by

MATAKIN Bendung Radikalisme Terorisme Melalui Moderasi Beragama

Kabar Damai I Rabu, 17 November 2021

 

Jakarta I kabardamai.id I Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) berkomitmen untuk terus melakukan upaya pencegahan paham radikal terorisme agar tidak tumbuh di masyarakat dengan memberikan edukasi dan peningkatan kapasitas umat dari paham radikalisme dan terorisme. Salah satunya dengan melakukan kerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Dilansir dari laman Pusat Media Damai BNPT, hal ini dibuktikan dengan diselenggarakannya Seminar Nasional yang mengambil tema “Menangkal Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme dengan Memperkuat Moderasi Beragama” sebagai hasil inisiasi antara MATAKIN dan Subdit Kontra Propaganda pada Direktorat Pencegahan BNPT melalui Gugus Tugas Pemuka Agama yang diadakan di Klenteng Kong Miao, komplek Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu, 13 November 2021.

Ketua MATAKIN provinsi DKI Jakarta, Ws. Liem Liliany, SE, M.Ag yang juga menjadi Ketua Panitia acara seminar tersebut dalam sambutannya menyampaikan betapa pentingnya moderasi beragama di negeri yang penuh dengan keberagaman.

Hal ini supaya masyarakat dapat mengamalkan ajaran agama secara adil dan berimbang sehingga terhindar dari perilaku menyimpang yang tidak diajarkan didalam agama yang menjerumuskan kedalam tindakan radikal dan terorisme.

“Acara ini sebagai sarana untuk menyatukan persepsi, pentingnya moderasi beragama yang tidak lain untuk menghadirkan keharmonisan didalam kehidupan kita sebagai upaya di dalam menumbuh sikap toleransi, mencegah intoleransi, radikalisme dan terorisme,” ujar perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Gugus Tugas Pemuka Agama Konghucu ini, dikutip dari damailahindonesiaku.com (15/11).

Liem berharap, melalui acara yang turut dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat mulai dari pemuda, mahasiswa, pelajar, guru/dosen, ormas serta perwakilan dari berbagai agama dan kepercayaan ini dapat menjadi sarana bagi para tokoh agama dan peserta lainnya untuk menguatkan peran dan kapasitas pengetahuan mereka akan moderasi beragama.

“Melalui acara ini, penting untuk menguatkan peran para tokoh agama, penyuluh, guru, dan masyarakat serta khususnya umat Konghucu agar lebih memahami dan dapat melaksanakan moderasi beragama di masyarakat agar kerukunan dapat terus terjaga,” ungkapnya

 

Moderasi Beragama sebagai Ajaran ‘Chung’

Sementara itu, Dewan Kerohanian MATAKIN, Chandra Setiawan memaknai moderasi beragama sebagai ajaran tengah atau ‘Chung’, yang bermakna bagaimana membangun tengah harmonis, menjadi orang yang tidak ekstrim, berlebihan atau serba kekurangan sehingga memiliki hidup yang berada pada koridor yang pas.

“Koridor yang pas adalah bagaimana membangun hidup harmonis dengan orang lain, bisa menerima perbedaan, menjadi orang yang anti kekerasan. Menjadikan umat sadar bahwa hidup di jalan tengah adalah jalan yang baik. Itulah moderasi beragama,” terangnya.

Baca Juga: Peran MATAKIN dalam upaya Tangkal Radikalisme dan Terorisme Diapresiasi BNPT

Mantan rector Presiden University ini berharap, kepada seluruh masyarakat khususnya umat Konghucu melalui acara ini dapat lebih meningkatkan peran dan kesadaran untuk aktif dalam mencegah paham kekerasan yang mengatasnamakan agama.

“Padahal kita ini baru bisa disebut beriman kalau kita itu betul-betul memperhatikan orang lain, makhluk hidup dan lingkungan sekitar. Itulah beriman,” jelas Chandra.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) DKI Jakarta, Taufan Bakri menyebutkan ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam rangka menangkal radikalisme.

Yang pertama, kesadaran dari berbagai mejelis agama bahwa mereka dapat berperan menyebarkan pemahaman bahwa radikalisme adalah musuh agama kepada umat dan masyarakat.

“Semua majelis agama yg tergabung dalam fkub mampu memberikan peran. Peran apa? Peran menularkan pemahaman bahwa radikalisme ada dalam semua keagamaan oleh karena itu perlu konsep moderasi beragama,” ungkap Taufan.

Yang kedua, adalah dengan memberikan perhatian khusus kepada pelajar sebagaimana kelompok radikal seringkali menysupi ekstrakurikuler keagamaan di sekolah-sekolah dengan membawa paham lain yang bertentangan dengan consensus nasional, Pancasila dan UUD 1945.

“Perlu untuk terus mengawasi 90.000 populasi pelajar di DKI Jakarta agar terhindar dari pemahaman terorisme, sehingga perlu sekali untuk secara kontinyu memasukkan pemahaman moderasi kepada pelajar,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi DKI Jakarta ini.

Terakhir, Taufan berharap MATAKIN sebagai majelis yang menaungi penganut agama Konghucu dapat meningkatkan dan meneruskan peran untuk menahan dan mencegah masuknya paham radikalisme khususnya yang menyasar pada umat Konghucu dimanapun berada, sebagaimana umat Konghucu telah ada dan hidup berdampingan dengan suku dan agama lainnya sejak bangsa ini berdiri.

“MATAKIN sebagai sebuah keagamaan yang dianut oleh para keturunan tionghoa di Jakarta itu jumlahnya ratusan ribu, nah mereka ini dapat berkomunikasi melalui Kong Miao mereka untuk menahan radikalisme. Inilah pentingya MATAKIN ada ditengah kita untuk mencegah radikalisme. Semoga sumbangsih mereka juga memberi warna baru bagi Jakarta untuk mencegah pemahaman yang menyimpang dari Pancasila,” ungkapnya mengakhiri. [damailahindonesiaku]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed