by

Melindungi Remaja dari Paham Radikalisme dan Ekstrimisme

Kabar Damai | Senin, 13 Juni 2022

Jakarta I Kabardamai.id I Kanal Berita KBR menuliskan bahwa remaja rentan menjadi target perekrutan terorisme. Pada maret lalu, Kepolisian menemukan 77 anak dibawah usia 17 tahun dicuci otaknya dan dibaiat untuk bersumpah kepada Negara Islam Indonenesia (NII Sumatera Barat). Selain itu, juga ada dugaan puluhan anak di Garut dibaiat masuk organisasi yang sama.

Pola perekrutan yang digunakan kelompok terorisme beragam. Dunia digital seperti media sosial, aplikasi perpesanan dan juga video sharing sudah lama dikenal sebagai sarana perekrutan. Paham-paham radikalisme dan ekstrimisme disebarkan lewat berbagai lewat berbagai sarana ini.

Disisi lain, dunia digital sangat lekat dengan kehidupan anak dan remaja zaman sekarang. Masa kanak-kanak dan remaja yang seharusnya disisi lain dengan belajar dan bermain kini terancam oleh paparan paham radikalisme dan ekstrimisme yang berseliweran di dunia digital.

Oleh karenanya, melindungi remaja dari konten di dunia maya yang berbahaya seperti paham radikalisme dan ekstrimisme. Al Chaidar, Pengamat Terorisme dan Leonard Chrysostomos Epafras dari ICRS Universitas Kristen Duta Wacana memberikan perspektifnya.

Remaja Target Rekrutmen Terorisme

Al Chaidar menjawab pertanyaan mengapa remaja gampang dalam rangka perekrutan menjadi teroris, menurutnya hal ini karena pengetahuan agama remaja yang masih sangat dangkal juga karena remaja memiliki kelebihan energi.

Hal itulah yang kemudian ingin dimanfaatkan secara maksimal dan optimal oleh kelompok teroris, terlebih anak remaja masih berada pada posisi sosial yang tidak jelas atau berada pada fase mencari jati diri sehingga mudah dalam mengasosiasikan diri sebagai pejuang agama atau pejuang kemanusiaan.

Remaja dalam hal pengetahuan umum dan proses pencarian melalui media seperti google masih sangat bagus, penguasaan bahasa Inggris juga baik. Namun pengetahuan keagamaan terutama pengetahuan dalam beragama yang kemudian banyak menjerumuskan orang-orang yang tidak hanya remaja namun juga masyarakat umum yang terjebak dalam tafsiran-tafsiran yang menyesatkan dari kelompok teroris sehingga mudah untuk dikontrol untuk mengikuti keinginan dan plot dari kelompok terorisme.

Lebih jauh, menurutnya pula kelompok teroris pada dasarnya punya agenda khusus sama halnya dengan penjahat perang pada umumnya. Hal ini yang aktif dilakukan oleh kelompok teroris.

Baca Juga: Asal Datangnya Ekstrimisme dan Radikalisme

Berhubungan dengan bonus demografi yangmana leadakan pemuda begitu besar sehingga secara kuantitas juga besar akan menjadi suatu hal yang membahayakan jika kemudian remaja tidak dibekali dengan pengetahuan umum dan pengetahuan agama yang baik. Hal ini dapat membuat mereka akan mudah menjadi sumber perekrutan terorisme dan melakukan serangkaian serangan bom.

Perihal bagaimana konten dimedia sosial media mempengaruhi pola pemikiran anak muda. Leonard mengungkapkan bahwa media sosial membuat pengetahuan efisien yang tidak lagi hanya berbasis wacana namun sudah berbasis informasi. Daya pengaruhnya hanya berada dari hal yang sangat pendek.

Peta Keaktifan Jaringan Terorisme di Indonesia

Menurut Al Chaidar, jaringan terorisme di Indonesia yang merupakan turunan dari NII secara kuantitas cukup banyak dan berada dibanyak wilayah di Indonesia. Al Chaidar menjelaskan bahwa peta jaringan ini dapat dilihat dari genologi ideologis sehingga sangat sulit dalam melihat jaringan hanya dari orang-orangnya saja karena kebanyakan tidak disertai dengan platform atau latarbelakang organisatoris darimana latarbelakang ia pernah terlibat sebelumnya.

Terkait perihal lebih dari seribu seratus dua puluh lima orang NII di Sumatera Barat, Al Chaidar mengungkapkan bahwa dari hasil penelusuran yang mana jumlah tersebut ternyata lebih banyak, hal ini karena seribu seratus dua puluh lima orang ini hanya dari beberapa fraksi saja.

Ditanya tentang bagaimana cara yang dapat dilakukan agar dapat mencegah anak muda terpapar terorisme dan radikalisme, Al Chaidar menuturkan bahwa cara yang paling mudah dapat dilakukan dengan cara mendatangi sekolah-sekolah mulai dari SMP dan SMA dan perlu dilakukan beberapa kontra narasi dan wacana.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed