by

Masa Depan Perdamaian Indonesia Berada di Tangan Para Tenaga Pendidik

Ela, Alumni Peace Train Indonesia, sebagai orang muda ia menilai bahwa kasus-kasus serupa, seperti tindakan pemaksaan siswi non muslim menggunakan jilbab yang belakangan ramai diperbincangkan di sosial media bukan hal yang baru terjadi.

Banyak kasus-kasus serupa, dimana tindakan diskriminasi dan intoleransi terjadi dalam lingkungan sekolah. Hal paling menyedihkan seringkali pelakunya adalah seorang guru atau pemimpin yang seharusnya merangkul seluruh murid tanpa memandang latarbelakang agama, suku, sosial, dsb.

“Kejadian seperti ini bukan pertama kalinya terjadi di sekolah negeri. Kasus sebelum-sebelumnya sudah banyak terjadi, tentang mata pelajaran agama yang dipaksakan atau tidak didapatkan sesuai agamanya. Tapi kasus kali ini lebih mencolok lagi yang tidak seharusnya dilakukan oleh sekolah negeri. Melihat dari banyaknya kasus seperti ini maka pemerintah perlu menegaskan kembali tentang hal yang berkaitan seperti ini tidak boleh terjadi lagi. Apalagi di Indonesia jilbab merupakan simbol pakaian muslim, jika dipaksakan dengan aturan kepada yang non muslim tentunya adalah hal yang keliru. Dipaksakan kepada muslim saja itu juga tidak baik. Karena seseorang memilih berjilbab atau tidak, itu dari hati, bukan karena paksaan dari orang lain,” Ungkap Ela.

Ditengah kabar yang kurang mengenakan ini, statement mantan Kepala Sekolah SMA Al Izhar Pondok Labu, Jakarta, Komar Kasman memberi pandangan lain bahwa tidak semua tenaga pendidik melakukan tindakan diskriminasi dan intoleransi, hal itu dilakukan oleh oknum-oknum tertentu saja.

Komar mengatakan, “sebagai warga negara, sebagai seorang muslim dan sebagai guru, menurut saya tindakan pimpinan SMKN 2 Padang yang memaksa siswi non muslim mengenakan jilbab, mencederai dan menodai 3 ranah sekaligus, yaitu NKRI yang dibangun diatas landasan kebinekaan, karena pemaksaan telah merobek tenun kebangsaan kita. Kemudian ajaran agama Islam yg sangat menekankan welas asih, empati, dan menghormati perbedaan. Terakhir, dunia pendidikan yang harusnya mengutamakan pendekatan penyadaran atas pilihan personal, bukan pemaksaan, terlebih lagi pemaksaan ekspresi keagamaan terhadap murid non muslim.”

Komar meminta tindakan tegas dari Dinas Pendidikan Kota Padang setempat atas perilaku arogansi dan  intoleransi yang dilakukan oleh pelaku. Karena perilaku tersebut mengancam eksistensi Bangsa dan Negara Indonesia. Eksistensi Indonesia diperjuangkan bukan hanya oleh umat Islam, tetapi juga oleh seluruh umat beragama lainnya yang menjadi bagian dari anak-anak bangsa.

“Arogansi dan pemaksaan yang mengatasnamakan apapun, harus kita kikis habis hingga akarnya yang paling dalam, jika kita ingin NKRI tetap eksis dan menjadi “rumah kebangsaan” yang nyaman bagi segenap warga negaranya yang sangat majemuk ini,” ujar Komar.

Masa depan perdamaian Indonesia sesungguhnya berada di tangan para tenaga pendidik atau guru. Karena seorang guru adalah panutan bagi anak didiknya dan anak-anak Indonesia ditentukan dengan cara para guru itu mendidik mereka hari-hari ini. Dengan harapan, akan muncul orang-orang muda seperti Ela, yang telah menghidupi nilai-nilai kebinekaan di dalam kehidupannya sehari-hari.

Oleh karena itu penting untuk mengevaluasi berbagai aturan pendidikan termasuk aturan untuk para calon tenaga didik. Perlu dipastikan bahwa para calon tenaga didik adalah mereka yang juga sudah memiliki atau sudah dibekali dengan pengetahuan tentang nilai-nilai kebinekaan yang ada di Indonesia.

-Admin

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed