by

“Masyarakat Pancasila” untuk Kesejahteraan, Kedamaian dan Keadilan Papua

Kabar Damai I Minggu, 27 Juni 2021

Jayapura I kabardamai.id I Dua tokoh Provinsi Papua masing-masing Kapolda Papua Irjen Pol Mathius D Fakhiri dan Pangdam XVII/ Cenderawasih Mayjen TNI Ignatius Yogo Triyono menegaskan bahwa masyarakat Pancasila harus terwujud di tanah Papua.

Pancasila harus diimplementasikan di setiap sendi kehidupan masyarakat di bumi Cendrawasih agar kesejahteraan, kedamaian dan keadilan terwujud.

Demikian ditegaskan kedua tokoh tersebut dalam kesempatan yang terpisah ketika menerima editor buku “Masyarakat Pancasila” AM Putut Prabantoro, alumnus Lemhannas RI – PPSA XXI.

Dirangkum dari laman BPIP, buku karya terakhir sesepuh TNI dan mantan Gubernur Lemhannas Letjen TNI (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo itu diserahkan AM Putut Prabantoro, yang juga Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) di masing-masing kantor kedua tokoh tersebut di Jayapura, Selasa, 22 Juni 2021.

Oleh Mathius D Fakhiri ditegaskan bahwa Pancasila itu adalah anugerah bagi bangsa Indonesia termasuk bagi rakyat Papua. Hanya dengan Pancasila, kesejahteraan, kedamaian dan keadilan akan terwujud di tanah Papua. Para pemuda Papua dari manapun mereka berasal harus bekerja keras untuk memulai tanpa berhenti untuk mewujudkan nilai-nilai yang ada dalam Pancasila.

“Ketika dilahirkan, kita tidak bisa memilih tempat kelahiran, siapa orang tua kita, apa suku dan agamanya, siapa saudaranya, siapa tetangga sebagai lingkungan di mana nanti kita semua akan dibesarkan dan juga termasuk apa pekerjaan orang kita. Semua yang diberikan saat kita lahir adalah anugerah dan itu semua adalah modal kita untuk hidup. Termasuk juga Pancasila sebagai dasar negara kita adalah anugerah bagi kita semua,” terangnya, dikutip dari bpip.go.id (26/6).

Baca Juga: Pendidikan Sosial Budaya “Jalan Alternatif” dalam Mengurai Konflik Papua

Dijelaskan Mathius Fakhiri, yang dibesarkan di Merauke ini, jika Pancasila diimplementasikan, masyarakat Papua yang sejahtera, damai, dan adil akan terwujud. Dengan Pancasila, semua akan mewujudkan hal tersebut dan harus dimotori oleh generasi muda Papua dari manapun mereka berada. Tanpa terkecuali seluruh generasi muda harus menuju ke kebaikan untuk mewujudkan mimpi Papua yang damai, Papua yang sejahtera dan Papua yang adil dan Papua yang berbudaya.

Namun, imbuh Mathius, mewujudkan mimpi-mimpi itu hanya dapat dicapai jika semua masyarakat menuju ke kebaikan baik secara spiritual maupun material. Dan, untuk mewujudkannya perlu kerja keras tanpa syarat. Menuju kebaikan bisa dilihat ketika masyarakat Papua meninggalkan kebiasaan lama yang tidak baik dan memulai kehidupan yang baru yang menjanjikan.

Tergantung pada Generasi Muda

Menurutnya, masa depan Papua sangat tergantung pada generasi mudanya dan masing-masing sila dalam Pancasila memberikan cara bagaimana bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke harus hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sementara Pangdam Ignatius Yogo Triyono, sangat menyetujui pernyataan Kapolda Mathius D Fakhiri dengan menegaskan bahwa mewujudkan keadilan, kesejahteraan, Papua yang damai adalah kerja gotong royong semua warga masyarakat.

“Itu bukan kerja Kapolda ataupun Pangdam saja yang memberi rasa aman atau rasa damai. Mimpi hanya bisa terwujud jika kerja gotong royong, bersama-sama antara jajaran pemerintah dan warga masyarakatnya, persatuan antar masyarakat Papua dari mana saja asalnya,” ujar Yogo.

Menurutnya, Papua yang kaya akan mempunyai arti bagi kesejahteraan masyarakatnya, jika kita semua menyadari dan bekerja keras untuk mewujudkan kesejahteraannya.

“Tidak ada suatu keberhasilan, kesuksesan yang dicapai tanpa kerja keras. Kerja keras seperti apa ? Apa artinya sebuah kekayaan ataupun warisan berlimpah jika kita tidak dapat mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat Papua.” ujar Pangdam Cenderawasih itu.

Bagi Yogo Triyono, masyarakat Papua harus bangga memiliki kekayaan yang berlimpah dan tidak seperti beberapa daerah Indonesia lain yang tidak memiliki kekayaan alam. Namun tidak cukup hanya berbangga saja, masing-masing warga Papua harus bertanggung jawab atas hidupnya dengan mewujudkan impiannya melalui Pancasila.

“Generasi muda Papua jangan terus berkeluh kesah dan jangan lemah. Karena kalau terus mengeluh mereka melawan anugerah Tuhan karena ditakdirkan menjadi orang yang kuat secara fisik dan mampu hidup di alam yang luar biasa tantangannya.

Generasi muda Papua harus melihat provinsi lain yang dapat hidup meski tanpa kekayaan alam yang berlimpah. Berbanggalah karena hidup dalam alam yang kaya, bersyukurlah karena tidak semua alam Indonesia seperti Papua, bekerja keraslah untuk mewujudkan mimpi dan bertanggung jawab atas hidup yang diberikan Tuhan,” kata Yogo Triyono menegaskan.

Perjalanan Buku “Masyarakat Pancasila”

Buku Masyarakat Pancasila pertama kali diluncurkan pada acara Buka Tahun Baru Bersama Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia pada Januri 2019 di Gedung Dwi Warna Lemhannas dan diamanatkan untuk disebarkan ke seluruh Indonesia.

Pesan utama buku ini adalah dengan segala modal dan kekayaan yang dimiliki oleh Indonesia, pada tahun 2045 yakni 100 tahun kemerdekaan Indonesia akan terwujud Indonesia Raya.

Dilansir dari BeritaSatu.com (31/5), sebagai tindak lanjut dari amanat yang ditinggalkan, pada 19 Januari 2021 buku Masyarakat Pancasila dibawa keliling Indonesia Indonesia diawali dari Titik Nol Kilometer Indonesia di Sabang, Pulau We, Aceh. Buku tersebut diterima oleh Pangdam Iskandar Muda, Aceh, Mayjen TNI Achmad Marzuki.

Pada awal Maret 2021, buku tersebut dibagikan kepada tokoh masyarakat dan penjaga perbatasan di Long Bagun Kalimantan Timur, Long Ampung Kalimantan Utara, Titik U444 – Pos Penjagaan Indonesia dan Serawak dan kepada Bupati Kutai Barat Kalimantan Timur FX Yapan. Penyerahan buku disaksikan dan didampingi Pangdam VI / Mulawarman Mayjen TNI Heri Wiranto.

Pada 18 Maret 2021, buku tersebut diserahkan kepada para siswa Pendidikan Singkat Dinas Pendek Penerbang (PSDP) di Komplek AKMIL, Lembah Bukit Tidar yang disebut sebagai Patok Pulau Jawa. Buku itu juga diserahkan kepada perwakilan siswa Sekolah Perwira Prajurit Karir (SEKPA PK TNI) Kodiklat TNI, di Lapangan Tembak AKMIL yang terletak di Desa Plempungan, Borobudur, Magelang. Penyerahan buku disaksikan oleh Dan Pusdikma Kodiklat TNI Brigjen TNI Herianto Syahputra.

Terkait dengan penyerahan di Titik Nol Kilometer Indonesia, Sota, Merauke, Putut Prabantoro menjelaskan, dirinya ingin menggunakan momentum peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni dengan menyerahkan buku tersebut agar isi lagu dari “Sabang Sampai Merauke” tergenapi. Dari Merauke, buku Masyarakat Panasila rencananya akan dibawa ke beberapa titik yang sudah direncanakan di seluruh Indonesia.

Dalam pernyataan singkatnya, Kasrem 174/ARW Kolonel Arh Hamim Tohari mengatakan masyarakat Merauke sangat paham dengan kehidupan berPancasila. Dengan wilayah yang begitu luas, masyarakatnya hidup dengan damai, saling bergotong royong dan menjunjung tinggi toleransi. Dan diharapkan kehidupan seperti ini akan terus berlanjut terutama toleransi hidup bermasyarakat di antara suku-suku yang ada di Wilayah Merauke.

Dalam bukunya, Sayidiman Suryihadiprojo yang wafat pada 16 Januari 2021, berharap agar Pancasila membuat Indonesia Raya terwujud pada 2045 saat bangsa ini merayakan 100 tahun kemerdekaan.

 

Kerukunan, Toleransi dan Persatuan Jadi Tanggung Jawab Bersama

Sebelumnya, buku “Masyarakat Pancasila” diserahkan kepada tiga tokoh masyarakat di Long Bagun, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, Senin, 1 Maret 2021 lalu.

Mereka adalah Ketua Adat Dayak Kenyah Balan Tingai, Komandan Satgas Pengamanan Perbatasan RI-Malaysia Mayor Inf Indar Riawan, Kapolsek Long Bagun AKP Purwanto dan Sekda Kabupaten Mahakam Ulu, Stephanus Madang. Penyerahan buku tersebut disaksikan oleh Pangdam VI/Mulawarman Mayjen Heri Wiranto dan alumnus PPSA XXI Lemhannas, Caturida Meiwanto Doktoralina yang juga dosen Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta.

Putut Prabantoro, dilansir dari BeritaSatu, Selasa, 2 Maret 2021 mengatakan, Long Bagun merupakan titik kedua penyerahan buku “Masyarakat Pancasila”. Pada 19 Januari lalu buku yang sama diserahkan kepada Pangdam Iskandar Muda Aceh Mayjen Achmad Marzuki di Titik Nol Kilometer Indonesia, Sabang.

Dalam penyerahan buku kedua ini ada keunikan tersendiri, yakni ada tiga pakaian adat bertemu. Pakaian adat Dayak dikenakan oleh Ketua Adat Dayak Kenyah Balan Tingai, pakaian adat Yogyakarta yang dikenakan AM Putut Prabantoro, dan pakaian adat Melayu yang dikenakan oleh Caturida Meiwanto Doktoralina.

Keunikan ini membuat masyarakat keterkejutan. Leni, salah satu penduduk setempat dan lulusan dari Program Studi Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengatakan, peristiwa pertemuan tiga pakaian adat dalam penyerahan buku itu adalah peristiwa pertama yang terjadi di daerahnya. Long Bagun merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Mahakam Ulu yang berjarak 288 km dari Balikpapan, Kalimantan Timur.

Menurut Putut Prabantoro, dengan cara penyerahan kepada masyarakat seperti itu, buku terakhir Sayidiman Suryohadiprojo ini diharapkan dapat mengingatkan bangsa Indonesia tentang pentingnya budaya dalam ikatan NKRI. Pancasila, suku, budaya, dan ras yang merupakan anugerah dan sekaligus menjadi kekayaan dipersatukan dalam ikatan satu bangsa, yakni bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kerukunan, toleransi dan persatuan sebagai bangsa menjadi tanggung jawab bersama dan harus dipelihara.

Sementara itu, Caturida Meiwanto Doktoralina menegaskan, masyarakat Mahakam Ulu, terutama Long Bagun, harus mengedepankan gotong royong, sebagai nilai utama dalam Pancasila, untuk membangun daerahnya yang memiliki kekayaan alam berlimpah. Sebagai daerah baru pemekaran, kekayaan yang dimiliki Mahakam Ulu harus menyejahterakan masyarakat setempat dan itu hanya dapat dicapai melalui Pancasila. [bpip/beritasatu]

 

Penyunting: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed