by

Maulid Nabi: Meneladani Sikap Kemanusiaan dan Hidup Moderat Nabi

Oleh: Ai Siti Rahayu

Momen penting peringatan maulid nabi adalah bagaimana sifat teladan nabi selalu kita contoh dalam kaseharian kita, dalam beribadah, dalam kehidupan kita sebagai warga negara, juga teladan  kecintaanya membela negara dan bangsa, dalam kerukunan bermasyarakat baik dalam hubungan sesama muslim maupun dengan non muslim.

Akhir-akhir ini ada sedikit masalah menyebabkan terjadinya sekat-sekat antara muslim dengan non muslim, maka budi pekerti Rasulullah menjadi prioritas teladan, diantaranya teladan persatuan pada zaman Rasulullah, dan pesamaan antar suku atau kelompok di Madinah merupakan hal yang mutlak untuk memperkuat Madinah menjadi markas utama perjuangan dalam penyebaran ajaran Islam.

Nabi Muhammad adalah makhluk spritual, sosial, dan politis sekaligus. Darinya, umat muslim dan seluruh manusia di dunia bisa belajar berbagai macam hal. Banyak sejarahwan mencatatnya sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam peradaban dunia. Bahkan dalam buku berjudul The 100: A Rangking of the Most Influential Persons in History yang ditulis oleh Michael H. Hart, dia menempatkan Nabi Muhammad di urutan teratas manusia paling berpengaruh sejagad raya. Tidak hanya Heart, intelektual sekaliber Annimarie Schimmel, sampai Philip K Hitti menaruh hormat pada Nabi Muhammad.

Penghormatan tertinggi yang diberikan kepada Nabi Muhammad bukan hanya karena disebabkan oleh pemikiran teologis dari umat-Nya. Namun juga   karena sepak terjang Nabi Muhammad dalam mengubah kondisi masyarakat arab dari kondisi keterbelakangan (jahiliah) menuju masyarakat yang berperadaban tinggi (civilized).

Lebih jauh dari itu Nabi Muhammad juga banyak diakui oleh berbagai kalangan baik  muslim maupun non muslim, sebagai sosok yang moderat memeliki integritas tinggi dan juga cerdas dalam memimpin.

Dalam buku berjudul And Muhammad is His Massanger: The Veneration of the Prophet  yang ditulis Annemarie Schimmel, dia mendeskripsikan Nabi Muhammad sebagai  sosok teladan bagi nilai-nilai moralitas baik dalam ucapan maupun perbuatan. Meski merupakan pemimpin tertinggi Islam, nabi merupakan sosok egaliter yang berkomitmen penuh pada terciptanya kesetaraan dan keadilan.

Nabi Muhammad Sosok Moderat

Bagi umat Islam, Nabi Muhammad ialah uswah dan qudwah. Apa yang dilakukan Nabi Muhammad merupakan sumber ajaran dan keteladanan. Seperti halnya Nabi Muhammad, umat Islam hendaknya menjadi pribadi dan komunitas yang moderat.

Sikap moderat dan moderatisme itu dapat dilakukan dalam tiga ranah. Pertama, ramah pemahaman; memiliki wawasan dan pemikiran Islam yang luas dan terbuka. Islam ialah agama wasatiyah: agama terbaik yang ajarannya moderat. Islam mengajarkan keseimbangan dan keadilan. Keseimbangan tersebut menurut Ibnu Katsir meliputi keseimbangan materiel dan spiritual, jasmani dan rohani, pribadi dan sosial.

Kedua, moderat dalam bersikap. Islam melarang sikap ekstrem dan berlebih-lebihan (ghuluw, tatharruf), baik dalam beragama maupun dalam berperilaku. Nabi Muhammad menegaskan bahwa penyelesaian masalah atau urusan yang terbaik ialah yang moderat (khairul umuri ausathuha).

Baca Juga: Muhammad Sebagai Teladan di Bidang Pendidikan

Ketiga, moderat dalam mengambil kebijakan: bermanfaat bagi sebanyak mungkin pihak. Hal ini mengandung prinsip keseimbangan dan representasi yang adil tidak semata-mata mengikuti logika dan prinsip hukum (boleh atau terlarang, benar atau salah), tetapi juga kepatutan dan kelaziman; etis dan normatif.

Ketiga ranah moderat dan moderatisme tersebut masih belum menjadi bagian dari hidup dan kehidupan sehari-hari. Terdapat banyak individu atau komunitas yang memiliki pemahaman atau kognisi yang moderat, tetapi sikap dan perilakunya ekstrem, serta kebijakan yang diambil bisa primordial dan komunal.

Tidak sedikit kebijakan publik yang ditetapkan pemerintah terlalu berpihak kepada kelompok tertentu yang mayoritas atau bagian dari gerbong. Momentum Maulid Nabi Muhammad hendaknya menjadi sarana memperbaiki diri sendiri agar menjadi pribadi yang mode rat, bukan sekadar kegiatan seremonial dan amalan spiritual.

Nabi Muhammad Memimpin dengan Setara

Dalam hal kepemimpinan misalnya, Nabi Muhammad telah meletakkan fondasi penting bagaimana menjadi figur pemimpin. Rasulullah menjalankan peran kepemimpinannya dengan etos egalitarianisme, yakni menempatkan semua entitas yang dipimpinnya secara setara.

Sedangkan dalam hal relasi sosial, Nabi Muhammad telah meletakkan dasar-dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Warisan terpenting nabi dalam konteks kebangsaan dan kenegaraan ini ialah terciptanya Piagam Madinah (Madinah Charter) yang merupakan konstitusi tertulis pertama di dunia.

Piagam Madinah berisi butir-butir perjanjian antar berbagai kelompok dalam masyarakat Madinah, yakni kaum Anshor, Muhajiri, kaum Yahudi dan sejumlah suku asli Madinah. Di dalamnya termuat klausul-klausul yang intinya mengatur hak dan kewajiban masing-masing entitas agar tercipta kehidupan yang harmonis, toleran, adil dan setara.

Ikatan dan solidaritas kebangsaan itulah salah satu modal terbesar kita untuk membangun peradaban. Oleh karena itu, menumbuhkan kembali semangat persatuan dan kesetaraan seperti diwariskan nabi melalui Piagam Madinah kiranya sangat relevan hari ini untuk membangkitkan kembali jiwa nasionalisme dan kemanusiaan kita.

Dengan meneladin Nabi Muhammad SAW kita harus bisa bersikap proporsional, moderat dan tidak berlebihan, karena sikap tersebut sangatlah penting dalam kehidupan kita.

Karenanya, segala tindakan kita yang berlebihan, ekstrem dan mudah mengumbar amarah kepada sesama dipastikan akan merusakan tatanan semesta yang imbang ini hingga jatuh dalam kerusakan dan kenistaan tanpa makna (ma la ya’nihi).

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed