by

Manusia dan Upaya Mencegah Terjadinya Kejahatan

Oleh: Syahbandi

Manusia dan peradaban tidak dapat terpisah dari konflik dan pertentangan. Konflik-konflik ini yang mengakibatkan perkembangan senjata-senjata dari zaman dahulu hingga sekarang. Alat-alat yang dibuat pada awalnya untuk berburu dan mempermudah pekerjaan manusia, dengan berjalannya waktu digunakan sebagai senjata untuk melukai manusia itu sendiri.

Dalam jurnal Perkembangan Teknologi Persenjataan dan Prinsip Proporsionalitas (2017) karya Elies Septiana Nurbani, dinamika perkembangan teknologi persenjataan beriringan dengan perkembangan peradaban manusia. Prinsip dasar perkembangan senjata adalah manusia selalu menggunakan senjata dalam perang sesuai dengan jamannya.

Senjata masa Perang Dunia Perkembangan teknologi persenjataan mengalami peningkatan yang signifikan selama Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Munculnya Revolusi Industri di Eropa menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan senjata masa Perang Dunia. Pada masa Perang Dunia, perkembangan persenjataan dikuasai oleh negara-negara industri seperti, Jerman, Jepang, Inggris, Amerika Serikat, dan Perancis. Beberapa teknologi-teknologi persenjataan masa Perang Dunia seperti tank, kapal selam, kapal perusak, pesawat pengebom, bom atom, senapan otomatis, senapan jarak jauh (Sniper Rifle).

Perkembangan Teknologi Persenjataan

Persaingan yang paling mencolok dalam masa Perang Dingin adalah dalam bidang militer, khususnya dalam hal persenjataan. Kedua negara adidaya itu saling berlomba menciptakan berbagai senjata yang mutakhir dan mematikan, misalnya bom.

Bom adalah senjata ledak yang lazim digunakan dalam perang. Bom umumnya terdiri atas wadah logam yang diisi dengan bahan peledak atau bahan kimia. Bom melukai dan menewaskan orang serta merusakkan gedung dan bangunan lain, kapal, pesawat terbang, ataupun sasaran lain. Salah satu senjata yang paling menakutkan dan dapat membantu mengakhiri Perang Dunia II adalah bom atom.

Lalu, bagaimana perkembangan teknologi persenjataan dalam mencegah konflik?

Teknologi Persenjataan Baru di Bawah Pengawasan Hukum

Teknologi persenjataan baru dalam era peperangan modern, dampak kemanusiaan yang ditimbulkan dan pengaturannya berdasarkan hukum humaniter internasional akan menjadi topik utama dalam sebuah diskusi meja bundar di San Remo, Italia, yang diselenggarakan oleh Institut Internasional Hukum Humaniter Internasional dan Komite Internasional Palang Merah (ICRC) pada tanggal 08 s.d 10 September.

“Dunia teknologi baru bukanlah dunia virtual atau fiksi ilmiah. Dalam konflik bersenjata, teknologi-teknologi baru tersebut dapat menyebabkan kematian dan kerusakan yang sangat nyata,” kata Jakob Kellenberger, presiden ICRC. “Sangat penting untuk mengkaji isu-isu yang dipicu oleh perkembangan teknologi, mengevaluasi konsekuensi kemanusiaannya dan memastikan bahwa teknologi tersebut tidak dipergunakan secara prematur dalam kondisi dimana tidak ada jaminan penghormatan terhadap HHI.”

Baca Juga: Palestina Sambut Baik Resolusi PBB untuk Selidiki Kejahatan Israel

Teknologi cyber, sistem persenjataan yang dikendalikan dari jarak jauh, dan sistem persenjataan robot adalah sebagian dari beberapa teknologi persenjataan baru yang akan menjadi inti dari perdebatan. Apakah mungkin memastikan bahwa serangan melalui dunia maya dapat dikontrol dan tidak bersifat tanpa pandang bulu? Apa status mereka yang mengoperasikan pesawat-pesawat dari jarak ribuan mil jauhnya darimedanperang? Mampukah robot mengikuti prinsip pembedaan yang disyaratkan dalam hukum humaniter internasional?

Teknologi baru bisa memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap penduduk dan infrastruktur sipil, misalnya dengan mengambil langkah pencegahan yang lebih baik atau menggunakan tingkat presisi yang lebih akurat dalam melakukan serangan. Namun teknologi tersebut memiliki risiko. Pada akhirnya, kesesuaian teknologi tersebut dengan hukum humaniter internasional akan sangat tergantung pada penggunaan konkret yang menjadi tujuannya, dengan demikian para pihak atau individu yang terlibat dalam konflik yang mempergunakannya adalah yang bertanggung jawab.

Ada sedikit keraguan bahwa teknologi baru tersebut, seperti teknologi-teknologi baru sebelumnya, tengah mengubah lanskap perang. Dan sebagaimana dulu perang udara harus sesuai dengan kerangka hukum humaniter internasional yang ada ketika pertama kali dipergunakan pada abad ke-20, demikian juga halnya bahwa teknologi-teknologi baru abad ke-21 harus mematuhi aturan-aturan dasar terkait alat dan metode peperangan.

Menjadikan Teknologi Perkembangan Persenjataan Militer Sebagai Persaingan Yang Sehat

Seperti yang kita ketahui, pada masa yang dimana peperangan dihentikan dan dilarang di seluruh negara membuat banyak negara ingin tetap bersaing dengan sehat. Seperti Pesta Olahraga Militer Dunia, sebuah lomba multi-olahraga untuk anggota olahraga militer, yang dihimpun oleh Dewan Olahraga Militer Internasional, The Tank Biathlon World Championship, adalah sebuah perlombaan militer besar, yang dimulai setelah pembukaan Pertandingan Tentara Internasional berskala besar di Moskow, Rusia, International Army Games 2021 yang sedang dipersiapkan oleh Rusia sebagai tuan rumah. Kementerian Pertahanan Rusia juga baru saja mengumumkan keikutsertaan beberapa negara debutan dalam kompetisi ini, salah satunya adalah Indonesia, dan The Australian Army Skill at Arms Meet (AASAM).

Lomba tembak Australian Army Skill at Arms Meet (AASAM) disebut sebagai sebuah ajang unjuk prestasi dan juga sekaligus ajang untuk memperkuat kerja sama militer multilateral. Hal itu disampaikan oleh Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad), Brigjen TNI Candra Wijaya, saat menirukan ucapan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Andika saat menerima laporan kembali kontingen petembak TNI AD di Gedung Serbaguna Mabesad, Jakarta, Kamis (11/4/2019).

Candra mengungkapkan, dalam kesempatan itu, Kasad menyampaikan rasa terima kasih dan bangganya atas keberhasilan kontingen Indonesia. Menurutnya, prestasi tersebut tidak hanya mengharumkan nama Angkatan Darat semata, namun juga bangsa Indonesia di forum internasional.

“Sebagaimana ditekankan Kasad, AASAM merupakan ajang untuk unjuk prestasi dan profesionalisme prajurit sekaligus wahana untuk memperkuat komunikasi dan kerja sama militer yang bersifat multilateral,” ungkapnya.

Pada umumnya, perkembangan senjata masa Perang Dunia dan Perang Dingin menimbulkan kekhawatiran masyarakat internasional tentang meletusnya sebuah perang yang menggunakan senjata pemusnah massal.

Jadi, perkembangan teknologi persenjataan bukan saja menjadi alat untuk memecah belah, tetapi juga dapat digunakan sebagai pencegahan terhadap konflik-konflik besar seperti perang, yang di mana tentu saja jauh lebih baik.
Kita sebagai warga negara Indonesia yang dari awal menjunjung tinggi perdamaian sebagaimana isi pembukaan UUD 1945 yang menyatakan Indonesia menentang segala bentuk penjajahan terhadap dunia harus selalu mencari jalan menuju kedamaian tanpa konflik. Dengan begitu, terwujudlah dunia yang damai, aman dan tentram.

Oleh: Syahbandi, Siswa SMAN 1 Pontianak

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed