by

Melanggengkan Patriarki Juga Merugikan Laki-Laki

-Kabar Puan-11 views

 


Oleh: Rio Pratama

Hingga saat ini, laki-laki selalu dianggap sebagai makhluk superior dan masih banyak diamini oleh banyak masyarakat dari berbagai belahan negara, termasuk Indonesia.

Hal ini membuat peranan laki-laki kemudian sangat besar dan tidak jarang menganggap dirinya yang paling baik, benar, berkuasa dibanding makhluk dengan ragam gender lainnya. Menempatkan laki-laki menjadi dasar dalam nilai, budaya dan sosial serta politik semacam ini dikenal pula dengan sebutan patriarki.

Dalam bahasa Inggris, partriarki berasal dari kata pathriarchy,artinya rules of the father. Sementara itu, Fromm dalam Adji dkk 2009:9 menuliskan bahwa patriarki merupakan sistem yang menganggap laki-laki ditakdirkan untuk mengatur wanita dan berlaku diseluruh dunia.

Baca Juga: Gender Equality Bagi Laki-Laki dan Patriarki Yang Menghalangi

Walby, (2014:8) menuliskan patriarki sebuah sistem dan atau struktur sosial dimana praktik-praktiknya memposisikan laki-laki sebagai pihak yang mendominasi, menindas serta mengeksploitasi perempuan.

Dari berbagai definisi diatas, dapat kita ketahui dan simpulkan bahwa patriarki merupakan sistem sosial yang mana menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan juga mendominias dalam politik, moral, hak sosial dan bahkan penguasaan properti.

Di Indonesia, budaya patriarki sudah sejak lama mengakar dan terus berkembang dan juga langgeng hingga saat ini. Peranan bapak dalam keluarga selalu dianggap sebagai orang nomor satu yang harus selalu didengar, dituruti apapun yang dikatakan dan dikehendakinya.

Dalam hal politik dan pengambilan keputusan, tidak hanya sebatas dalam urusan internal  rumah tangga saja titah bapak yang selalu digunakan dan dianggap sebagai satu-satunya pilihan. Dalam ranah publik, pengambilan keputusan pada rapat RT dan atau RW misalnya, selalu diwakili bapak-bapak sehingga suara laki-lakilah kemudian yang akan digunakan.

Biasanya, perempuan akan berdiam diri di rumah dan berpasrah dengan keputusan yang ada. Kalaupun tidak, ketika mengikuti rapat atau perkumpulan serupa, perempuan tempatnya hanya di dapur dalam mempersiapkan konsumsi sehingga tidak dapat urun dan rembug dalam suara dan juga pemikiran.

Dari contoh sederhana diatas, patriarki jelas tidak memberikan aspek keadilan gender kepada perempuan. Peranan perempuan hanya dianggap sebagai manusia nomor dua yang hanya dapat menerima dan menjalankan keputusan. Bahkan, hal semacam ini masih saja berkembang hingga saat ini terlebih pada wilayah-wilayah pedesaan secara khusus.

Banyak hal yang menyebabkan mengapa patriarki terus langgeng hingga saat ini, selain memang karena sudah ada sejak lama, pola ini terus dilangsungkan secara turun temurun sehingga tidak mengalami pemutusan secara praktik. Selain itu, kemajuan teknologi juga berperan pada sektor ini jika tidak disikapi dengan benar, misalnya branding media yang menempatkan perempuan sebagai objek sehingga dianggap dapat dinikmati, indah dan seperti properti.

Pada banyak iklan produk kecantikan dan atau sejenisnya, perempuan digunakan sebagai sarana promosi. Parasnya dipertontonkan guna menarik perhatian khalayak. Belum lagi dengan masih banyaknya stereotype yang berkembang lainnya yang membuat budaya patriarki semakin langgeng saja.

Laki-Laki juga Merugi

Jika anggapan bahwa peranan dominan pada laki-laki adalah hal yang selalu menguntungkan laki-laki, tentu jawabannya tidak dapat selalu dibenarkan. Secara kuasa, ia memang dapat memaksakan kehendak dan lain sebagainya, namun hal ini juga dibarengi tanggung jawabnya agar ia kemudian dapat mempertahankan kesuperpowerannya.

Ia harus terus bekerja keras dan membantingtulang menjadi kepala keluarga yang harus senantiasa menanggung beban keluarga, harus terus terlihat kuat, tidak boleh bersedih dan juga menangis pada berbagai keadaan dan lain sebagainya.

Padahal, sekuat-kuatnya laki-laki, ia juga manusia biasa. Dapat lelah, dapat letih, dapat bersedih dan juga tidak masalah jika mengeluh.

Oleh karenanya, tidak melanggengkan patriarki dan menempatkan gender secara setara adalah pilihan yang tepat. Laki-laki dan perempuan dapat bersama-sama berkolaborasi dalam menjalankan kehidupan, dapat bersenang-senang dan menangis bersama sesuai dengan keadaan yang sedang dirasakan dan lain sebagainya. Oleh karenanya, hindari patriarki mulai dari hari ini, esok dan seterusnya.

Penulis: Rio P

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed