by

Malala Yousafzai, Aktivis Perempuan yang Berani Menentang Taliban

Kabar Damai I Jumat, 03 September 2021

Jakarta I kabardamai.id I Malala Yousafzai menjadi gadis penerima Nobel Perdamaian di usia yang cukup muda. Hal ini didapatkannya karena menentang Taliban di Pakistan dan menuntut agar para wanita diizinkan untuk menerima pendidikan.

Tidak heran pada 2014, ketika ia mendapatkan penghargaan tersebut, ia dinobatkan sebagai salah satu perempuan paling berpengaruh di dunia. Perempuan kelahiran 12 Juli 1997 ini, juga dikenal sebagai aktivis pembela pendidikan global dan perempuan.

Pada 9 Oktober 2012, seorang pria bersenjata menembak Yousafzai ketika dia dalam perjalanan pulang dari sekolah. Dia selamat dan terus berbicara tentang pentingnya pendidikan. Pada tahun 2013, gadis muda itu mendapatkan kesempatan untuk berpidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan menerbitkan buku pertamanya berjudul I Am Malala.

Malala bersekolah di sekolah yang didirikan ayahnya, Ziauddin Yousafzai. Setelah Taliban mulai menyerang sekolah perempuan di kampung halamannya, Malala berpidato di Peshawar, Pakistan, pada September 2008.

Judul pidato yang disampaikan adalah “Berani-beraninya Taliban mengambil hak dasar saya untuk menerima pendidikan

Pada awal 2009, ketika dia baru berusia 11 tahun, Malala mulai menulis blog di BBC tentang hidup di bawah ancaman Taliban yang membatasi haknya untuk memperoleh pendidikan. Dia menggunakan nama samaran Gul Makai. Namun, Malala terungkap menjadi blogger BBC pada bulan Desember di tahun yang sama.

Dengan platform publik yang berkembang, Malala terus berbicara tentang haknya, dan hak semua wanita, atas pendidikan. Aktivismenya menghasilkan nominasi untuk Penghargaan Perdamaian Anak Internasional pada tahun 2011.

Pada tahun yang sama, dia dianugerahi Penghargaan Perdamaian Pemuda Nasional Pakistan. Malala dan keluarganya mengetahui bahwa Taliban telah mengeluarkan ancaman kematian terhadapnya. Kendati demikian, Malala lebih takut akan keselamatan ayahnya, yang merupakan aktivis anti Taliban.

Baca Juga: Sosok Inspiratif Zarifa Ghafari, Wali Kota Perempuan Termuda Afghanistan yang Diancam Taliban

Pada awalnya, dia tidak benar-benar memikirkan bahwa Taliban akan membahayakan seorang anak. Namun faktanya, Malala tetap mendapatkan ancaman dan percobaan pembunuhan.

Kehidupan awal Malala sebelum Taliban hadir,  begitu menyenangkan sebab tempat tinggalnya merupakan destinasi wisata populer dan dikenal dengan festival musim panasnya.

Semua itu berubah ketika kelompok Taliban mencoba menguasai daerah tersebut. Usia Malala masih 10 tahun ketika Taliban mulai mengendalikan Swat Balley dan menjadi dominan di bidang politik dan sosial.

Taliban melarang perempuan bersekolah dan kegiatan budaya seperti menari, bahkan menonton televisi juga tidak diperbolehkan. Serangan bom bunuh diri menyebar dan hingga akhir 2008, Taliban menghancurkan sekitar 400 sekolah.

Namun, setelah Taliban mulai menyerang sekolah perempuan di Swat, dia menyampaikan pidato di Peshawar pada September 2008. Pidato pertamanya itu berjudul “Betapa beraninya Taliban merampas hak dasarnya untuk bersekolah?”.

 

Menjadi Korban Penembakan Taliban

Tidak semua orang menyambut baik usaha Malala memperjuangkan pendidikan bagi anak perempuan. Pada 9 Oktober 2012, remaja berusia 15 tahun itu ditembak oleh Taliban. Dia duduk di bus menuju rumah dari sekolahnya. Malala sedang mengobrol dengan teman-temannya tentang PR sekolah. Lalu, dua anggota Taliban menghentikan bus

Seorang pemuda Taliban memanggil nama Malala dan menembak tiga kali ke arahnya. Satu peluru menembus kepalanya dan bersarang pada bahunya. Malala terluka serius. Pada hari yang sama, dia dibawa ke rumah sakit militer Pakistan di Peshawar.

Empat hari selanjutnya, dia diterbangkan ke Birmingham, Inggris, untuk menerima perawatan intensif. Meski memerlukan banyak operasi, termasuk perbaikan saraf wajah untuk memperbaiki sisi kiri wajahnya yang lumpuh, dia tidak menderita kerusakan otak besar.

Pada Maret 2013, dia mulai bersekolah di Birmingham. Atas penembakan itu, dukungan besar-besaran mengalir kepadanya.

 

Memberikan Pidato di PBB

Sembilan bulan setelah ditembak oleh Taliban, Malala memberikan pidato di PBB pada ulang tahunnya yang ke-16 tahun 2013. Dia menyoroti pentingnya pendidikan dan hak-hak perempuan serta mendesak para pemimpin dunia untuk mengubah kebijakan mereka. Setelah serangan itu, Malala mengatakan bahwa:

“teroris mengira bahwa mereka akan mengubah tujuan kami dan menghentikan ambisi kami, tetapi tidak ada yang berubah dalam hidup saya kecuali ini: kelemahan, ketakutan, keputusasaan mati, kekuatan, dan keberanian lahir.”

 

Menerima Hadiah Nobel Perdamaian

Pada Oktober 2013, Parlemen Eropa menganugerahi Malala Hadiah Sakharov untuk Kebebasan Berpikir sebagai pengakuan atas karya dan keberaniannya. Pada Oktober 2014, Malala menjadi orang termuda yang menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada usia 17 tahun.

Dia menerima penghargaan tersebut bersama dengan aktivis hak anak-anak dari India, Kailash Satyarthi. Pada April 2017, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres menunjuk Malala sebagai Utusan Perdamaian PBB untuk mempromosikan pendidikan anak perempuan.

Dia juga diberi kewarganegaraan kehormatan Kanada pada April 2017. Dia adalah orang keenam dan termuda dalam sejarah yang menerima kehormatan tersebut.

 

Mendukung Kesetaraan

Malala Cover Vogue
Malala menjadi cover majalah Vogue

 

Yousafzai sekarang berusia 23 tahun. Ia baru saja lulus dari Universitas Oxford dengan gelar di bidang politik, filsafat, dan ekonomi.

Baru-baru ini Yousafzai meluncurkan rumah produksinya sendiri, Ekstrakurikuler. Ini adalah kesepakatan multi-tahun dengan AppleTV + yang akan menayangkan film dokumenter tentang pendidikan anak perempuan dan hak-hak perempuan, komedi, animasi, dan serial anak-anak.

“Saya tahu kekuatan yang dibawa oleh seorang gadis muda di dalam hatinya,” cuit Malala Yousafzai di akun Twitter-nya seperti dikutip dari CNN, Rabu, 2 Juni 2021.

Dalam wawancaranya, Yousafzai menggambarkan jilbabnya sebagai simbol budaya bagi orang-orang Pashtun, mengacu pada kelompok etnis mayoritas muslim Sunni dari mana dia berasal.

“Gadis muslim atau gadis Pashtun atau gadis Pakistan, ketika kami mengikuti pakaian tradisional kami, kami dianggap tertindas, atau tidak bersuara, atau hidup di bawah patriarki,” katanya.

“Saya ingin memberi tahu semua orang bahwa kamu dapat memiliki suaramu sendiri dalam budayamu, dan kamu dapat memiliki kesetaraan,” tutur Malala Yousafzai.

 

Prihatin dengan hak perempuan Afghanistan

Dikutip dalam artikelnya yang diterbitkan di The New York Times, Selasa (17/8/2021), Malala Yousafzai menuliskan keresahannya terhadap kekuasaan Taliban di Afghanistan.

Ia mengaku ikut prihatin terhadap hak-hak perempuan di Afghanistan yang ikut terancam akibat kekuasaan Taliban.

“Saya takut untuk saudara perempuan Afghanistan saya. Kita akan punya waktu untuk memperdebatkan apa yang salah dalam perang di Afghanistan, tetapi di saat kritis ini kita harus mendengarkan suara-suara perempuan dan anak perempuan Afghanistan.”

“Mereka meminta perlindungan, pendidikan, kebebasan dan masa depan yang telah dijanjikan,” ujar Malala, dalam artikelnya yang diterbitkan di The New York Times.

“Kita tidak bisa terus mengecewakan mereka. Kita tidak punya waktu luang,” tambahnya.

Untuk itu, ia tidak bisa membayangkan nasib perempuan Afghanistan yang hidupnya terbatas akibat kekejaman Taliban.

“Saya bersyukur atas hidup saya sekarang. Setelah lulus dari perguruan tinggi tahun lalu dan mulai mengejar karir sendiri.”

“Saya tidak bisa membayangkan kehilangan semuanya, kembali ke kehidupan saya yang diatur orang bersenjata,” lanjutnya.

“Gadis-gadis dan wanita muda Afghanistan, seperti yang saya alami, putus asa memikirkan bahwa mereka tidak mungkin lagi melihat ruang kelas atau memegang buku lagi,” katanya.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Diolah dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed