by

Melihat Ragam Praktik Toleransi Saat Natal

Kabar Damai I Sabtu, 25 Desember 2021

Jawa Tengah I kabardamai.id I Natal 2021 meski masih dalam suasana pandemi Covid-19, suasana perayaan kelahiran Yesus tersebut justru semarak dan penuh nilai-nilai toleransi yang tinggi. Demikian hasil pengamatan dari misa Natal di paroki Santo Petrus dan Paulus, Babadan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Jumat (24/12).

Di antaranya, banyak lintas agama yang terlibat dalam kegiatan misa Natal. Ada satgas PDIP, Banser NU, linmas, dan kelompok pencak silat.

Misa Natal di Babadan dirayakan tanggal 23, 24, dan 25 Desember. Dua kali misa tiap hari. Kabupaten Sleman memang terus mencoba membangun kebersamaan antarumat beragama.

“Tidak selalu sama jumlah anggota pencak silat PSHT,” kata salah satu anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Cyndy. Dia mengatakan pada misa malam Natal II kemarin diturunkan 12 anggota.

“Tapi setiap misa selama.Natal selalu ada yang diturunkan, walau jumlah personelnya berbeda,” katanya. Menurut Cyndy, keterlibatan ini sebagai bagian dari membangun toleransi. “Iya untuk toleransi,” ujar Cyndy. Hal sama disampaikan Satgas PDIP Ngemplak, Sapti. “Kami melibatkan empat personel. Setiap hari besar Satgas hadir,” kata Sapti.

Bantuan Serba Guna (Banser) NU tampak cukup banyak. Personel Banser berdiri di kiri kanan jalan depan gereja membantu kelancaran lalu lintas dan penyeberangan umat.

“Bagus banyak unsur dari umat beragama lain membantu kelancaran Natal. Ini bagus sekali, dan terima kasih,” ujar salah satu unat yang enggan disebut namanya. Para petugas dari lintas agama tersebut membantu polisi dan TNI mengamankan malam Natal.

 

Warga Binaan Rutan Salatiga, Buat Pohon Natal dari Bahan Bekas

Toleransi antar umat beragama ditunjukkan warga binaan Rutan Kelas IIB. Mereka bergotong-royong membuat pohon Natal dari botol bekas dan menghiasnya. Kepala Rutan Kelas IIB Salatiga Andri Lesmano mengatakan, dalam rangka menyambut Hari Natal dan Tahun Baru 2022, warga binaan memerlihatkan kreasi dalam memanfaatkan barang bekas dan botol-botol bekas menjadi pohon Natal yang cantik. “Kegiatan ini selain sebagai bentuk wadah pembinaan, juga sebagai sarana memupuk rasa persaudaraan dan kesatuan antar umat beragama di Rutan Salatiga ini,” jelasnya, Jumat (24/12/2021).

Andri mengatakan selain dibuat oleh warga binaan yang beragama Kristiani untuk membuat pohon Natal, dibantu umat beragama lain. “Karena gotong royong dan saling bantu tersebut, kehangatan persaudaraan warga binaan disini sangat terasa,” jelasnya.

Dia berharap dengan gotong royong dan toleransi yang terbangun di rutan, saat warga binaan sudah bebas dapat menjadi pioner masyarakat dalam memperat tali kerukunan antar umat. “Dan tentu saja saling menghormati serta menghargai orang lain, terlebih dalam hal kerukunan beragama,” kata Andri.

Dikatakannya, pembuatan pohon Natal tersebut menggunakan 325 botol bekas dan dimulai Senin (20/12/2021). “Awalnya teman-teman warga binaan ini akan membuat dari beberapa bahan salah satunya membuat dari bahan kardus dan plastik bekas, tetapi karena terkena hujan jadi rusak. Walaupun sempat gagal, tetapi dengan semangat mencoba dan dukungan dari petugas, warga binaan Rutan Salatiga berhasil membuat pohon natal yang megah nan cantik,” kata Andrim Sementara itu Arif Budi salah satu warga binaan, mengaku senang diberikan kesempatan untuk berkreasi oleh petugas.

“Dengan memanfaatkan botol-botol bekas, plastik bungkus minuman sachet dan beberapa bahan seperti kayu, besi holo sisa dari renovasi tempat ibadah di rutan, saya dan teman-teman dibantu petugas mempersembahkan sebuah karya untuk menyambut Natal dan Tahun Baru ini menjadi dua buah pohon Natal dengan tinggi sekitar 2,5 meter,” ungkapnya. Dirinya juga mengaku bahwa di Rutan Salatiga ini kebersamaan dan toleransi antar warga binaan sangat baik.

Dia menambahkan bahwa dalam pembuatan pohon Natal ini juga dibantu teman-teman yang beragama Islam. “Walaupun sedang menjalani pidana dan semua dibatasi, tetapi dengan dorongan dan motivasi dari kami merasa diorangkan serta sudah dianggap sebagai anak. Sehingga momen Natal tahun ini dapat kami rasakan seperti bagian dari keluarga sendiri,” papar Arif. [koranjakarta/kompas]

 

Editor: Ai SIti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed