by

Media: Kawan atau Lawan?

Kabar Damai | Selasa, 28 Juli 2022

Pontianak I Kabardamai.id I Media menjadi ujung tongak informasi sekaligus sarana mempengaruhi pola fikir dan bertindak masyarakat. Oleh karenanya, pemberitaan di media seharusnya menampilkan sisi yang baik dan humanis khususnya kepada komunitas rentan dan atau masyarakat dengan latarbelakang minoritas.

Ahmad Junaidi, Direktur Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (Sejuk) menjelaskan bagaimana peranan media tersebut yang kemudian dalam dua sisi dapat menjadi kawan dan bahkan menjadi lawan karena pemberitaan yang dibuatnya.

Ia memaparkan bahwa hingga saat ini banyak media masih menggunakan diksi yang kurang sesuai dengan konteks pemberitaan. Misal pada pemberitaan perempuan, komersialisasi  dilakukan dengan kerap dijadikannya perempuan sebagai objek dalam badan pemberitaan yang ada namun dengan pemilihan kata dalam judul maupun badan tulisan yang kurang tepat.

“Media besar dan kecil punya peran dalam membuat masyarakat hancur atau mendamaikan. Hal ini dilakukan oleh wartawan dan media yang bisa menjadi kompor dan membunuh ribuan orang karena pemberitaan,” ujarnya.

Contoh lain, terhadap disabilitas, wartawan masih sering salah dalam menulis. Biasanya dilakukan dengan narasi atau diksi yang kurang tepat. Misalnya, diksi idiot dan atau cacat masih sangat sering pula ditemukan hingga saat ini. Selain itu, penyebutan nama korban, keterangan desa hingga kerabat dan orang tua masih masih kerap ditemukan pula.

Menurut Alex, biasa ia disapa menuturkan bahwa jurnalisme yang harus netral bukanlah hal yang selalu dianggap benar benar, hal ini karena dalam praktiknya media boleh berpihak terkhusus berpihak kepada korban. Menurutnya pula, media dapat menjadi teman bagi komunitas, diimplemetasikan dengan pemberitaan yang baik melalui proses liputan dan persetujuan dari komunitas yang bersangkutan pula.

Baca Juga: Gawai Dayak: Ungkapan Syukur Masyarakat Dayak dan Media Wawasan Pluralitas

“Masih banyak media atau pelaku pemberitaan yang tidak dekat dengan komunitas sehingga membuat pemberitaan yang tidak ramah. Hal ini karena minimnya pengetahuan serta didikan keluarga dari wartawan yang sejak lama ada sehingga turut diberlakukan pula semasa ia bekerja,” tuturnya.

Ditanya tentang mengapa masih banyak media yang melakukan click bait sehingga menggunakan diksi yang tidak tepat. Alex menjawab salah satunya karena kompetisi media diera digital yang begitu masif.

hal ini salah satunya karena sekarang sudah memasuki era digital dan kompetisi media digital sangat besar. Terlebih ada lebih dari 40.000 ribu media  dan hanya 2.000 saja yang terdaftar di dewan pers. Darisana, jelas bagaimana persaingan kemudian sangat besar,” ujarnya.

Wartawan biasanya ditarget, misal dalam satu hari harus memproduksi delapan hingga sepuluh berita sehingga dapat membuat kualitas berita menjadi buruk. Terlebih didukung oleh manajemen media yang buruk pula sehingga kualitas benar-benar akan semakin buruk. Sevara ganda. Walaupun hal tersebut tentu tidak dilakukan oleh semua media dan wartawan, masih ada yang bekerja dengan baik dan sesuai dengan kaidah dan nilai-nilai kemanusiaan.

Ia juga menambahkan, judul yang bombastis dan terkesan mengada-ada sebaiknya tidak dikunjungi karena dapat merugikan komunitas dan hanya memberikan keuntungan bagi media tanpa ada timbal baik dari keduanya.

Terakhir, ia mengajak dan mengigatkan kepada komunitas dan atau masyarakat yang merasa dirugikan dalam pemberitaan agar mengambil langkah tepat dalam proses penyelesaiannya. Hal ini dapat dilakukan dengan memberi haknya dalam koreksi dan jawab hingga melaporkannya kepada dewan pers.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed