by

Melestarikan Tradisi Sambas Melalui Tenun

Kabar Damai I Jumat, 19 November 2021

Sambas I Kabardamai.id I Tradisi dan kebudayaan merupakan aspek penting yang harus dilestarikan, terlebih di Indonesia nilai-nilai yang berkaitan pada dua sektor tersebut mengandung makna yang filosofis dan mencerminkan jati diri bangsa.

Salah satu bentuk pelestarian tradisi turut dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat melalui produksi tenun yang mengandung makna dan filosofi sejak masa kerajaan dahulu.

Nur Lely, salah seorang penenun dari Desa Sumber Harapan mengungkapkan bahwa menenun seolah menjadi kemampuan alamiah yang dimiliki oleh perempuan yang ada disana.

“Disini kita peningkatan kualitas sehingga yang dikembangkan jenis tenunnya bermacam-macam. Kebanyakan orang di Desa Seberang ini memang sudah pandai menenun sehingga upaya yang dilakukan adalah menjadikan tenun yang baik. Kita mendatangkan guru dari Jakarta, dia memberikan teori dan kami disini yang mempraktikkan sesuai dengan kebudayaan yang ada,” ungkapnya.

Ia turut menambahkan bahwa upaya untuk mengembangkan produksi tenun ini turut dilakukan pula melalui dibuatnya berbagai jenis dan bentuk yang variative.

“Yang paling banyak diproduksi disini ada kain, sabuk, syal dan bervariasi sehingga semua dikembangkan. Dulu disini yang dikembangkan hanya sebatas kain dan selendang tapi sekarang sudah ada gantungan kunci, dompet, kopiah dan bermacam-macam,” tambahnya.

Ia bercerita bahwa sejarah menenun di Sambas terutama di Desa Seberang sudah ada sejak masa Kesultanan Sambas. Jika dihitung tahun memang kemampuan menenun sudah ada sejak turut temurun. Dahulu awalnya dari ibu atau nenek yang dilihat pada saat produksi tradisional dan lama kelamaan menjadi tahu dan dapat mempraktikkan sendiri. Di Desa Sumber Harapan atau yang dikenal dengan Desa Seberang, memang 80 persen masyarakat perempuannya memiliki kemampuan menenun.

Baca Juga: Merawat Kebinekaan dengan Mengenal Ragam Penutup Kepala Perempuan Indonesia

“Budaya menenun memang sudah ada dan diajarkan sejak masa Kesultanan Sambas dan sudah ada lebih dari 390 tahun yang lalu yaitu sejak berkuasanya Raja Sulaiman atau yang dikenal juga dengan Sultan Syafiuddin,” jelasnya.

Sejak tahun 2016, masyarakat terutama para ibu yang memang sudah pandai menenun berkegitan secara terpusat pada sentra tenun Sambas, sebelumnya secara kolektif proses penenunan kain dan atau barang lain dengan motif khas Sambas dilakukan di rumah masing-masing.

Melalui adanya sentra tenun, menurutnya banyak memberikan dampak baik bagi masyarakat.

“Dampak banyak sekali yang kami rasakan, misalnya menjadi banyak tamu yang kemudian berkunjung kesini, meningkatkan perekonomian dan juga sebagai ibu rumah tangga kemudian bisa membantu suami untuk berbagai keperluan karena pendapatan kita bertambah,” tuturnya.

Foto: Penenun Sambas menjelaskan tentang bentuk dan ciri khas tenun Sambas/doc: Rio P
Foto: Penenun Sambas menjelaskan tentang bentuk dan ciri khas tenun Sambas/doc: Rio P

Dorongan Pemerintah Daerah Sambas

Pelestarian budaya dan tradisi Sambas melalui tenun tidak terlepas dari campur tangan pemerintah.  Pada tahun 2010, Pemda mendatangkan instruktur dari Jakarta ke Desa Sumber Harapan atau Desa Seberang. Mereka mengajarkan teknik menenun yang baik dan menggali potensi yang ada pada perempuan Sambas dalam hal menenun.

Pemerintah saat itu melihat kemampuan menenun yang baik, hal ini juga karena kemampuan menenun seperti katun sudah hampir punah, sehingga diupayakan untuk mengangkat kembali  budaya tenun dan bisa dilestarikan. Proses pelatihan dan pendampingan dilakukan dari 2010 hingga 2014.

Untuk alat yang ada di sentra tenun adalah bantuan dari upaya pemberdayaan perempuan yang kemudian dihibahkan kepada PKK Kabupaten. Kemudian PKK memberikan tanggung jawab kepada koperasi untuk melaksanakan dan mengelolanya.

Sambas memiliki ciri khas sendiri dalam hal motif tenun, motif tersebut misalnya Pucuk Rebung dan juga motif Pinggiran. Adapun makna dari motif ini menandakan kebersihan. Motif-motif ini juga sangat erat dengan kebudayaan Kerajaan Sambas sebagai bentuk pelestarian dan kebanggan terhadap kebudayaan.

Diakhir penjelasan, ia mengungkapkan harapannya dari sentra tenun Sambas yang ada kini.

“Pemerintah daerah tidak berhenti mengajak dan menghimbau serta merangkul kami pengarajin untuk terus melestarikan kebudayaan tenun dan juga merangkul kembali regenerasi baru supaya tenun nantinya dapat lebih dikenal baik dari dalam dan luar negeri,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed