by

Makna Wali dalam Perspektif Adil Gender

Kabar Damai I Minggu, 05 September 2021

Kulon Progo I Kabardamai.id I Pernikahan merupakan fase dimana yang dua menjadi satu. Didalamnya, terdapat kesepakatan dan juga proses yang matang hingga sampai pada ikatan suami dan istri.

Namun, nyatanya dalam pernikahan khususnya dari pihak perempuan, keberadaan wali sangatlah penting. Bahkan, Islam mengaturnya pula. Hal ini dijelaskan oleh Drs H. Djamaah, MA, Penghulu Kantor Urusan Agama Kecamatan Temon di Kulon Progo.

“Dalam proses perkawinan tidak dapat dipisahkan dengan yang namanya wali. Seperti sabda Rasulullah yang artinya ‘nikah ini tidak sah ketika tidak disempurnakan dengan wali dan disaksikan saksi,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan, pengertian wali secara bahasa Arab yang artinya bisa dimaknai atau diartikan sebagai pemimpin, pelindung atau yang semakna dengannya. Dimana ketika seorang wanita atau laki-laki yang menikah maka tidak bisa dilepaskan dengan yang namanya wali. Bahkan, mayoritas mazhab menyampaikan bahwa wali itu adalah rukun tanpa wali maka nikah tidak sah.

“Dibeberapa negara yang menganut mazhab Hanafi juga wujudnya sama dalam hal yang krusial tidak bisa dilepaskan dengan yang namanya wali dan semua sepatat. Tiada perintah Allah kepada Nabi Muhammad yang ketika diperintah atau dilarang maka disitu ada hikmah,” tambahnya.

Ketika hendak menikah, menurut H. Djamaah seorang perempuan haruslah mengutarakan niatnya kepada wali.

“Berbicara tentang wali terkesan sebagai penasehat, pelindung. Khususnya calon mempelai perempuan yang mayoritas untuk pertimbangan matang dalam menentukan jodoh sehingga kedepannya tepat dan tidak berakhir dengan malapetaka,”.

Baca Juga: Malala Yousafzai, Aktivis Perempuan yang Berani Menentang Taliban

“Maka perlu dalam menentukan jodoh pertimbangan khususnya perempuan untuk menyampaikan kepada walinya agar bisa memberikan saran dan tepat,” jelasnya.

Ia kembali menambahkan, perwalian dalam pernikahan dapat diartikan sebagai perlindungan seorang bapak atau seorang orang tua kepada anak perempuannya ketika mau menikah. Maka, peran perlindungan ini penting sehingga kedepan harapan keluarga maka harapan sakinah, mawadah dan warahmah dapat diperoleh.

Selanjutnya wali juga bisa diartikan sebagai upaya kedepan saat pilihan seorang perempuan keliru. Disini peran wali masuk, tentu setelah menikah ada upaya komunikasi dan tidaklah patut ketika ditinggalkan.

“Seorang wanita dalam kodrat keluarga tetap menyambung silaturahmi yang baik denga wali sampai dengan meninggal,” imbuhnya.

Djamaah juga menuturkan peranan wali bagi seorang perempuan utamanya ketika hendak menikah.

“Wali juga berperan sebagai negosiator, fasilitator. Didalam Islam ketiak hitbah hingga proses pernikahan walaupun posisi perempuan adalah posisi berdiam tapi wali memberikan gambaran yang paling depan ketika ada negosiasi atau menjawab tawaran saat meminang,” tuturnya.

Dalam Islam, pernikahan sangat sakral. Tidak hanya laki-laki dan perempuan (mempelai-red) tapi wali juga menempati kesakralan pernikahan. Kesan bahwa wali nikah adalah tanggung jawab final dari pengasuhan anak.

“Dengan adanya wali dalam pernikahan dapat memperkuat hubungan dalam berkeluarga, artinya dimanapun dia berada dan jelas adanya maka tidak bisa tergantikan yang lain,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed