikmati perjalanan dari kampus menuju kosan adalah hal yang menyenangkan. Menemukan sisi keromantisan dan berpuisi dengan jalanan. Barangkali berbeda bagi orang-orang yang pernah menjadi korban, mereka tak lagi berani untuk keluar malam dan berjalan sendirian. Sisi psikologis terganggu dan perasaan insecure sudah pasti tumbuh.

Baca Juga: Media dan Perannya Melanggengkan Body Shaming

Imbas dari cat calling sendiri acap melahirkan rasa takut terutama bagi para walker. Merasa privasinya terganggu sebab kenal saja tidak repot bertanya hendak kemana, selanjutnya yang membuat hati pilu adalah dijadikanya objek seksual. Kasus lain pernah kudapati ada pengendara motor yang sengaja mengurangi kecepatanya. Sebab melihat perempuan berjalan sendirian lantas memegang bagian tubuh tertentu selepas itu menmabha kecepatan super lagi untuk tancap gas lebih lagi. Melakukanya agar memenuhi hasrat seksual dirinya tanpa tahu dampak dari korban.

Tidak sekedar melahirkan rasa, takut catcalling juga menumbuhkan kecemasan, kepercayaan diri menurun, dan citra negative terhadap tubuh. Sama halnya dengan bodyshaming yang mampu memicu depresi pun dengan catcall-sekarang sudah ada padanan katanya dalam Bahasa Indonesia yaitu melucah. Hal- hal semacam itu jelas menganggu mental individu.

Namun lagi lagi pelecehan ini masih dianggap lumrah oleh kalangan masyarakat sebagai imbas paradigma yang patriarkis. Tidak jauh beda dengan pelecehan seksual lainya bila dibawa ke ranah hukum akan dipersulit. Terlebih belum ada undang-undang yang mempertegas akan bahayanya melucah. Jangankan catcall kasus pemerkosaan kala melalui proses laporan ke pihak berwajib seringkali korban yang  malah disalahkan dengan dalil tidak bisa menjaga diri, pakaian terbuka. Semestinya korban dilindungi bukan justru diintimidasi dengan pertanyaan yang semakin membuatnya tertekan, turut menambah beban psikologisnya.

Contoh kasus lain adalah Fala Adinda seorang dokter yang menjadi korban catcaliing pada September dua tahun silam. Melansir dari Tirto.id ketika adayang melakukan hal tersebut ia datang dan diajak bicara. Sampai pada suatu waktu digoda dengan pernyataan”Hai cantic, lantas ia tidak terima dan melapor ke polisi. PAnjang lebar ia bercerita sayangnya tanggapan meremhkan justru datang dari pihak yangmestinya melindungi masyarakat.

Dua jam kemudian ia bertemu dengan polisi lain,beruntungnya polisiitu mrespon dengan baik dan memberi arahan kepada orang –orang yang melakukan catcalling pada Falla.  Berkisahlah di di twitternyadan ada polisi yang menanggapi sehingga sempat viral pada saat itu.

Meski belum ada legalitas yang mengatur, melucah bukan hal yang harus dilestarikan sebagai budaya masyarakat, mewajarkan pelucahan sama saja dengan melanggengkan budaya patriarki. Setidak-tidaknya meminimalisir tindakan pelecehan semacam ini.  Tidak perlu diberikan ruang atau toleransi untuk catcalling. Isu ini menjadi urgen mengingat perlunya agar orang mampu memposisikan dirinya sesuai kapsitas relasi yang setara.

 

Anisa Dewi Anggri Aeni, Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed