by

Melalui Tridharma Perguruan Tinggi Menag Ajak Akademisi Wujudkan Moderasi Beragama

Kabar Damai | Kamis, 17 Juni 2021

Jakarta | kabardamai.id | Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengajak para akademisi untuk mewujudkan moderasi beragama melalui Tridharma Perguruan Tinggi. Ajakan ini disampaikan Menag dalam Seminar Kebangsaan Dies Natalis Universitas Katolik Atma Jaya ke-61, di Jakarta.

Sejatinya, menurut Menag, moderasi beraga merupakan cara pandang, sikap, dan praktik beragama berlandaskan prinsip menaati konstitusi dan konsensus nasional sebagai kesepakatan berbangsa.

“Dalam konteks ini, Unika Atma Jaya dapat mengambil peran lebih besar agar dapat mendeliver nilai-nilai agama sebagai inspirasi dalam pembangunan,” ujar Menag yang hadir secara virtual, Selasa, 15 Juni 2021.

Dilansir dari laman Kementerian Agama RI, melalui Tridharma perguruan tinggi, Menag berharap Unika Atma Jaya dapat berkontribusi dalam penanaman nilai moderasi beragama. Nilai-nilai Pancasila menurut Menag harus menjadi pedoman para akademisi dalam menunaikan tridharma perguruan tinggi.

Baca Juga: Ini Dia Landasan dan Tujuan Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi

“Sebagaimana semboyan tokoh agamawan Katolik sekaligus pahlawan nasional Romo Sugijapranata di masa perjuangan kemerdekaan, ‘menjadi seratus persen Katolik, seratus persen Indonesia’,”tandas Menag.

Spirit ini, lanjut Menag, hendaknya terus digelorakan dalam mengamalkan ajaran agama dan pada saat yang sama menjadi entitas yang tidak terpisahkan dari ke-Indonesiaan. “Melalui spirit ini, kita meyakini dapat tercipta suasana kedamaian dan kerukunan umat beragama untuk keutuhan NKRI,” harap Menag.

Turut hadir dalam seminar kebangsaan tersebut, Rektor Universitas Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko, Dekan, Dosen, serta mahasiswa Universitas Atma Jaya.

Ajak Pemuda Kristen Perkuat Program Moderasi Beragama

Sebelumnya, Wakil Menteri Agama (Wamenag), Zainut Tauhid Sa’adi, memberikan sambutan pada acara pelantikan dewan Pengurus Pusat Generasi Muda Pembaharu Indonesia (Gempar) periode 2021-2026, di Jakarta, Sabtu, 22 Mei 2021.

Dalam sambutannya, seperti dilansir Kompas.tv (23/5), Wamenag mengajak pemuda Kristen untuk ikut dalam memperkuat program moderasi beragama. Bahkan, program ini merupakan salah satu prioritas Kemenag di tahun 2021.

Menurutnya, penguatan moderasi beragama sangat penting dan relevan dalam merawat kerukunan masyarakat Indonesia.

“Penguatan moderasi beragama diperlukan sebagai strategi kebudayaan kita dalam merawat keindonesiaan,” kata Wamenag dikutip dari situs resmi Kemenag pada Minggu, 23 Mei 2021.

“Sebagai bangsa yang sangat heterogen, sejak awal para pendiri bangsa sudah berhasil mewariskan satu bentuk kesepakatan dalam berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang telah nyata berhasil menyatukan semua kelompok agama, etnis, bahasa, dan budaya.”

Wamenag menegaskan, Indonesia disepakati bukan menjadi negara agama, tapi juga tidak memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari warganya. Nilai-nilai agama dijaga, dipadukan dengan nilai-nilai kearifan dan adat-istiadat lokal.

Beberapa hukum agama juga dilembagakan oleh negara. Ritual agama dan budaya berjalin berkelindan dengan rukun dan damai.

“Itulah sesungguhnya jati diri Indonesia, negeri yang sangat agamis, dengan karakternya yang santun, toleran, dan mampu berdialog dengan keragaman,” ucap Wamenag, seperti dikutip dari kompas.tv.

“Ekstremisme niscaya akan merusak sendi-sendi keindonesiaan kita, jika dibiarkan tumbuh berkembang. Karenanya, moderasi beragama amat penting dijadikan cara pandang dan dikuatkan.”

Moderasi sebagai Jalan Tengah

Penguatan moderasi beragama, kata Wamenag, merupakan upaya menghadirkan jalan tengah atas dua kelompok ekstrem antara liberalisasi dan konservatisme dalam memahami agama.

Tujuannya, tak lain untuk menghadirkan keharmonisan di dalam kehidupan masyarakat sebagai sesama anak bangsa.

“Moderasi beragama bukan alasan bagi seseorang untuk tidak menjalankan ajaran agamanya secara serius. Sebaliknya, moderat dalam beragama tidak hanya berarti percaya diri dengan esensi ajaran agama yang dipeluknya, yang mengajarkan prinsip adil dan berimbang, tetapi juga berbagi kebenaran sejauh menyangkut tafsir agama,” kata Zainut.

“Karakter moderasi beragama meniscayakan adanya keterbukaan, penerimaan, dan kerjasama dari masing-masing kelompok yang berbeda.”

Wamenag berharap, penguatan moderasi beragama dapat menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi revolusi mental dan pembangunan kebudayaan dalam upaya meningkatkan SDM berkualitas dan berdaya saing.

Wamenag mengajak pengurus pusat Gempar untuk ikut bersinergi dalam memperkuat moderasi beragama di tengah masyarakat.

“Para mahasiswa dan generasi muda adalah agen perubahan sekaligus promotor kebudayaan yang dapat memajukan peradaban menuju Indonesia Maju,” pungkasnya. [kemenag.go.id/kompas.tv]

 

Penyunting dan Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed