by

Masjid Al-Mujahadah dan Gereja GPDI Jadi Wujud Toleransi Umat Beragama di Landak

Kabar Damai I Kamis, 07 Oktober 2021

Landak I Kabardamai.id I Harmonisasi kehidupan bermasyarakat sejatinya haruslah tercipta dalam segala lini, satu diantaranya ialah dalam hal kehidupan beragama. Hal ini menjadi penting karena agama adalah ranah privat namun kerap digeneralkan dan sehingga suatu kepercayaan kerap dianggap paling benar dari yang lain dan dapat menyebabkan terjadinya konflik yang menjurus pada perpecahan dengan skala besar seperti yang kerap terjadi beberapa waktu terakhir ini.

Potret yang berkaitan dalam kehidupan toleransi, keberagaman, saling menerima dan saling menghormati utamanya dalam kehidupan umat beragama tampak di Kalimantan Barat. Khususnya di Kabupaten Landak melalui berdirinya dua rumah ibadah yaitu masjid dan gereja. Kedua bangunan ini berada di Desa Tebedak, Kabupaten Landak.

Kabupaten Landak adalah wilayah tingkat II di Kalimantan Barat. Dahulu, kabupaten ini merupakan bagian dari Kabupaten Pontianak dengan status wilayah kerja pembantu bupati Pontianak wilayah Ngabang dimana didalamnya meliputi Kecamatan Ngabang, Kecamatan Air Besar, Kecamatan Menyuke, Kecamatan Sengah Temila dan Kecamatan Meranti.

Melalui berbagai proses dan aspirasi dan mempertimbangkan berbagai unsur dan pelayanan kepada masyarakat, kemudian menjadikan Kabupaten Pontianak dimekarkan menjadi dua yaitu Kabupaten Pontianak dan Kabupaten Landak. Dilansir dari Landakkab.go,id, menuliskan bahwa pembentukan Kabupaten Landak disahkan melalui UU Nomor 55 Tahun 1999 pada 4 Oktober 1999.

Toleransi Saat Peresmian Masjid

Perihal dua rumah ibadah masjid dan gereja yang berdiri bersebelahan, ada hal menarik lain yang terjadi khususnya saat peresmian masjid yang ada. Masjid Al-Mujahadah baru diresmikan pada tahun 2019, sedangkan gereja GPDI jauh lebih lama berdiri disebelahnya.

Pada saat peresmian masjid yang bertepatan dengan pelaksanaan hari misa, pihak pengelola dan panitia masjid menyelenggarakannya pada saat umat Kristiani selesai melaksanakan ibadah, sementara itu pihak gereja sendiri juga mempercepat pelaksanaan misa agar tidak mengganggu peresmian masjid itu sendiri.

Berdasarkan hasil pernyataan yang dilansir dari tayangan Kompas TV Pontianak, Pendeta Steven Senduk, tokoh agama setempat menyatakan bahwa pemajuan dan mempercepat pelaksanaan misa adalah bentuk toleransi yang dilakukan pihak agar peresmian masjid dapat berjalan dengan sesuai rencana.

“(misa) dibuat menjadi sampai pukul setengah sebelas, begitu juga pihak masjid yang akan meresmikan juga dari awalnya jam sepuluh menjadi setengah sebelas,”.

Baca Juga: Ajarkan Toleransi, Menilik 5 Kampung Muslim yang Harmonis dari Pulau Dewata

“Jadi kami berupaya menunjukkan hal yang baru bagaimana kita menunjukkan toleransi dalam kita beragama agar tercipta kedamaian, ketentraman bersama. Karena tempat ibadah itu pada intinya bagaimana kita menjalankan keyakinan kita masing-masing,” jelasnya.

Dukungan juga turut datang dari masyarakat Kristiani bernama Bulon, jemaat GPDI disana.

“Kami sebagai jemaat disini tidak merasa keberatan dengan peresmian masjid. Ditoleransi ditunjukkan dalam peresmian yang bertepatan pada hari minggu dan ada ibadah. Tapi disini kami merasakan ada kebersamaan karena mereka juga ada toleransi dan kami bisa beribadah dengan baik dan mereka juga bisa melaksanakan peresmian dengan baik karena ada toleransi dari jemaat kami dan dari pihak mereka,” paparnya.

Lebih jauh, Izmail ketua Lazizmu Kalbar berharap agar keberadaan masjid dapat membawa manfaat bagi masyarakat tidak hanya yang menganut agama Islam namun juga masyarakat non Islam pula.

“Kami berharap keberadaan masjid ini dapat membawa kebanggaan, kenyamanan tidak hanya bagi muslim namun juga non muslim. Kami berharap semua sibuk dengan rumah ibadahnya. Islam sibuk dengan masjidnya, Nasrani sibuk dengan gerejanya sehingga daerah ini menjadi aman,” harapnya.

Penulis: Rio P

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed