by

Masjid Damarjati, Potret Pusat Syiar Islam Sekaligus Saksi Sejarah Perang Diponegoro

-Peacetrain-69 views

Kabar Damai | Senin, 26 April 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Sore itu, langit masih cerah ketika rombongan Peace Train Indonesia (PTI) ke-12, singgah di Masjid Damarjati yang merupakan masjid bersejarah tempat dimana Laskar Diponegoro melakukan syiar Islam di kota paling toleran di Indonesia, yaitu Salatiga.

Lantai Masjid Damarjati di Dukuh Krajan RT 02 RW 05, Kelurahan Salatiga, Kecamatan Sidorejo, Salatiga terlihat diberi tanda pembatas demi menjaga protokol kesehatan. Peserta PTI12 juga dicek suhu tubuh sebelum memasuki masjid.

Edy Trianto Basuki sedang memberikan penjelasan mengenai sejarah Masjid Damarjati dengan menerapkan Protokol Kesehatan

Meskipun peserta PTI12 hadir dari beragam suku yang berbeda dan juga beragam agama yang berbeda, namun peserta disambut dengan senyum ramah dari pengurus Masjid Damarjati, Edy Trianto Basuki.

Dengan senyum yang tak lekang dari wajahnya, beliau menceritakan sejarah Masjid Damarjati.

Meski perang Diponegoro awalnya dari Jogjakarta, namun akhirnya berkobar di berbagai tempat di pulau Jawa. Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada waktu itu, Paku Buwono VI ikut mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro. Dia seringkali meninggalkan gunung Merbabu dengan alasan bertapa, padahal dia mengadakan pertemuan rahasia dengan Pangeran Diponegoro secara sembunyi-sembunyi.

“Salatiga merupakan basis militer Belanda yang kuat, maka Laskar Diponegoro melakukan perang gerilya untuk melawan Belanda. Dua mata mata laskar Diponegoro yaitu, Kiai Sirojudin dan Kiai Ronosentika ditugaskan ke Salatiga sebagai mata-mata,” ujar Edi menceritakan awal kisah Masjid Damarjati.

Baca Juga : PTI 12, Jalan – Jalan ke dusun toleran di Thekelan – Merbabu

Edi kembali bercerita, misi kedua kiai tersebut adalah menyebarkan ajaran agama Islam, sehingga mereka merencanakan membangun surau di Salatiga. Untuk mencegah kecurigaan Belanda, pada akhirnya kedua kiai tersebut berpisah. Kiai Sirojudin tetap tinggal di Krajan, dan Kiai Ronosentika tinggal di daerah Krauman.

“Setelah berpisah Kiai Ronosentika, merubah nama menjadi Damarjati. Pertama kali di bangun, surau tersebut hanya berukuran 36 meter persegi dengan atap sirap dan dinding anyaman bambu,” beber Edi.

Selain sebagai tempat ibadah, surau ini juga menjadi tempat berkumpulnya pengikut Kiai Damarjati. Di surau ini mereka mengatur strategi, dan menjalankan tugas mata-mata.

Menariknya, surau ini hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari gudang mesiu Belanda, namun gerakan diam diam ini sukses berkamuflase.

Nama Kiai Damarjati semakin terkenal, bukan hanya di kalangan masyarakat Krajan. Tetapi, juga di kalangan masyarakat pribumi Salatiga.

Setelah perang Diponegoro usai, Kiai Dmarjati tetap tinggal di Krajan dan melanjutkan syiar islam.

Edi kemudian melanjutkan perihal sosok Kiai Damarjati, “Beliau (Kiai Damarjati) adalah sosok yang baik dan pintar, karenanya bahkan setelah dia wafat, Kiai Damarjati dimakamkan didekat masjid Damarjati. Untuk terus mengingat akan jasa-jasanya.”

Michael (Peserta PTI ke-12) memberikan plakat ucapan terimakasih kepada Pengurus Masjid Damarjati

Masjid Tertua di Salatiga
Untuk mengenang nama Damarjati surau itu dibangun menjadi masjid dan diberi nama Damarjati. Itulah masjid tertua di Salatiga yang dibangun pada tahun 1826 ditengah berkecamuknya perang Diponegoro.

Sedangkan masjid Al-Attiq adalah masjid tertua kedua di Salatiga, yang didirikan oleh Kiai Ronosentika, setelah perang Diponegoro usai.

Renovasi kali pertama dilakukan tahun 1987. Kemudian renovasi kedua tahun 2007.

“Renovasi dilakukan secara total dan merombak bentuk aslinya. Bangunan asli yang tersisa juga sudah tak ada, hanya beduk, itupun kulitnya sudah diganti beberapa kali. Yang masih tersisa hanya kayu kerangkanya saja,” tutup Edi.

Penulis : Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed