by

Mantan Napiter: Tren Perempuan Jadi Teroris karena Lebih Militan

-Kabar Puan-35 views

Kabar Damai | Senin, 05 April 2021

 

Jakarta | kabardamai.id | Mantan narapidana teroris Haris Amir Falah, mengungkapkan para pelaku teror bom di depan Gereja Katedral Makassar Sulawesi Selatan dan serangan di Mabes Polri merupakan orang-orang dari jaringan lama. Jaringan lama teroris itu, kata Haris, memang seringkali mengadakan kelompok kajian di Makassar.

Baca Juga : Surat Wasiat Jihadis dan Ideologi Islamis

“Ini sel lama. Ini orang-orang yang rutin mengadakan kajian di Makassar,”  ujar Haris dalam Diskusi Polemik MNC Trijaya “Bersatu Melawan Teror”, Sabtu (3/4).

Melansir suara.com (3/4), Haris mengungkapkan, jaringan lama yang dia maksud adalah Jamaah Ansharut Daulah alias JAD yang berbaiat kepada ISIS.

Haris  mengungkapkan, ada dua tempat di Makassar yang rutin dijadikan tempat teroris melakukan pembinaan kepada calon-calon pengantin, atau pelaku bom bunuh diri.

Selain di Makassar, ada tempat-tempat pertemuan kelompok JAD di sejumlah daerah Indonesia.

“Ada dua tempat yang memang rutin dijadikan tempat oleh mereka untuk melakukan pembinaan dan kemudian, pada saat yang tepat, mereka melakukan aksi. Selain di Makassar, ada tempat-tempat lain juga,” terang dia.

Haris mengakui, jaringan JAD bersifat sel tertutup. Artinya, setiap kelompok JAD di satu daerah dengan wilayah lain tidak saling mengetahui, baik anggota maupun pemimpinnya.

Namun, setiap sel itu disatukan dengan akar pemikiran ekstrem yang satu. Para pembina juga rutin melakukan pengajaran kepada setiap anggota. Selain itu, kata Haris, tren yang tampak kekinian adalah jaringan JAD merekrut kaum perempuan.

“Sebab, perempuan dianggap kaum militan dalam menjalankan aksi teror.”

Tren seperti itu, kata Haris, baru dilakukan oleh kelompok teror JAD. Dulu, ketika ia masih aktif dalam jaringan teroris, kelompoknya tidak pernah membina perempuan.

Eks pimpinan Jamaah Anshorud Tauhid (JAT) itu mengingatkan semua pihak untuk berperan memberantas paham radikal. Dengan begitu, tindakan teror bisa berkurang di Indonesia.

“Kita harus punya kesepakatan untuk memberantas ini (paham radikal, red) semua, karena daya rusaknya itu sangat luar biasa,” beber Haris Amir Falah, kutip jpnn.com (3/4).

 

Tulis Buku Hijrah dari Radikal ke Moderat

Haris Amir Falah sendiri pernah mengungkapkan kisah hidupnya yang dekat dengan para tokoh radikal dan teroris. Kini, ia sadar dan berkomitmen hijrah dari radikal ke moderat.

Bagi dia, Nahdlatul Ulama sudah tidak asing dalam hidupnya. Sebab, ia terlahir dari keluarga yang seratus persen Nahdliyin.

Hal tersebut diungkapkannya dalam Seminar Kebangsaan yang digelar Lembaga Dakwah (LD) NU Kabupaten Bekasi bekerja sama dengan Mabes Polri, di Pesantren An-Nadwah, Desa Lambangsari, Tambun Selatan, Bekasi, 26 Oktober 2019 lalu.

“Sejak 1983 hingga 2010, saya sempat tersesat. Sehingga tidak bisa melestarikan budaya-budaya keislaman seperti keluarga saya. Tahun 1983 itu saya mulai berkenalan dengan kelompok radikal. Dua tahun kemudian saya jadi radikal,” kata Haris, seperti dikutip nu.or.id (20/10/2019).

Dipaparkan laman PBNU, menyebut bahwa Haris berkenalan dengan paham radikalisme bermula saat ia sekolah di SMAN 46 Jakarta. Dalam bukunya berjudul Hijrah dari Radikal ke Moderat, ia menuangkan pengalaman pribadinya hingga terjerumus ke dalam lingkaran terorisme.

“Di akhir hidup saya yang saat ini berusia 54 tahun, saya ingin menghapus jejak radikalisme dalam hidup saya. Sebab, hampir semua gerakan radikal di negeri ini, saya adalah pendirinya. (Dan) itu saya tuangkan dalam buku,” ungkapnya. [ ]

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Editor: –

Sumber: jpnn.com | nu.or.id

 

 

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed